
PENDUDUK pesisir Selat Sunda di Banten dan Lampung selatan diminta tetap waspada mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih terus berlangsung berpotensi memicu terjadinya gelombang tsunami.
Sejauh ini tercatat 431 korban tewas, 1.485 luka-luka, 150 hilang dan dan 16.802 orang mengungsi akibat terjangan tsunami di kedua wilayah pada 22 Desember lalu dipicu oleh runtuhnya dinding Anak Krakatau ke dasar Selat Sunda.
Korban harta benda a.l 1.882 rumah, 73 hotel dan penginapan, 60 pusat kuliner, 434 perahu atau kapal nelayan, 24 mobil dan 41 sepeda motor rusak.
Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia Gegar Prasetya seperti ditulis Kompas (4/1) mengemukakan, ada 10 mekanisme erupsi vulkanik yang bisa memicu tsunami sehingga diperlukan pemantauan intensif dan kewaspadaan tinggi penduduk di Banten dan Lampung selatan.
Menurut dia, dari 10 mekanisme tersebut ada lima yang dominan yakni flank collapse atau runtuhnya lereng gunung seperti yang terjadi pada 22 Desember lalu, sedangkan mekanisme lain yakni runtuhnya kaldera, aliran awan panas dan longsoran.
Pada kasus 22 Desember lalu, lanjut Prasetya, terjadi erupsi besar di punggung Anak Krakatau yang disebut sebagai lateral blast atau letusan yang terjadi di sisi (punggung) gunung, bukan di puncaknya disertai runtuhnya sebagian tubuh gunung (flank collapse).
Ke depannya, potensi runtuhnya material yang bisa memicu gelombang tsunami masih ada, apalagi Anak Krakatau sampai saat ini masih aktif dan sedang beraktivitas membangun kembali tubuhnya.
Alat Deteksi Dini
Pemasangan alat pemantau muka air laut di tiga pulau di sekitar Anak Krakatau di P. Sertung, P. Rakata da P. Panjang, menurut Prasetya, menjadi penting, karena memberikan waktu sekitar 20 menit bagi penduduk untuk melakukan evakuasi.
Sementara itu, Peneliti Bagian Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agustan mengatakan (3/1) , berdasarkan citra satelit, bagian tubuh Anak Krakatau yang sebelumnya hilang karena runtuh, mulai pulih lagi dan kemungkinan material dari dalam terus terpompa keluar untuk membangun dirinya kembali.
Sampai Jumat ini, aktivitas Anak Krakatau masih berlangsung sehingga status level III atau Siaga masih diberlakukan.
Sementara itu, pemerintah akan segera membangun 1.071 hunian sementara (huntara) berjarak sekitar 500 meter dari sempadan pantai di wilayah Banten untuk menggantikan yang rusak sedang, berat atau hilang akibat terjangan tsunami lalu.
Selain membangun kembali sarana dan prasarana publik di kawasan bekas terjangan tsunami di Banten dan Lampung Selatan, tindakan mitigasi dan juga penyadaran bagi penduduk setempat tentang ancaman bencana harus terus disosialisasikan. (Kompas/NS)




