Teror Maute di Marawi Belum Berakhir    

Asap mengepul dari bangunan, diduga dihuni kelompok Maute di bagian kota Marawi yang diroket oleh pesawat AU Filipina (inquirer)

SUDAH empat pekan berlangsung, pertempuran antara kelompok milisi radikal Maute yang menguasai kota Marawi, Pulau Mindanao , Filipina dan tentara yang berupaya keras merebutnya kembali, belum ada tanda-tanda akan segera berakhir.

Korban pun berjatuhan selain dari kedua belah, juga warga sipil yang tersandera atau terperangkap di tengah-tengah pertempuran. Dari 310 jumlah korban tewas yang tercatat sebelumnya (227 jiwa dari kelompok Maute, 59 tentara pemerintah dan 26 warga sipil) saat ini sudah bertambah 19 orang lagi.

Konflik militer di Marawi juga menciptakan pengungsi dari kota tersebut ke kota-kota atau wilayah di sekitarnya yang kini sudah mencapai 309.000 orang.

Pihak militer Filipina sendiri mengakui, pasukan darat mereka mengalami kesulitan merebut kembali kota Marawi yang dikuasai oleh kelompok Maute walau dibantu pengeboman dari udara oleh pesawat-pesawat tempur AU-nya.

Helikopter Bell-412 dan pesawat-pesawat anti gerilya buatan AS OV-10 Bronco serta pesawat tempur FA50 Golden Eagle buatan Korsel milik AU Filipina mengalami kesulitan mengindentikasi kedudukan musuh yang berbaur dengan warga tersandera. Bahkan pekan lalu, 21 anggota tentara Filipina tewas akibat salah sasaran oleh pesawat-pesawat tempur mereka sendiri.

Jubir militer Filipina Brigjen Restituto Padila mengungkapkan bahwa pasukannya terus merangsek maju dan mengurung kelompok Maute yang masih tersisa di pusat kota dan sebagian Marawi.

Namun demikian, sejauh ini belum ada pernyataan dari pihak militer yang mengindikasikan bahwa mereka akan segera mampu mengakhiri perlawanan Maute, selain menyebutkan resistensi dari pihak lawan semakin melemah karena wilayah  yang dikuasai mereka semakin sempit.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan, para elemen combatant asing  kelompok NIIS berasal dari Suriah, Indonesia,Malaysia dan Arab Saudi diketahui ikut ambil bagian dalam aksi-aksi yang dilancarkan oleh kelompok Maute di Marawi.

Sementara itu, menteri pertahanan Malaysia, Filipina, Indonesia dan Singapura akan bertemu di Tarakan, Kalimantan Utara Senin depan (19/6) guna menyatukan langkah menghadapi potensi ancaman dari kelompok Maute atau NIIS ke wilayah mereka pasca aksi mereka di Marawi.

Baik RI, Malaysia maupun Singapura yang memiliki tapal batas wilayah laut dengan Filipina tentunya harus terus meningkatkan penjagaan agar para combatant Maute, NIIS atau kelompok radikal lainnya tidak merembes ke wilayah  ketiga negeri itu.

Ke depannya, kesiapan bersama untuk mencegah aksi-aksi radikalisme seperti yang terjadi di Marawi perlu dirumuskan, paling tidak di lingkup negara-negara anggota ASEAN.

Aksi-aksi teroris yang dilancarkan dan terorganisir lintas negara, kapan dan dimana saja, memang perlu dihadapi bersama-sama pula.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement