Suriah: Gempa di Tengah Perang

Misi bantuan asing sulit mengakses wilayah terdampak gempa di Suriah, karena perang antara pasukan pemerintah dan pemberontak masih berkecamuk, padahal para korban dan pengungsi memerlukan bantuan medis, makanan dan obat-obatan.

ENTAH apa yang ada di benak para elite dan pemimpin Suriah, di saat ribuan rakyatnya meregang nyawa terjebak di reruntuhan bangunan akibat gempa (6/2 lalu), konflik militer antara pasukan pemerintah dan pemberontak tetap berlangsung.

Sampai hari ketujuh, Minggu (12/2) jumlah korban gempa dengan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah kedua negara, sudah menewaskan 34.179 orang (Turki 29.605 orang dan Suriah 54.574 orang).

Jumlah korban seluruhnya diperkirakan dua kali lipatnya, mengingat banyak korban yang masih terperangkap di  bawah reruntuhan atau puing-puing bangunan dan material, sedangkan yang terluka juga tercatat puluhan ribu orang.

Upaya penyelamatan korban juga semakin sulit, karena di bawah udara membeku dan juga tanpa makanan dan minuman ditambah tipisnya pasokan oksigen, batas kemampuan mereka bertahan hidup juga terus anjlok.

Di Suriah, bantuan untuk menyelamatkan korban, juga pasokan pangan, minuman dan obat-obatan bagi sekitar 900-ribu pengungsi juga tersendat-sendat akibat konflik bersenjata antara pasukan pemerintah dan pemberontak.

Paket bantuan ke wilayah Idlib, Minggu (12/2 terpaksa dibatalkan karena pemerintah secara mendadak mencabut izin pengangkutan untuk melintasi kawasan yang dikuasai tentara mereka .

Dengan berbagai dalih sejak pecah konflik pada 2011, pemerintah melarang bantuan asing ke wilayah yang dikuasai pemberontak yakni Aleppo dan Idlib yang dengan wilayah yang dikuasai pemerintah yakni Hama, Latakia dan Tartus, diguncang gempa (6/2) lalu.

Konflik sipil di Suriah pecah sejak 2011 sebagai dampak gelombang perubahan di Timur Tengah (Arab Spring) ditandai pasca meninggalnya diktator Hafez al-Assad (1971 – 2000) dan muncul ketidakpuasan atas kepemimpinan anaknya, Bashar al- Assad (2000 – sampai sekarang).

Selain melawan gabungan pemberontak Suriah (SNA),  rezim pemerintah juga harus memerangi milisi etnis Kurdi (PKK) yag didukung Turki dan AS dan juga milisi ISIS.

Diperkirakan sekitar 250-ribu orang tewas sejak sekitar 12,5 tahun berkecamuknya konflik berkepanjangan di wilayah Suriah, sedangkan 10 juta warganya mengungsi, terbanyak di Turki (sekitar 3,6 juta orang) selebihnya tersebar di sejumlah negara.

“Gajah lawan gajah berkelahi, pelanduk mati di tengahnya, “ ungkap pepatah lawas. Nasib rakyat Suriah kurang beruntung, “bak jatuh tertimpa tangga pula”. Terperangkap gempa dan perang. (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement