Tatapan Kosong dari Kutupalong

Nur Nahar, warga Rohingya. Di kampung kehilangan suami, di pengungsian kehilangan anak. Foto: Al Jazeera

Sekitar 501.000 lebih muslim Rohingya melarikan diri dari ‘pembantaian’ militer Myanmar. Mereka memenuhi perbukitan Kutupalong, Chox’s Bazar, Bangladesh.

MALAM sangat hening, Arba Khatun, 50, bersama keluarga sedang tertidur lelap di kediamannya, di sebuah desa dalam Negara Bagian Rakhine. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara letusan bersahutan, seperti tentara yang sedang berperang, memberondong musuh dengan senapan mesinnya. Arba berlari keluar, melihat apa yang terjadi. Ia menyaksikan beberapa tentara Myanmar sedang menarik hewan ternaknya keluar kandang. Beberapa tentara lainnya berjaga dengan senjata yang siap dikokang.

Arba meminta tentara untuk tidak mengambil hewan piaraannya. Namun permintaannya itu dibalas dengan tembakan senjata. Timah panas bersarang di perut Arba dan ia tersungkur. Tetara berlalu dengan membawa ternaknya. Anak laki-laki dan menantu Arba,  yang melihat ibunya tersungkur dan berdarah, segera bergerak cepat melarikan Arba ke klinik yang ada di luar desanya untuk mendapat pengobatan.

Setelah peluru di perut Arba dikeluarkan dan lukanya dijahit, ia pun dibawa pulang. Namun, betapa terkejutnya mereka, rumah dan kandang hewannya sudah hangus dilalap api. Begitu juga rumah-rumah warga lainnya di kampung itu, sudah tinggal puing dan tidak ada yang tersisa. Mereka pun panik dan berusaha menyelamatkan diri. Mereka tidak lagi memikirkan apa  yang akan dibawa, yang terpikir bagaimana mereka selamat dari ‘neraka’ malam itu.

“Seluruh hewan piaraan, rumah, kebun kelapa dan sawah kami tinggalkan,” kisah Arba seperti dikutip Swaracinta dari Al Jazeera.

Suami Arba meninggal 15 tahun lalu, sejak itu Arba tinggal bersama anak laki-laki, menantu, dan dua cucunya. Bersama merekalah, Arba melarikan diri ke gunung.

Anaknya menggendong Arba menjauh dari kampung halaman, bersama mereka anggota keluarga lain yang turut mengungsi. Mereka harus segera sampai di hutan sebelum matahari pagi muncul, agar tidak ditemukan tentara Myanmar yang selalu berpatroli menyisir desa dan menembak membabi buta.

Setelah sampai di Gunung, ia sempat bergabung dengan warga desa lain di antara ribuan orang yang telah lebih dahulu kabur ke kawasan itu. Di hutan gunung itu pula, Arba istirahat selama tiga hari, karena tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan dengan kondisi luka tembak yang masih basah.

“Setelah 3 hari, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Bangladesh, di mana semua warga Rohingya yang mengungsi menyelamatkan diri. Kami tidak dapat membawa apapun karena anak laki-laki saya menggendong saya dan istrinya membawa kedua anak mereka,” terang Arba.

Perjalanan menuju Bangladesh bagi Arba dan keluarga, merupakan perjalanan yang sulit sepanjang hidupnya. Dengan kondisi luka tembak yang terus mengeluarkan darah, ia berjalan tanpa asupan makanan. Arba dan keluarga harus terus bertahan dan berjalan, menembus hutan dan menyeberangi sungai.

Selama 12 hari perjalanan penuh derita itu mereka tempuh, akhirnya sampai juga di perbatasan Bangladesh-Myanmar.  Mereka bergabung dengan 501.000 pengungsi –menurut data UNHCR– yang berasal dari kawasan yang sama. Mereka pun mendirikan tenda dengan terpal di tanah kosong dekat Kutupalong, Chox’s Bazar.

Ribuan orang yang mengungsi, ribuan pula kisah ratapan kesedihan dan perjuangan mereka untuk mencari lokasi aman ke Bangladesh. Apalagi ketika awal-awal,  pemerintah Bangladesh sempat menolak kehadiran pelarian Rohingya ke negaranya.

Di sisi lain, mereka tidak bisa berbalik untuk kembali ke Rakhine karena tentara Myanmar menghadang mereka. Bahkan lebih parah, tentara Myanmar juga menanam ranjau di jalur yang mungkin dilalui pengungsi, agar pengungsi itu tidak bisa balik ke Rakhine.

