JAKARTA – Hartini, seorang perempuan yang terjangkit Human Immunodeficiency Virus (HIV) memilih mempublikasikan penyakitnya agar dapat menginspirasi sesama penderita HIV Aids lainnya.
Jika biasanya penderita HIV Aids merasa malu dan minder, berbeda dengan Hartini, perempuan kelahiran Indramayu yang tidak memilih bungkam.
“Karena testimoni air mata sudah tidak berlaku lagi. Saya memilih untuk mengedukasi apa itu HIV/AIDS, bagaimana ciri-cirinya, bagaimana mencegahnya, dengan membuka diri,” katanya di Jakarta, saat peluncuran buku tentang kisahnya yang berjudul “Hartini Memoar Seorang Perempuan dengan HIV”, Sabtu (14/5/2016).
Ia merasa prihatin karena pada 2008 ketika ia harus mengambil antiretroviral (ARV) setiap bulan di rumah sakit, selalu saja menemui Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) baru. Kondisi tersebut mendorongnya untuk berkontribusi mencegah penularan yang lebih banyak.
Ia sendiri ingin dengan pemahaman yang benar pada masyarakat, maka tidak ada lagi diskriminasi terhadap ODHA yang sama-sama hidup berdampingan dengan mereka.
“Kami tidak minta diistimewakan. Hanya jangan sampai misalnya ayah ibunya ODHA, tapi anak-anaknya dilarang bermain dengan anak tetangga. Jelas itu karena ketidaktahuan informasi tentang cara penularan HIV dan sebagainya,” ujar Hartini.
Upayanya ini didukung penuh oleh sang suami sehingga Hartini mendapat dukungan penuh dari keluarga untuk turut mengedukasi masyarakat.
Menurutnya, tempat terbaik bagi ODHA adalah keluarga di mana dukungan untuk terus positif menatap hidup amat sangat dibutuhkan dan bukan penghakiman.
“Keluarga saya mendukung. Suami saya mendukung. Ia selalu bilang, teruslah melakukan kegiatan positif, sehingga kelak kamu akan dikenang karena perbuatan positif bukan orang dengan HIV positif,” tutup Hartini. (Sumber: Antara)





