
TEKAD PM Polandia Mateusz Morawiekci, PM Slovenia Janez Jansa dan PM Ceko Ptre Fiala memberikan dukungan bagi Ukraina dengan melakukan perjalanan berbahaya ke Kiev di tengah bombardemen pasukan Rusia patut diacungi jempol
Mereka bertiga berhasil menyusup dengan naik KA menuju ibu kota Ukraina, Kiev, yang hari-hati terakhir ini tinggal “sepelemparan batu” dikepung kekuatan mesin perang raksasa Rusia dan bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelensky di tempat yang dirahasiakan.
Perjalanan antara Warsawa dan Kiev yang dilalui ketiga pemimpin negara Eropa Timur (Selasa, 15 Maret) sangat berisiko, mengingat pertempuran masih berkecamuk di berbagai titik di Ukraina, bahkan Sekjen NATO Jens Stoltenberg tidak mendukung perjalanan itu.
Namun masih beruntung, mereka sudah kembali ke Warsawa dengan selamat ditayangakan oleh TV Polandia saat rombongan mereka bertiga meninggalkan stasiun di kota dekat perbatasan Ukraina, Przemysl, Rabu lalu.
Mereka bertiga sempat bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di tempat yang dirahasiakan yang mengucapkan terima kasih atas dukungan mereka di saaat-saat sulit yang dihadapi Ukraina.
Wamenlu Polandia yang mengikuti perjalanan tersebut Marcin Przydaez mengakui perjalanan tersebut sangat berisiko, namuan hasilnya setimpal (menunjukkan solidaritas pada Ukraina-red).
Saat ketiga PM dan Presiden Zelensy bertemu, Selasa sore, ledakan bom dan rentetan letusan senjata api tak henti-hentinya terdengar di sekitar mereka.
“Di saat-saat genting yang dihadapi dunia, kewajiban kita untuk hadir di lokasi sejarah sedang diciptakan. Ini bukan tentang kita, tetapi tentang generasi mendatang yang layak hidup di dunia yang bebas dari tirani, “ ujar PM Polandia Morawiecki dalam FB-nya.
Polandia dan Ceko (saat masih Cekoslowakia) di era Perang Dingin lalu adalah anggota Pakta Warsawa pimpinan Uni Soviet yang “membelot” ke NATO, begitu pula Slovenia, salah satu negara sempalan Yugoslavia yang juga anggota Pakta Warsawa dan kini berada di NATO.
Invasi Rusia ke Ukraina, salah satu penyebabnya juga karena negara tetangga yang sebelumnya sama-sama bernaung di bawah Uni Soviet itu hendak bergabung ke NATO. Rusia berang, karena negerinya bakal terkepung oleh NATO.
Setelah sejumlah kota di Ukraina lepas ke tangan Rusia, sekitar tiga pekan sejak invasi negara beruang merah didukung kekuatan udara, ratusan tank, roket, gempuran rudal jelajah dan lebih 100-ribu pasukan , 24 Feb. lalu kini praktis tinggal Kiev yang masih bertahan.
Sebagian besar warga sipil dari sekitar 2,6 juta penduduk Kiev sudah hengkang bersama lebih tiga juta pengungsi dari seluruh Ukraina yang membanjiri tetangganya terutama Polandia, Ceko, Moldova, dan Rumania.
Di medan tempur, agaknya pasukan Rusia yang berada di atas angin sedang memilih strategi yang tepat untuk memasuki Kiev, menghindari jatuhnya korban sipil sehingga menuai kecaman dunia int’l.
Pasukan Ukraina sendiri, kalah segala-galanya, baik jumlah mau pun persenjataan, terutama menghadapi serangan udara, agaknya memilih taktik perang kota.
Memanfaatkan pasokan rudal-rudal anti tank Javelin (buatan AS) dan NLAW (Inggeris dan Swedia) mungkin melalui bangunan-bangunan di tengah kota, mereka bisa mengincar dan menghambat gerak maju tank-tank Rusia.
Rudal-rudal panggul Stinger (buatan AS) juga bisa masih bisa diandalkan untuk menjatuhkan helikopter tempur Rusia seperti MI-24 atau KA-52 atau pesawat-pesawat tempur Rusia yang melintas rendah.
Jika di medan tempur, Rusia unggul, embargo ekonomi dan tekanan int’l mulai dirasakan, ditandai dengan kesulitan membayar hutang yang jatuh tempo, juga aksi-aksi protes menentang perang.
Dihentikannya sistem pembayaran transaksi global melalui jaringan (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication-SWIFT) membuat perusahaan dan perbankan Rusia terkucilkan.
Selain adu kuat militer, Perang Rusia vs Ukraina juga membuktikan adu kuat ketahanan ekonomi antara Rusia dan AS bersama negara-negara Barat yang ada di belakang Ukraina. (AFP/Reuters/ns)




