
KEPUTUSAN Presiden Amerika Serikat menurunkan tarif bea masuk (BM) impor ke negara itu dari sejumlah negara termasuk Indonesia, bisa membuka peluang, sekaligus ancaman bagi Indonesia.
Tarif BM baru yang diberlakukan mulai 1 Agustus nanti beragam, misalnya untuk negara-negara ASEAN: Indonesia 19 persen, Singapura terendah (10 persen), Vietnam 20 persen, Malaysia 25 persen, Kamboja dan Thailand 36 persen, sementara Laos 40 persen.
Keputusan Trump tersebut dirspons sjumlah pengamat ekonomi a.l. Bhima Yudistira Adhinegara dari Center of Economic and Law Studies (Celios).
Kepada ANTARA (16/7) Bhima mengingatkan, meski tarif produk ekspor Indonesia ke AS diturunkan menjadi 19 persen, kebijakan ini bisa menjadi pedang bermata dua.
“Tarif 19 persen untuk produk kita mungkin terdengar positif, tapi di saat yang sama, AS mendapat fasilitas tarif nol persen untuk masuk ke pasar Indonesia. Ini bisa menjadi risiko besar bagi sejumlah sektor,” kata dia.
Ia mencontohkan, salah satu sektor yang paling rentan terkena imbas dari kesepakatan ini adalah pangan, khususnya gandum.
Dengan dikenakannya tarif nol persen, produk gandum asal AS akan lebih mudah masuk ke Indonesia. “Dari sisi konsumen memang mungkin menyenangkan. Harga mie instan dan roti bisa lebih murah. Tapi jangan lupa, dampaknya ke petani dan industri pangan lokal bisa cukup parah,” ujar Bhima.
Bhima mencatat, selama 2024 saja, nilai impor Indonesia dari AS untuk lima komoditas utama—migas, produk farmasi, serealia dan gandum, suku cadang pesawat, serta produk elektronik—telah mencapai 5,37 miliar dollar AS atau sekitar Rp 87,3 triliun.
“Kita harus waspada terhadap potensi lonjakan impor dari AS. Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa berpengaruh negatif terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia,” tegasnya.
Kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat ini diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump pada Selasa (15/7).
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebutnya sebagai “kesepakatan luar biasa untuk semua pihak”.
“Saya bernegosiasi langsung dengan presiden mereka yang sangat dihormati,” tulis Trump, merujuk pada Presiden RI Prabowo Subianto.
Tarif impor produk Indonesia dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen, sebaliknya AS mendapat jaminan pembebasan penuh dari hambatan tarif maupun non-tarif ketika mengekspor produknya ke Indonesia.
Tak hanya itu, Indonesia juga disebut telah menyetujui pembelian energi dari AS senilai 15 miliar dollar AS (setara Rp 244 triliun), serta produk agrikultur sebesar 4,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 73 triliun).
Namun, dalam perjanjian itu juga ditegaskan bahwa jika Indonesia mengekspor produk dari negara ketiga yang tarifnya lebih tinggi ke pasar AS, tarif 19 persen tetap diberlakukan.
Bhima menilai bahwa penurunan tarif yang didapat Indonesia masih belum cukup kompetitif dibandingkan negara tetangga.
“Vietnam saja bisa menurunkan tarif dari 46 persen ke 20 persen. Sementara Indonesia hanya dari 32 ke 19 persen.
Jadi Indonesia, meurut Bhima, seharusnya bisa melakukan negosiasi lebih agresif agar tarif lebih rendah lagi,” katanya.
Mengingat potensi terbukanya keran impor yang lebih besar, Bhima menyarankan agar pemerintah segera mengambil langkah antisipatif.
Ia menekankan pentingnya memperkuat sektor-sektor strategis dalam negeri, termasuk pangan dan industri manufaktur, guna menghindari ketergantungan berlebihan terhadap produk impor.
“Pasar terbuka itu baik, tapi tanpa proteksi dan penguatan domestik, bisa jadi bumerang,” pungkas Bhima.
Untungkan AS
Sementara itu, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su kepada Metro TV mengemukakan, kesepakatan yag dibuat RI dan AS itu hanya menguntungkan AS semata.
“Secara garis besar, kesepakatan ini sangat menguntungkan AS, karena Indonesia akan membuka seluruh pasarnya bagi produk-produk dari AS,” ucap Harry dalam keterangan tertulis, (16/7).
Harry menuturkan sari sudut pandang perdagangan ekspor Indonesia ke AS, kesepakatan ini mungkin tidak terlalu merugikan karena para pesaing Indonesia di pasar AS akan dikenakan tarif serupa atau bahkan lebih tinggi.
Selain itu, tarif impor yang diberlakukan AS sebenarnya dibayar oleh konsumen di AS, bukan oleh produsen di Indonesia.
Masalah besar, katanya, justru muncul dari sisi sebaliknya, produk-produk asal AS yang akan masuk ke pasar Indonesia dengan tarif nol persen.
Harry mengatakan salah satu kekhawatiran utama adalah masuknya daging ayam dari AS. Jika hal ini terjadi tanpa pembatasan, industri perunggasan lokal Indonesia terancam kolaps.
“Implikasinya sangat serius. Sekitar lima juta lapangan kerja di sektor ini bisa hilang dalam waktu singkat,” ramal dia.
Untuk itu, pemerintah dan pelaku pasar harus terus mengamati dan memitigasi untung-ruginya kebijakan Trump tersebut terhadap dunia usaha dalam negeri ke depannya. (ANTARA,Metro TV/ns)