Karena alasan kemanusiaan lah, melihat warga Rohingya mengalami tragedi kemanusiaan yang menyedihkan itu, akhirnya pemerintah membuka juga pagar pembatasnya dan mengizinkan pengungsi Rohingya memasuki wilayahnya. Jadilah Chox’s Bazar sebagai kampung pengungsi muslim Rohingya dan menjadi pusat perhatian dunia.

“Situasi telah berputar ke darurat pengungsi yang tercepat di dunia, ini mimpi buruk kemanusiaan dan hak asasi manusia,” kata Sekjend PBB Antonio Guterres, di depan Anggota Dewan Keamanan PBB, Kamis 28 September lalu.

Ditekankan Guteres, kenyataan di lapangan menuntut perlu tindakan cepat;  untuk melindungi orang, mengurangi penderitaan, mencegah ketidakstabilan lebih lanjut, mengatasi akar penyebab, dan menciptakan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.

Kampung Pengungsi

Pengamatan Tim Dompet Dhuafa yang tergabung dalam Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) Salman Alfarisi dan Benny, kamp pengungsi warga Rohingya di Kutupalong itu sekitar 100 KM luasnya.

“Sejauh mata memandang, bukit hingga lembahnya Kutupalong dipenuhi pengungsi yang mendirikan tempat berlindung dengan tenda-tenda beratap terpal plastik,” ungkap Benny, Koordinator IHA dari Dompet Dhuafa yang melakukan respon dan asesmen, akhir September 2017 lalu .

“Ketika kami lewat di depan mereka, terlihat mereka bengong, diam dengan tatapan kosong. Mereka seperti ketakutan, trauma berat dan tidak berdaya. Bahkan untuk meminta saja untuk yang mereka perlu, mereka tidak berdaya. Mereka baru beranjak dari tempat duduknya, kalau ada truk logistik dari pemerintah Bangladesh membagikan paket makanan dan pakaian. Itu pun mereka harus berhadapan dengan tentara penjaga Bangladesh yang membawa rotan untuk menghalau mereka yang tidak tertib,” imbuh Salman.

Situasi yang memprihatinkan lainnya dari kamp pengungsi Kutupalong ini, berdasarkan data yang dihimpun mitra Dompet Dhuafa di Bangladesh, ANTAR, dikabarkan dalam 6 bulan terakhir, 150 bayi pengungsi Rohingya lahir di tenda pengungsian setiap bulannya.

Artinya, pengungsi di Kutupalong ini, bukan saja warga Rohingya yang datang pasca pembersihan etnis oleh tentara Myanmar, 25 Agustus 2017 lalu. Akan tetapi juga  pengungsi yang sudah datang sebelumnya. Karena sebelum pengungsian besar-besaran 25 Agustus itu,  setiap hari selalu ada intimidasi terhadap muslim Rohingya di Rakhine yang membuat mereka melarikan diri ke mana-mana yang menurut mereka aman dan ada harapan.

Diceritakan Salman, kini bayi-bayi pengungsi Rohingya lahir di tenda darurat atau di shelter pinggiran hutan. Tenda yang mereka tempati sangat tidak bersahabat untuk bayi baru lahir. Ketika hujan datang, semua penghuninya basah kuyup dari rembesan air dari atap tenda mereka. Dari bawah,  air juga menggenang, karena tidak dapat mengalir.

“Seperti sekarang lagi musimnya hujan, para penghuni tenda justru tidak bisa duduk, mereka berdiri berjam-jam menunggu hujan reda. Mereka basah kuyup meski dalam tenda,” ungkap Salman.

Dapat dibayangkan, lanjut Salman, penderitaan pengungsi balita dan ibunya di tenda tersebut.

Selama pengamatan di kamp tersebut, tim IHA memang banyak melihat pengungsi yang hamil. Tentunya mereka sangat membutuhkan perhatian khusus dan berbagai persiapan lainnya untuk menyambut kelahiran. Sementara kondisi kamp pengungsi yang terbuat hanya dari plastik, sangat tidak mendukung untuk ibu hamil, balita dan ibu menyusui.

Membantu ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi-bayinya, tambah Salman, merupakan kebutuhan mendesak yang segera harus direalisasikan, selain dari kebutuhan logistik.

Selain itu, dukungan ketersediaan air bersih, sanitasi dan shelter yang layak juga menjadi kebutuhan darurat bagi pengungsi. Dan tentunya, bantuan itu bukan hanya untuk jangka pendek saja, harus direncanakan untuk jangka panjang. [Maifil Eka Putra]

Advertisement