
TANTANGAN dari Betara Tembara ternyata sama persis dengan saran pengamat perkotaan dan pengamat lingkungan. Maka setelah memperoleh “pembekalan” dari Betara Tembara, segera Sokrasana kembali ke Ardisekar, menemui kakaknya. Segala petunjuk teknis Betara Tembara disampaikan, agar pihak Magada dan Maespati berkordinasi mempersiapkan infrastrukturnya.
“Kalau begitu saya rangkap jabatan dong. Ya peserta pasang giri, tapi juga penasihat teknis pemindahan Taman Sriwedari.” Kata Bambang Sumantri.
“Iya, mirip pemindahan ibukota RI dari Jakarta ke IKN Nusantara, Kaltim. Di sana pimpronya Bambang Susantono, di sini Bambang Sumantri. Top markotop deh.” Jawab Sokrasana sambil acungi jempol.
Sebagai penasihat teknis segera Bambang Sumantri kontak melalui WA kepada penguasa dua negara tersebut. Prabu Citradarma siap menyulap danau bekas lobang atau galian Taman Sriwedari menjadi daerah wisata halal dan akan ditingkatkan menjadi Daerah Tujuan Wisata. Adapun warga yang terancam kesulitan air bersih, akan segera dibangun jaringan PDAM. Warga akan menjadi pelanggan gratis, karena semua akan ditanggung APBN negeri Magada.
Yang agak bermasalah di negeri Maespati. Meski Prabu Harjuna Sasrabahu menyatakan oke, di lapangan karena tanpa sosialisasi sebelumnya, terjadi banyak penolakan. Apa lagi LSM juga ikut memperkeruh situasi. Penduduk dikompori, jangan mau jika digusur dari tanah leluhurnya tanpa ganti untung. Tambah kacau lagi, dari negara ganti untung diberikan Rp 500.000,- per M2, panitia pembebasan dari onum-oknum agraria bilang Rp 300.000,- Belum apa-apa para ASN calo itu sudah untung Rp 200.000,- per M2.
“Mumpung berkuasa, eksekutip, legislatip dan yudikatip semua pada main.” Keluh wayang akar rumput di Maespati.
“Trispolitika menjelma jadi triaskoruptika.” Kata pengamat politik kelas kampung.
Dengan alasan mengejar waktu, proses pembebasan di Maespati jadi pembayaran terbalik. Artinya, setelah proyek terlaksana baru pembayaran kepada rakyat dilakukan. Sebab terilhami Presiden Jokowi dari Indonesia, Prabu Harjuna Sasrabahu siap memberi ganti untung 3 kali lipat dari apraisal (harga pasaran). Dengan demikian korban gusuran meski tercerabut dari bumi leluhurnya bisa sejahtera di tempat yang baru.
Bambang Sumantri segera cecking ke 2 lokasi, baik di Magada maupun Maespati, semua sudah siap tanpa hambatan. Maka Sokrasana diajak ke Taman Sriwedari dalam rangka memindahkan atau memutarnya langsung ke Maespati. Semua tamu dan undangan sama sekali tak mereken Sokrasana, dikiranya dia sekedar ajudan Bambang Sumantri belaka. Padahal aslinya justru dia yang menjadi penentu peristiwa selanjutnya.
“Akang Atli pula-pula belsemedi, api ebenalnya saya yang kelja,” kata Sokasrana berbisik-bisik.
“Jangan keras, nanti masuk Toa lho. Gagal deh misa kita.” Jawab Sumantri.
“Nggak bakalan, Toa-nya aru diinjam Fikli Baleno MUI.”
Demikianlah, ketika Bambang Sumantri mengheningkan cipta sambil bersidekap, diam-diam Sokrasana kontak ke Betara Tembara di kahyangan. Ini menit-menit yang mendebarkan, sebab Prabu Citradarma, Dewi Citrawati dan panita pelaksana Tumenggung Bego Mangsah semua menahan napas; gagal atau sukses aksinya Bambang Sumantri.
Tiba-tiba bumm……..! Tanah dan Taman Sriwedari yang hanya semeter dari posisi Bambang Sumantri tiba-tiba bergerak dengan kuat laksana digoyang 10 SR. Bambang Sumantri terpental, lalu seluruh komplek Taman Sriwedari terangkat ke atas dan terbang entah ke mana. Bekasnya menjelma menjadi sebuah danau, yang tiba-tiba saja penuh dengan air.
“Selamat Bambang Sumantri, kamu memang oye.” Puji Prabu Citra Darma sambil merangkul sang pemenang.
“Maaf, yang oye Ki Manteb Sudharsono, tapi beliaunya sudah meninggal.” Jawab Bambang Sumantri berbisik.
Semua orang mengelu-elukan Bambang Sumantri, sementara Sokasrana menyelinap pergi dan langsung ke Maespati diam-diam untuk mengecek apakah sudah sesuai rencana. Ternyata di sana juga sama hebohnya. Di daerah cekungan yang sudah dikosongkan penghuninya itu tiba-tiba makjleggg…….hadirlah sebuah taman kota yang konon namanya Taman Sriwedari pindahan dari Magada. Bukannya kembang-kembang dan pohon besar saja, bahkan Satpam dan juru taman pun juga terbawa sekalian.
Perpindahan Taman Sriwedari ke Maespati tempat barunya, juga menimbulkan goncangan besar laksana gempa tektonik. Istana kerajaan Maespati ikut goyang, bahkan retak. Raja dan penduduk sama sekali tidak tahu bahwa itu ada tangan dan perjuangan Sokrasana adik sang pemenang, Bambang Sumantri.
“Terima kasih Bambang Sumantri, Taman Sriwedari sudah berhasil diputar dan tiba di Maespati dengan selamat. Ada sedikit goncangan, tapi nggak papa.” Kata Prabu Harjuna Sasrabahu saat angkat telepon untuk Bambang Sumantri.
“Sinuwun Prabu Harjuna, Dewi Citrawati baru besok tiba di Maespati bersama saya. Nggak papa kan?”
“Ya ngga papa. Habis Lebaran nanti juga nggak papa,” jawab Prabu Harjuna Sosrobahu sok sabar, padahal batinnya kepengin buru-buru mbelah duren montong.
Prabu Harjuna Sasrabaru sama sekali tak sadar dan tak melihat bahwa Sokasrana aktor intelektualnya ada di celah-celah kembang dan pot besar pertamanan itu. Setelah pemindahan Taman Sriwedari tepat dan presisisi sesuai rencana, buru-buru Sokrasana ke kahyangan Sela Mangumpeng, ketemu Betara Tembara.
“Telima asih Oom Tembala, Taman Sriwedali telah belhacil dipindah sesuai rencana,” kata Sokasrana sambil cium tangan Betara Tembara.
“Siapa dulu dong dewanya, he he he…..”, jawab Betara Tembara sembari tertawa.
(Ki Guna Watoncarita)


