Tentara Niger Umumkan Kudeta, Gulingkan Pemerintahan Presiden Bazoum

Pendukung Presiden Niger Bazoum yang dikudeta berkumpul untuk menunjukkan dukungan mereka kepadanya di Niamey pada 26 Juli 2023. (Foto: Liputan6.com/AFP)

NIAMEY – Tentara Niger tampil di acara televisi nasional pada Rabu (36/7/2023) malam, untuk mengumumkan kudeta terhadap Presiden Mohamed Bazoum. Mereka menyebut diri mereka sebagai Dewan Nasional untuk Keamanan Tanah Air (CLSP) dan menyampaikan pernyataan kudeta melalui rekaman video yang ditayangkan di stasiun televisi pemerintah ORTN.

“Presiden Bazoum digulingkan dari jabatannya, dan konstitusi dibekukan karena alasan situasi keamanan yang semakin memburuk dan krisis sosial ekonomi yang melanda negara ini,” ungkap Kolonel Mayor Amadou Abdramane, seperti diberitakan Anadolu.

Pihak militer juga memberlakukan jam malam mulai pukul 10 malam hingga 5 pagi, serta menutup semua perbatasan negara. Presiden Bazoum telah ditahan oleh pasukan keamanan presiden pada hari Rabu pagi.

Mendengar kabar kudeta ini, warga turun ke jalan untuk mencegahnya dan menuntut pembebasan Bazoum. Diduga bahwa Jenderal Omar Tchiani, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala pasukan keamanan presiden selama kurang lebih 10 tahun, terlibat dalam kudeta tersebut.

Bazoum diduga berniat untuk mencopot Tchiani dari jabatannya, yang juga menjabat di bawah presiden sebelumnya, Mahamadou Issoufou.

“Upaya kudeta sedang berlangsung di Niger. Sejumlah perwira berusaha mengancam kemerdekaan kita yang diperjuangkan dengan susah payah, mengancam demokrasi kita, dan merusak kemajuan yang telah kita capai,” kata Hassoumi Massoudou, perdana menteri sementara pemerintahan Bazoum, pada Kamis pagi melalui akun Twitter.

“Upaya petualangan yang bertujuan mengakibatkan kekacauan ini pasti akan gagal karena akan dihadapi dengan protes dari kekuatan-kekuatan demokrasi dan kemajuan di seluruh penjuru Niger,” lanjutnya.

Massoudou mengajak semua orang yang mendukung demokrasi, dan semua patriot, untuk menentang upaya petualangan yang membahayakan negara.

“Hiduplah demokrasi, hiduplah Niger,” katanya.

Uni Afrika, Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS), Uni Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Prancis mengutuk tindakan militer di Niger dan menyerukan pembebasan Bazoum (63) yang terpilih secara demokratis pada April 2021.

Niger, negara di Afrika Barat yang berbatasan dengan daratan di seluruh wilayahnya, telah mengalami berbagai kudeta dan upaya kudeta sejak merdeka dari Prancis pada 1960.

Aksi oleh pasukan elit pengamanan presiden ini telah membuat rakyat Niger semakin khawatir. Pada 1964, negara tersebut mengalami upaya kudeta pertamanya yang kemudian diikuti oleh kudeta militer pada 1974 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Seyni Kountche.

Rezim militer Kountche berkuasa hingga kematiannya pada 1987. Kemudian, pada 1996, Kolonel Ibrahim Bare Mainassara melakukan kudeta yang menyebabkan kematian Presiden Mahamane Ousmane yang terpilih secara demokratis.

Pada 1999, Niger kembali bertransisi ke pemerintahan sipil yang menghasilkan terpilihnya Presiden Mamadou Tandja. Namun, pada 2010, upaya Tandja untuk memperpanjang masa jabatannya dihentikan oleh intervensi militer yang mengakibatkan pencopotannya dari jabatan presiden.

Pada 2011, Niger berhasil melakukan peralihan kekuasaan melalui pemilihan demokratis dengan terpilihnya Presiden Mahamadou Issoufou. Meskipun suasana politik di Niger sangat tegang pada 2020, negara ini berhasil menghindari kudeta.

Sumber: Anadolu

Advertisement