Thailand Siap Tampung dan Beri Bantuan untuk Pengungsi Rohingya

Rohingya melarikan diri/ Reuters

BANGKOK – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Busadee Santipitaks mengatakan Thailand siap memberikan bantuan jika ada Rohingya yang tiba di Thailand.

Kementerian Luar Negeri, dalam sebuah pernyataan mengatakan negaranya  “mengikuti situasi” dengan ketat dan akan memberikan bantuan kepada pemerintah Myanmar dan  Bangladesh.

“Thailand sangat dekat dengan situasi di Negara Bagian Rakhine,” kata kementerian tersebut, dilansir Bangkokpost, Senin (2/10/2017).

“Pemerintah Kerajaan Thailand selalu menaruh perhatian besar untuk memberikan perawatan dan perlindungan kepada orang-orang terlantar Myanmar,” tambahnya, menunjuk kepada sekitar 100.000 pengungsi dari Myanmar yang tinggal di sembilan kamp di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar.

Tapi banyak dari mereka yang tinggal di kamp tersebut adalah warga yang melarikan diri dari konflik beberapa dekade yang lalu.

Menurut Kementeriaan, sejauh ini tidak ada korban yang terkena dampak dari kerusuhan Agustus di Rakhine State telah ditemukan di Thailand.

Kementerian luar negeri Thailand mengatakan bahwa pernyataannya tersebut merupakan tanggapan atas pandangan yang diajukan oleh beberapa kelompok hak asasi manusia mengenai posisi Thailand dalam kerusuhan di Rakhine.

Amnesty International pekan lalu mengatakan Thailand tidak boleh mengembalikan Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan dan harus memberikan status dan perlindungan hukum formal kepada pengungsi.

Thailand tidak mengakui status pengungsi apapun atau mengakui Rohingya sebagai pekerja migran yang sah.

Thailand mengatakan, pihaknya mendukung sebuah pernyataan dari ketua ASEAN mengenai masalah ini. Pernyataan tersebut mengutuk para petugas keamanan Myanmar dan “semua tindak kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa warga sipil”.

Malaysia, salah satu anggota ASEAN, telah melepaskan diri dari pernyataan tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu menyalahartikan masalah yang berkaitan dengan eksodus ratusan ribu orang Rohingya.

Advertisement