
PEMIMPIN tertinggi Republik Islam Iran Ayatullah Ali Khamenei menginstrukskan militernya untuk menyerang langsung Israel sebagai balasan atas serangan rudal yang menewaskan pimpinan Hamas Ismail Haniyeh (Rabu dinihari, 31/7).
Haniyeh yang berada di Teheran setelah mengikuti acara pelantikan Presiden baru Iran Massoud Pezeshkian sehari sebelumnya (30/7), tewas saat rumah yang ditinggalinya di kompleks veteran Iran di Teheran utara diduga dirudal Israel.
Jasad Haniyeh disemayamkan di Universitas Teheran dan disahalatkan, diimami oleh Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, Kamis siang (1/8) sebelum diterbangkan ke Qatar. Ribuan massa memberikan penghormatan terakhir saat iring-iringan kendaaan pengantar jenasah berangkat menuju bandara Teheran.
“Rezim zionis yang kriminal dan teroris telah membunuh tamu tercinta kita di wilayah kita sehingga menimbulkan duka bagi kita, namun rezim ini sedang menyiapkan sanksi hukuman berat, “ ujar Khamenei dalam pernyataan resminya.
Khamenei menambahkan: “Setelah peristiwa tragis dan pahit yang terjadi di wilayah Iran, kini tugas kami untuk membalas dendam, “ serunya.
Kegeraman Khamenei sangat beralasan, karena selain kehilangan mitranya, tokoh politik Hamas itu, Iran juga dipermalukan Israel karena tidak mampu melindungi tamunya dan juga menunjukkan begitu rapuhnya sistem pertahanan udaranya.
Belum diketahui pasti, selain disebutkan “proyektil dari udara” yang mengakibatkan kematian Haniyeh, mengacu pada rudal presisi jarak jauh atau mungkin juga jenis dron (pesawat nirawak) serang.
Jika ditarik garis lurus, koridor udara antara Iran dan Israel berjarak 1.000 sampai 2000-an km melalui wilayah Irak, bisa juga melalui rute melipir lewat selatan melalui langit Kuwait dan Jordania atau agak ke utara melalui wilayah udara Suriah.
Israel mungkin menggunakan rudal jelajah jarak jauh yang presisinya sangat luar biasa, sampai bisa menyasar suatu titik (bangunan yang ditinggali target) berjarak lebih 1.000 km dan juga lolos dari pelacakan radar dan sistem pertahanan udara Iran.
Bisa jadi pula Israel menggunakan dron kamikaze Harop buatannya berjangkauan lebih 1,000 km yang bisa diluncurkan dari pesawat udara saat mendekati wilayah Iran.
Pertanyaannya, kenapa sistem pertahanan udara Iran tak mampu melacaknya, padahal dron berkecepatan relatif rendah. (maks. 200-an km per jam) walau terbang dalam ketinggian rendah (maks. 1.500 membuatnya mudah lolos dari deteksi radar.
Kematian Haniyeh membuka lagi spekulasi jatuhnya helikopter kepresidenan lawas Bell-212 buatan AS yang menewaskan Presiden Ebrahim Raisi 20 Mei lalu. Mungkinkah akibat sabotase agen-agen Israel?
Tidak menentu
Dari sisi lain, kematian Haniyeh akibat serangan rudal Israel membuat situasi di kawasan Timur Tengah makin memanas dan perang bisa meletus sewaktu-waktu.
Dalam pernyataan resminya, Hamas menyebutkan, Ismail Haniyeh, pemimpin politik mereka, tewas terbunuh di kediamannya di Iran akibat serangan udara Israel. Haniyeh juga kehilangan tiga putra dan empat cucunya dalam serangan udara Israel di Gaza pada April lalu.
Israel sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi atas kematian Haniyeh, namun sebelumnya bertekad untuk melumpuhkan Hamas pasca serangan 7 Oktober ke Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 240-an lainnya.
Kematian Haniyeh hanya beberapa jam setelah Israel mengklaim membunuh Fuad Shukr, komandan militer utama Hizbullah, kelompok milisi yang berbasis di Lebanon yang juga didukung Iran sebagai pembalasan atas serangan roket di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel akhir pekan lalu.
Shukr dilaporkan bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan 12 anak dan remaja Israel, Sabtu (27/07).
PM Lebanon, Najib Mikati, mengutuk “agresi Israel yang terangan-terangan” dan menyebutnya sebagai “tindakan kriminal” dalam “rangkaian operasi brutal”, menewaskan warga sipil yang jelas-jelas melanggar hukum internasional”.
Sebaliknya Menhan Israel Yoav Gallant mengatakan negaranya tidak berusaha melakukan eskalasi dengan Hizbullah, namun “siap menangani semua skenario”.
Di ambang perang terbuka
Pembunuhan Ismail Haniyeh telah membawa kawasan itu lebih dekat ke perang terbuka, kata Nader Hashemi, seorang profesor Studi Timur Tengah di Universitas Georgetown, kepada BBC.
“Saya pikir ini juga berdampak pada peristiwa di Lebanon karena hanya beberapa jam sebelumnya Israel mencoba membunuh seorang pemimpin senior Hizbullah di Beirut Selatan.
Sejumlah negara, termasuk Irak, Turki, Rusia dan Qatar mengutuk serangan tersebut, sedangkan Menlu AS Antony Blinken mengatakan pembunuhan itu adalah “sesuatu yang tidak kami sadari atau terlibat di dalamnya”.
Ismail Abdel Salam Haniyeh, yang akrab dipanggil Abu Al-Abd, lahir di kamp pengungsi Palestina yang menjabat kepala biro politik gerakan Hamas dan pernah menjabat PM pemerintahan ke-10 Otoritas Palestina.
