
FORUM Tripartit Ulama Afghanistan, Pakistan dan RI yang akan digelar di Jakarta, akhir Maret, jika jadi diikuti oleh wakil-wakil ulama para pihak yang bertikai di Afghanistan, diharapkan menjadi secercah nyala “lilin” menuju proses perdamaian.
Tidak mudah memang, mendamaikan konflik yang sudah berkecamuk 40 tahun melibatkan berbagai kepentingan, di dalam negeri, regional maupun kekuatan global, jika tidak dilakukan dengan sabar, secara bertahap dan hati-hati.
Di satu pihak, rezim pemerintah pimpinan Presiden Ashraf Ghani bersama kelompok pendukungnya, dan di pihak lain, kelompok Taliban yang menjadi musuh bebuyutan pemerintah.
Taliban sendiri paling tidak terbagi dalam tiga kelompok besar yakni pimpinan Mullah Moh. Akhtar Mansoor dan jaringan Haqqani yang dikendalikan dari Pakistan serta kelompok Hizb-i-Islami pimpinan Gubuldin Hekmatyar.
Selama ini, Taliban diperkirakan meraup 300 juta dollar AS setiap tahun untuk membiayai kegiatan operasional mereka, bersumber dari penambangan ilegal dan perdagangan narkotika (penghasil opium terbesar dunia).
AS mewakili kekuatan global dan memimpin Pasukan Keamanan Internasional untuk Afghanistan (ISAF, sudah dibubarkan pada 2014) yang terlibat dalam konflik Afghanistan, juga Rusia yang pernah mendukung rezim berkuasa di negara itu.
Ada kekuatan regional yakni Pakistan, India, Iran dan China yang cukup berpengaruh, belum lagi kelompok fundamentalis al-Qaeda yang tidak menghendaki perdamaian di Afghanistan, begitu pula dengan pedagang, pengedar dan produsen opium yang menikmati kekacauan di negeri ini.
Forum Tripartit ulama Afghanistan, Pakistan dan RI diharapkan akan menelurkan kesepakatan atau fatwa bersama yang dijadikan payung untuk memulai proses perundingan damai yang akan digelar di tingkat pemerintah dan lawannya.
Sebelumnya, dalam Konferensi Proses Kabul II di Kabul, pekan lalu, Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani menawarkan masuknya kekuatan paling berpengaruh di negara itu yakni Taliban dalam proses politik, bukan mengangkat senjata.
Tawaran Presiden Ghani kepada Taliban untuk duduk di meja perundingan termasuk dengan mengakui status mereka sebagai partai politik.
Seperti disampaikan Wapres Jusuf Kalla di Jakarta (6/3), pertemuan tripartit yang akan digelar di Jakarta, akhir Maret, diikuti masing-masing 15 ulama dari Afghanistan, Pakistan dan Indonesia.
Jadi tidaknya rembuk Forum Tripartit Ulama itu masih menanti konfirmasi pihak Taliban untuk menerima tawaran Ghani karena selama ini Taliban menganggap pemerintah Ghani tidak sah, hanya boneka buatan AS.
Taliban sendiri dalam dilema karena jika menerima tawaran damai, bakal ditentang sejumlah fraksi di tubuhnya, bahkan kelompok pimpinan senior yang bergabung dalam Dewan Syura Quetta juga sudah menolak tawaran itu.
“Kami hanya bersedia berunding dengan pemeritah AS,” kata seorang anggota Quetta.
Namun pilihannya sekarang cuma antara bersedia menerima tawaran pemerintah Afghanistan untuk berunding, jika tidak, AS bakal lebih gencar lagi menggempur posisi mereka. (AP/AFP/Reuters/NS)




