Suriah dan Israel berdamai

Kantor Kemhan Suriah di Damaskus dibombardir pesawat Israel, Rabu (16/7) dalam aupaya negara Yahudi itu mendukung minoritas sekte Druze. (foto: Reuters)

ISRAEL dan Suriah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah pesawat pesawat negara Yahudi itu melancarkan serangkaian serangan dalam konflik sektarian antara pasukan pemerintah Suriah dan kelompok-kelompok bersenjata.

Israel melancarkan serangan udara ke Damaskus, Suriah, Rabu (16/7). Motifnya disebut untuk melindungi suku minoritas Druze dukungannya yang tengah bentrok dengan suku Badui yang didukung pasukan pemerintah Suriah.

Serangan udara Israel tersebut dilaporkan menghancurkan sebagian gedung kementerian pertahanan Suriah dan menghantam lokasi dekat istana presiden di pusat ibu kota, Damaskus, dan juga menyerang posisi milisi Badui di dekat basis pasukan Druze di kota Sweida.

Suku Druze menurut Encyclopedia Britannica, adalah kelompok minoritas keagamaan di Timur Tengah di Lebanon, Suriah dan Israel yang populasinya  pada awal Abad ke-21 mencapai lebih satu juta orang.

Mereka menyebut dirinya muwaḥḥidūn (unitarian) dan berbicara dalam bahasa Arab, di mana sebelumnya kelompok keagamaan Druze berasal dari Mesir yang merupakan cabang Syiah Ismailiyah.

Di era Khalifah Fatimiyah keenam, Al-Hakim bi-Amrillah yang memerintah pada 996-1021 Masehi, beberapa teolog Ismailiyah mengorganisir sebuah gerakan yang menyatakan al-Hakim sebagai sosok ilahi.

Gerakan yang dilancarkan secara terbuka pada 1017 yang menyebabkan kerusuhan di Kairo, dan gagasan tersebut dikutuk oleh lembaga keagamaan Fatimiyah yang menyatakan al-Hakim dan pendahulunya memang diangkat oleh Tuhan tetapi mereka bukan ilahi.

Kesepakatn damai

Kesepakatan damai diumumkan Utusan Khusus Amerika Serikat (AS) untuk Suriah, Tom Barrack, pada Sabtu (19/7) melalui platform media sosial X.

Barrack menegaskan, perjanjian gencatan senjata mendapat dukungan dari Turkiye, Yordania, dan sejumlah negara tetangga lainnya, sebagaimana dilansir Newsweek.

“Kelompok Druze, Badui, dan Sunni diminta untuk meletakkan senjata mereka dan bersama-sama membangun identitas Suriah yang baru, bersatu dalam perdamaian dan kesejahteraan dengan negara-negara tetangganya,” ujar Barrack.

Konflik terbaru pecah di Sweida, Suriah selatan, ketika bentrokan meletus antara kelompok Druze dan klan Badui.

Awalnya, pasukan pemerintah Suriah turun tangan untuk memulihkan ketertiban.  Namun, situasi memanas ketika mereka  diketahui memihak suku Badui yang berseberangan dengan penduduk Druze.

Situasi ini memicu respons dari Israel yang melancarkan puluhan serangan udara ke Suriah, bahkan menyerang markas Kementerian Pertahanan di Damaskus. Diketahui, komunitas Druze memiliki kehadiran signifikan di Israel.

Milisi Druze selama ini dikenal sebagai minoritas yang loyal, dengan banyak anggota dari kelompok tersebut yang bertugas di satuan militer Israel, semetara sekitar setengah juta warga Druze tinggal di wilayah Suriah.

Kesepakatan damai yang dimediasi AS, Turkiye an negara negara Arab memungkinkan faksi-faksi Druze mengamankan wilayahnya sendiri sementara pasukan pemerintah Suriah mundur.

Namun, ketegangan kembali meningkat pada Kamis (17/7/2025), sehingga memaksa Presiden interim Suriah Ahmad Al-Sharaa untuk mengerahkan kembali pasukan ke Sweida demi meredam kekerasan yang terus berlanjut.

Hingga saat ini, situasi di lapangan masih terus dipantau oleh komunitas internasional, termasuk AS dan negara-negara kawasan, guna memastikan gencatan senjata dapat bertahan dan konflik tidak kembali pecah.

Bagi rezim dan rakyat Suriah yang baru menghirup perdamaian setelah konflik militer berkepanjangan sejak kepemimpinan Presiden Bashar Al-Assad pada 2013, gencatan senjata agaknya pilihan terbaik. (Newsweek/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here