Telat Lima Menit, Menteri Jepang Minta Maaf pada Rakyat

Kimi Onoda, Menteri Keamanan Ekonomi Jepang memohon maaf kepada rakyat cuma gegara terlambat 5 menit ikut rapat karena ada lakalantas. (AFP)

NILAI-nilai moral seorang pejabat di Jepang dijaga betul, tidak perlu melakukan tindak tercela seperti berbohong, selingkuh apalagi korupsi, terlambat lima menit mengikuti rapat saja,  harus meminta maaf kepada rakyat.

Menteri Keamanan Ekonomi Jepang, Kimi Onoda, seperti diungkapkan Sankei Shinbun yang dikutip the Daily Mail terlihat berlari memasuki gedung tempat rapat kabinet,  Jumat (6/3) pagi setelah turun dari taksi.

Dari rekaman meddsos yang kemudian viral,  politikus berusia 43 tahun itu tampak berlari didamping ajudannya sambil membawa tas tangan, melewati awak media yang menunggu di depan gedung tempat rapat.

Onoda juga terlihat bergegas menuruni tangga menuju ruang rapat kabinet. Di ruang rapat, kamera televisi juga merekam momen ketika PM Jepang Sanae Takaichi memasuki ruang peremuan itu.

Beberapa saat kemudian, ketika para menteri sudah duduk di tempat masing-masing, kamera menyorot kursi Onoda yang masih kosong.

Setelah kejadian itu, Onoda menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat Jepang karena terlambat menghadiri rapat kabinet.

Ia menjelaskan keterlambatan itu terjadi akibat

kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kemacetan di jalan.

“Saya terjebak kemacetan akibat lakalantas sehingga kendaraan tidak bisa bergerak,” ujar Onoda dan berjanji akan lebih waspada merespons situasi tak terduga ke depannya.

“Saya akan tetap waspada agar dapat merespons berbagai situasi yang tidak terduga,” katanya.

Ketepatan waktu merupakan nilai yang sangat dijunjung tinggi. Datang terlambat dianggap sebagai sikap tidak sopan dan kurang menghargai orang lain.

Meski demikian, banyak pengguna internet justru memuji sikap Onoda yang langsung meminta maaf atas keterlambatan tersebut, apalagi keterlambatan lima menit itu terjadi karena keadaan di luar kendali.

“Keterlambatan yang dialami Onoda jelas karena keadaan memaksa, yakni kemacetan akibat kecelakaan di jalan tol,” tulis pengguna tersebut.

Ia juga menilai kebiasaan Onoda yang biasanya datang 15 hingga 20 menit lebih awal menunjukkan rasa tanggung

jawab yang tinggi.

“Permintaan maaf yang cepat dan pernyataannya untuk meningkatkan manajemen krisis merupakan contoh yang patut diteladani bagi seorang politisi,” tulisnya.

“Ketika para pemimpin menghargai waktu semua orang, hal itu ditetapkan sebagai standar bagi seluruh negara. Kita membutuhkan lebih banyak energi seperti ini,” tulis pengguna lainnya.

“Sebagai orang Jepang, saya bisa memastikan bahwa kami menganggap waktu mulai sebagai sesuatu yang sangat sakral,” tulis pengguna lainnya.

Onoda, politikus kelompok konerbatif yang cukup populer adalah  anggota  majelis tinggi parlemen Jepang yang dikenal sebagai National Diet of Japan.

Sementara itu, pada kejadian lainnya, Menteri urusan Olimpiade dan Paralimpik  Jepang, Yoshitaka Sakurada, dituntut mundur gegara  terlambat tiga menit untuk menghadiri rapat kerja bersama parlemen, pada Februari 2019 lalu.

Melansir BBC News, Yoshitaka Sakurada telah meminta maaf secara terbuka atas keterlambatannya. Namun tindakannya dianggap tidak sopan dan tidak menghargai instansi tempatnya bekerja.

Integritas dan kehormatan bagi seorang politisi, elite, atau pemimpin di negeri Matahari Terbit dianggap harga mati, jadi seiapa yang melanggarnya, sengaja atau tidak, harus menyesalinya, mulai dari minta maaf, lengser dari jabatan, sampai hara-kiri (merobek perut dengan samurai).

Bagaimana dengan di negeri ini? (Sankei Shinbun/the Daily Mail/Kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here