Tiangong-1 (Bisa) Jatuh di Wilayah Indonesia

Stasiun antariksa China Tiangong-1 yang tidak sudah berfungsi akan memasuki atmosfir, kembali ke bumi sekitar dua pekan mendatang, serpihannya bisa jadi jatuh di wilayah Indonesia.

STASIUN antariksa China, Tiangong-1 yang mengalami kerusakan dan sudah tidak berfungsi, setelah memasuki atmosfir serpihannya bisa jatuh dimana saja,kemungkinan juga di wilayah Indonesia.

Tidak bisa dipastikan kapan dan dimana Tiangong-1 (Istana Surga) berbobot 8,5 ton, panjang 10,5 meter dan diameter 3,4 meter yang diluncurkan 29 September 2011 itu akan jatuh karena hal itu terkait aktivitas maahari dan geomagnet yang mempengaruhi kerapatan atmosfir yang dilaluinya.

Kemungkinan jatuhnya Tiangong-1 di wilayah Indonesia dibenarkan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin yang menyebutkan, pihaknya saat ini sedang fokus mengamati gerakan stasiun antariksa China itu.

Peluang jatuhnya stasiun antariksa yang sudah tidak terkendali tersebut di wilayah Indonesia didasarkan atas perhitungan luasnya wilayah Indonesia yang terbentang sepanjang ekuator, 30 persen dari keliling bumi.

Selain itu, inklinasi orbit Tiangong-1 pada 43 derajat membuat seluruh wilayah di bumi mulai dari 43 derajat Lintang Utara hingga 43 derajat Lintang Selatan berpeluang bakal kejatuhan serpihan (debris) satelit tersebut.

Proses masuknya kembali Tiangong-1 ke atmosfir bumi (re-entry) akan lebih lama waktunya dari yang diperkirakan jika aktivitas matahari dan geomagnet sangat rendah.

Tiangong-1 saat re-entry yakni berada di ketinggian di bawah 120 Km akan terbakar, sedangkan serpihannya bakal bertebaran di permukaan bumi.

Tangki bahan bakarnya, menurut Deputi Teknologi LAPAN Rika Andiarti, berbahaya jika tersentuh, karena mengandung hydrazine yang beracun dan bersifat korosif.

Sejak mengorbit, Tiangong 1 mengalami 14 kali penyesuaian ketinggian dengan dorongan tenaga roketnya, sedangkan upaya terakhir untuk menaikkan ketinggiannya dilakukan pada 16 Desember 2015.
Tiangong-1 yang berfungsi sebagai lab berawak dan platform eksperimen untuk menunjukkan pertemuan orbital dan kemampuan docking, sejumlah pesawat ruang angkasa seri Shenzou, berawak maupun tidak dalam dua tahun pengoperasiannya (sejak 2011).

Publikasi secara luas yang mencerminkan kemajuan teknologi negara tirai bambu tersebut terjadi saat Shenzou 9 yang membawa astronot wanita, Liu Yang berhasil merapat (docking) di Tiangong-1 dan kembali dengan selamat pada Juni 2013.

Sejak 16 Maret 2016 stasiun luar angkasa China yang pertama yang diluncurkan dengan roket Long March 2F/G itu mengalami gangguan teknis sehingga tidak dapat dikendalikan lagi.

Badan Antariksa Eropa (ESA) memperkirakan Tiangong-1 akan memasuki atmosfir antara 24 Maret dan 19 April, sedangkan Zhu Congpeng dari China Aerospace Science and Technology Corp. menyebutkan, sekitar semester pertama 2018.

“Kami terus memonitor gerakan Tiangong-1 yang akan terbakar begitu memasuki atmosfir, sedangkan serpihannya akan kecemplung di laut, tidak berbahaya, “ kata Chongpeng meyakinkan.

Pemerintah China sudah menyampaikan informasi terkait bakal jatuhnya Tiangong-1 kepada Komisi PBB bagi Pemanfaatan Aktivitas Antariksa untuk tujuan Damai (UNCOPUOS) pada 4 Mei 2017.

Sehebat apa pun manusia menguasai teknologi, pasti ada batasnya. Semoga Tiangong-1 tidak jatuh di wilayah Indonesia, apalagi sampai menelan korban.

Advertisement