
PENEMUAN objek antarbintang seperti 3I/ATLAS bukan sekadar catatan astronomi baru, melainkan bukti ilmiah penting bahwa Tata Surya adalah bagian integral dari lingkungan galaksi yang dinamis, bukan sistem yang terisolasi.
Komet 3I/ATLAS, seperti dilaporkan kompas.com (15/11) mengutip laporan ilmiah IPB, merupakan objek antarbintang ketiga yang berhasil dikonfirmasi, setelah 1I/Oumuamua (2017) dan 2I/Borisov (2019). Kehadiranya memberikan bukti baru yang penting mengenai dinamika pertukaran material di Galaksi Bima Sakti.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Izatul Hafizah menjelaskan secara ilmiah mengapa 3I/ATLAS dikategorikan sebagai objek dari luar sistem kita.
“Komet 3I/ATLAS dikategorikan sebagai objek antarbintang karena lintasannya bersifat hiperbolik dan tidak mengorbit Matahari secara tetap, sehingga benda ini dikonfirmasi berasal dari luar Tata Surya,” jelas Izatul Hafizah.
Objek antarbintang didefinisikan sebagai benda langit kecil, seperti komet atau asteroid, yang tidak terbentuk di Tata Surya. Lintasannya yang hiperbolik menunjukkan bahwa energi kinetiknya terlalu tinggi untuk terikat secara gravitasi oleh Matahari.
Izatul Hafizah menerangkan bahwa objek seperti 3I/ATLAS memiliki riwayat perjalanan kosmik yang panjang. Mereka kemungkinan terbentuk di awal sejarah pembentukan sistem bintang.
“Objek seperti ini sangat redup dan baru dapat terdeteksi ketika cukup dekat dengan Bumi. Namun, perkembangan teleskop survei modern meningkatkan peluang kita untuk menemukannya lebih awal di masa depan,” ujarnya.
Pada fase awal pembentukan bintang dan planet, terdapat banyak bongkahan es atau batuan sisa pembentuk sistem. Akibat interaksi gravitasi yang kacau dari planet-planet besar, benda tersebut dapat terlempar keluar dari sistem asalnya dan kemudian berkelana di ruang antarbintang selama jutaan hingga miliaran tahun.
“Ketika akhirnya melintas dekat Matahari, seperti kasus 3I/ATLAS, kita berkesempatan mempelajari komposisi dan perilakunya,” tambahnya.
Temuan 3I/ATLAS secara ilmiah tidak secara langsung menjelaskan dinamika galaksi secara keseluruhan, namun fungsinya sangat vital sebagai bukti konkret. Objek ini membawa material dari sistem bintang lain, menawarkan jendela langsung ke komposisi kimia dan fisik di lingkungan galaksi luar.
Izatul Hafizah menegaskan pentingnya penemuan ini dalam konteks kosmologi lokal: “Temuan ini mengingatkan kita bahwa Tata Surya bukan sistem yang tertutup, melainkan bagian dari lingkungan galaksi yang dinamis.”
Sulit diprediksi, pemunculan antar bintang baru
Terkait kemungkinan kedatangan objek antarbintang berikutnya, Izatul menyampaikan bahwa saat ini belum ada cara pasti untuk memprediksi waktu kedatangan atau lokasi munculnya.
Meskipun demikian, kemajuan teknologi teleskop survei modern memberikan harapan besar untuk mendeteksi objek serupa lebih awal di masa depan, membuka lembaran baru dalam eksplorasi ruang antarbintang.
Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut komet raksasa dengan kode 3I/ATLAS yang tengah melintas di antara orbit Mars dan Bumi, akhir Oktober lalu tidak berbahaya bagi planet maupun kehidupan di Bumi.
Thomas Djamaluddin, Peneliti Bidang Astrofisika BRIN menjelaskan bahwa kode “3I” pada nama komet tersebut berarti “Interstellar”, atau menandakan bahwa objek ini berasal dari luar Tata Surya.
“Jadi kode ketiga I itu artinya komet ketiga dari interstellar atau dari ruang antar bintang. Artinya ini komet dari luar Tata Surya, tidak seperti biasanya yang kita lihat komet itu dari Tata Surya kita yang mengelilingi Matahari tetapi ini komet yang melintas dari ruang antar bintang,” jelasnya .
Bagi umat beragama, misteri yang terjadi di Tata Surya menunjukkan bukti keberadaan Allah yang menciptakan segala-galanya termasuk yang di luar jangkauan nalar manusia. (IPB/Kompas.com/ns)




