SETELAH Israel yang memiliki sistem pertahanan udara Kubah Besi (Iron Dome) untuk menangkal tembakan mortir, artileri, roket, rudal, dron dan pesawat tempur lawan, Taiwan akan membangun T-Dome yang lebih luas spektrum jangkauannya.
Tidak tanggung-tanggung, untuk membangun sistem pertahanan (hanud) berlapis-lapis guna mengantisipasi serangan Tiongkok, Taiwan mengalokasikan 40 miliar dollar AS atau sekitar Rp666,5 triliun.
Sebagai perbandingan, uang sebanyak itu jumlahnya 2,7 kali lipat dari anggaran pertahanan RI pada 2025 sebesar Rp245,2 triliun.
Berdasarkan laporan Stockholm International Peace Research Institute – SIPRI), total anggaran belanja militer Taiwan pada 2025 tercatat 19,74 miliar dollar AS (Rp329,16 triliun) atau di ranking ke-23 global.
Alokasi anggaran tambahan sebesar 40 miliar dollar AS itu dirancang untuk membangun sistem hanud T-Dome untuk melindungi negeri pulau tersebut dari ancaman jet tempur, rudal hingga dron rezim China daratan.
Jika telah terpasang, Taiwan akan memiliki pertahanan udara berlapis bareng Patriot buatan AS dan Sky Bow produksi dalam negeri.
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, mengatakan bahwa pengembangan T-Dome akan dipercepat guna membangun jaring pengaman nasional di tengah meningkatnya tekanan Beijing.
“Ancaman dari China terhadap Taiwan dan kawasan ini semakin intensif,” ujar Lai, seraya menegaskan pentingnya memperkuat pertahanan pulau demokrasi tersebut.
Spesifikasi T-Dome
Proyek T-Dome kali pertama diumumkan pada 10 Oktober 2025. Sistem ini kerap dibandingkan dengan Iron Dome Israel, tetapi para ahli menilai ada sejumlah perbedaan mendasar.
“Iron Dome fokus pada ancaman jarak pendek, sedangkan T-Dome dirancang menghadapi ancaman yang jauh lebih luas,” kata analis keamanan asal Taipei, J Michael Cole.
Menurut Cole, sistem ini ditujukan mendeteksi dan menetralisasi serangan dari pesawat militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, rudal balistik dan jelajah, serta drone yang kini kian banyak digunakan.
Selain Patriot dan Sky Bow, T-Dome nantinya juga bakal bersanding dengan Sistem Rudal Darat-ke-Udara Nasional (NASAMS) canggih dari “Negeri Paman Sam”.
T-Dome akan mengintegrasikan sistem-sistem tersebut dengan radar, sensor, serta teknologi mutakhir lainnya.
“Tanpa integrasi perangkat-perangkat deteksi ini, rudal pertahanan udara tidak akan mampu melakukan intersepsi secara efisien, baik untuk kontra-tembakan, serangan balik, maupun menghadapi drone,” jelas Menhan Taiwan, Wellington
Menurut pakar militer Institut Penelitian Pertahanan dan Kemanaan nasional di Taipei, T-Dome terdiri dari dua komponen inti, yakni sistem komando dan kendali, serta lapisan pencegat.
“Sistem komando akan mengumpulkan data radar, mengidentifikasi ancaman, menentukan jenis pencegat yang akan digunakan, dan mengoordinasikan semua unit agar bisa bereaksi dalam hitungan detik,” jelas Su.
Perlombaan persenjataan untuk saling memusnahkan antara dua pihak yang saling berseteru, menguras kocek anggaran yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. (AFP/ns)





