
NAFSU angkara murka atau syahwat untuk berlomba-lomba mengembangkan senjata pemusnah nuklir yang sudah mereda di era “détente” dan pasca Perang Dingin (PD) lalu, agaknya kini kumat lagi.
Gelagatnya? Amerika Serikat, kemudian disusul Rusia, menarik diri dari Traktar Nuklit Jarak Menengah (Intermediate-range Nuclear Forces Treaty – INF) awal Agustus pekan lalu.
INF yang ditandatangani Presiden AS Ronald Reagan dan Presiden Rusia Mikhail Gorbachev di tengah semangat detente atau peredaan keteganga 8 Desember 2987 itu juga berkontribusi mengakhiri PD.
Intinya, pasal-pasal INF memuat larangan kepemilikian rudal-rudal balistik berbasis di darat dengan jangkauan 500 hingga 1.000 Km dan dari 1.000 sampai 5.500 Km.
AS memutuskan menarik diri dari INF karena menilai Rusia diam-diam melanggarnya a.l. dengan mengembangkan rudal jelajah berkode 9M729 atau SSC-8 dengan jangkauan 1.500 Km yang mengancam kekuatan NATO di Eropah.
Rusia sendiri mengaku, jarak jangkau SSC-8 hanya 480 Km sehingga pihaknya menolak memusnahkan rudal-rudal tersebut sesuai tuntutan AS yang dinilai hanya dalih untuk mengembangkan rudal-rudal baru.
Diduga alasan utama AS menarik diri dari INF adalah kecemasannya menyaksikan perkembangan pesat arsenal nuklir China dalam beberapa tahun terakhir ini.
Pernyataan Menhan AS Mark Esper di Australia (4/8) bahwa negaranya dalam waktu dekat akan melakukan uji coba rudal-rudal balistik jarak sedang dan menggelarnya di kawasan Asia Pasifik kemudian menuai reaksi keras China.
Direktur Pengawasan Persenjataan China, Fu Chong (6/8) mengingatkan AS, negaranya tidak akan tinggal diam dan segera akan mengambil aksi balasan jika AS menempatkan rudal-rudalnya di Asia Pasifik.
Pihak Korsel dan Australia sendiri yang merupakan mitra utama AS menyatakan, tidak ditawari AS untuk menjadi lokasi penempatan rudal dan tidak mempertimbangkan kemungkinan itu.
China saat ini diperkirakan memilik 290 hulu ledak nuklir, dibandingkan Rusia dengan 1.600 dan AS 1.750 hulu ledak nuklir, sehingga menolak untuk ikut INF yang diwacanakan oleh AS.
Saat ini ada sembilan negara yang memiliki kekuatan nuklir yakni AS, Rusia, Inggeris, Perancis, China, Korea Utara, India, Pakistan dan Israel.
Sementara itu, di wilayah konflik Semenanjung Korea, Korea Utara dalam dua pekan belakanan ini melakukan auj coba peluncuran empat rudal balistik jarak dekat yang mampu menjangkau seluruh kota di Korsel untuk merespons latihan militer gabungan AS dan Korsel.
Perlombaan senjata nuklir yang merupakan senjata pemusnah massal sangat bertentangan dengan semangat kemitraan dan globalisasi di era now dan menyongsong Revolusi Industri 4.0. (AP/AFP/ns)




