
CIANJUR – Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menemukan rekahan yang diduga merupakan bagian dari jalur sesar atau patahan gempa yang terjadi di Kabupaten Cianjur pada bulan November 2022 lalu.
“Kami menemukan rekahan yang cukup lebar yang menyebabkan pondasi dinding kolam bergeser sekitar 15 cm ke arah kanan,” kata Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi dari Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Adrin Tohari, di Cianjur, Jumat (28/6/2023).
Retakan ini ditemukan di Kampung Rawa Cina, Desa Nagrak. Desa ini menjadi salah satu lokasi yang hancur akibat gempa dengan magnitudo 5,6.
Rekahan dengan kedalaman 15 cm ini terlihat pada fondasi batu kolam ikan yang bergeser ke arah kanan. Dengan adanya rekahan ini, para peneliti dari BRIN menduga bahwa patahan tersebut menyebabkan kerusakan pada bangunan.
Untuk membuktikan hipotesis ini, para peneliti masih melakukan riset geofisika guna memastikan apakah retakan tersebut terhubung dengan rekahan bawah tanah.
“Kami yakin bahwa rekahan ini menunjukkan adanya sesar di bawah tanah yang menyebabkan kerusakan parah pada bangunan. Sekarang, kami ingin membuktikannya melalui riset lebih lanjut,” tambahnya.
Rekahan pada pondasi kolam ini membentang sejauh 25 meter ke arah utara, namun panjang retakan lebih lanjut tidak dapat diidentifikasi karena tertutup oleh puing-puing bangunan.
Di sisi selatan, terlihat rekahan dengan panjang sekitar 10 meter menuju persawahan warga. Peneliti menduga bahwa lokasi ini merupakan bagian dari jalur sesar yang berlanjut hingga kawasan Tapal Kuda Cugenang.
“Masyarakat di sini menggambarkan goncangannya bukan hanya mengayun, tapi lebih ke atas-bawah. Jika gempa terasa seperti ini, berarti sumber gempa sangat dekat dan sangat kuat,” ujar salah satu peneliti, seperti diberitakan Antara.
Meskipun begitu, peneliti masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut mengenai dugaan ini melalui riset menggunakan Geolistrik Multichanel Resistivity dan Ground Penetrating Radar.
Hasil penelitian diharapkan akan selesai pada Desember 2023 dan akan menjadi panduan untuk memetakan wilayah risiko bencana gempa bumi serta langkah mitigasi yang tepat.
Seorang warga dari Rawa Cina, Yuyun Yunengsih (48), juga menggambarkan gempa yang dirasakannya sangat kuat dan membuat rumah terasa seperti melompat. Suara gempa juga terdengar seperti ledakan petir.
Dia mengaku bahwa sebelumnya belum pernah merasakan gempa dengan karakteristik goncangan naik-turun seperti ini. Biasanya, jika gempa terjadi di sekitar selatan Jawa Barat, getarannya hanya mengayun.
“Suara meledak ke atas, suasana langsung gelap. Rumah terangkat ke atas. Kolam ikan langsung jebol dan ikan-ikan habis. Ada empat rumah yang amblas tenggelam ke dalam tanah,” tuturnya.