Haniyeh bersama sejumlah pemimpin Hamas diasingkan oleh Israel ke tanah tak bertuan di perbatasan Israel dan Lebanon dan menghabiskan setahun penuh di sana pada 1992.
Setelah masa pengasingan, Haniyeh kembali ke Gaza, lalu diangkat menjadi kepala kantor Sheikh Ahmed Yassin, pemimpin spiritual gerakan Hamas pada 1997, kemudian mencalonkan dii an diangkat sebagai PM Otoritas Palestina pada 16 Feb. 2006.
Semua mata tertuju pada Israel di mana para pemimpinnya bersumpah untuk memburu dan menghukum seluruh pentolan Hamas menyusul serangan pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 240-an warganya.
Israel biasanya tidak berkomentar atas operasinya di luar negeri, namun serangan ini mungkin mengikuti pola sama dengan operasi lainnya yang menyasar pertahanan udara Iran di sekitar fasilitas nuklir Natanz pada 19 April lalu.
Para pejabat AS sebelum kematian Haniyeh menyatakan, perundingan gencatan senjata mungkin akan mencapai kesepatan, meski pertemuan di Roma, Italia, akhir pekan lalu gagal menciptakan terobosan.
Namun sangat sulit menduga yang bakal terjadi pasca kematian Haniyeh, apalagi PM Israel Benjamin Netanyahu telah mengingat- kan warganya, “hari-hari penuh tantangan akan segera tiba”, di tengah kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah
Kemlu Turki dalam pernyatannya menyimpulkan, kemungkinan bakal muncul reaksi dari banyak pihak di kawasan dan meneguhkan opini bahwa pemerintahan PM Netanyahu tidak berniat mencapai perdamaian.
Di Ramallah, markas besar Otoritas Palestina, berita kematian Haniyeh disambut dengan cemas. “Ini membuka pintu neraka,” kata Sabri Saidan, wakil sekretaris jenderal Komite Sentral partai yang berkuasa, Fatah, kepada BBC.
“Saya merasa Israel tidak hanya menyasar kehidupan Haniyeh,” katanya, “tetapi juga keberlangsungan permukiman di wilayah itu. Israel telah membunuh semua asa dan aspirasi untuk mengakhiri permusuhan, ” serunya.
Reaksi dunia
Pemerintah Iran mengumumkan tiga hari berkabung atas kematian Ismail Haniyeh, sedangkan Presiden Masoud Pezeshkian bersumpah akan membuat Israel menyesali perbuatannya kelak.
“Iran akan mempertahankan integritas teritorial, kehormatan, kebanggaan dan martabatnya srta membuat para penyerbu, teroris menyesali aksi pengecut mereka, “ ujarya di medsos X yang dikutip AFP (31/7).
Pezeshkian menyebutkan, kemartiran adalah seni para hamba Allah dan ikatan antara Iran dan Palestina serta perlawanan dan pembelaan bagi yang lemah bakal makin kokh dari sebelumnya.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas seperti dikutip Kantor Berita Palestina WAFA mengutuk pembunuhan Ismail Haniyeh dan menyebut sebagai aksi pengecut dan membahayakan kawasan.
Komentar senada juga dikatakan Qatar yang selama ini menjadi markas Haniyeh, yang mengasingkan diri karena konflik Gaza.
Kemlu Qatar menyebut pembunuhan itu sebagai “kejahatan keji” dan memalukan dan memperingatkan hal tersebut akan memperkeruh suasana menjadi kekacauan dan merusak perdamaian.
Sementara itu, Kemlu Mesir mengatakan, “eskalasi berbahaya” Israel dalam beberapa hari terakhir “berisiko memicu konfrontasi di kawasan itu yang dapat mengakibatkan konsekuensi keamanan yang mengerikan”.
Kementerian luar negeri Irak juga menyebut pembunuhan Haniyeh sebagai “ancaman bagi keamanan dan stabilitas di kawasan”.
AS, sekutu Israel, melalui Menlu Antony Blinken mengatakan, perwujudan gencatan senjata dalam Perang Gaza “adalah Upaya yang harus terus dilakukan pasca kematian Haniyeh.
Menlu AS itu pun membantah, negerinya terlibat dalam konspirasi pembunuhan itu dan menyatakan, AS benar-benar tak tahu dan tidak terlibat terkait pembunuhan itu.
“Sangat sulit untuk berspekulasi, dan saya telah belajar bertahun-tahun untuk tidak pernah berspekulasi tentang dampak satu peristiwa terhadap lainnya. Jadi, saya tidak dapat memberi tahu apa maknanya,” kata Blinken seperti dilaporkan Aljazeera mengutip Channel News Asia (CNA).
Milisi penguasa Yaman, Houthi, dan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, buka suara serangan Israel yang menewaskan pemimpin Ismail Haniyeh.
Anggota Biro Politik Houthi, Moh. Al Huthi, murka terhadap serangan itu seraya menyebutnya tindakan “teroris dan kriminal” dan melanggar kaidah kemanusiaan serta aturan hukum.
“Menargetkan (pembunuhan terhadap sesorang-red) adalah kejahatan teroris yang keji dan pelanggaran hukum serta nilai-nilai ideal secara naif,” tegasnya dalam akun X resmi seperti dikutip AFP.
Perkokoh tekad Hizbullah
Sementara kelompok Hizbullah di akun telegramnya menyebutkan, pembunuhan Haniyeh menguatkan tekad dan semangat para pejuang untuk melawan Israel.
“Kami di Hizbullah berbagi seluruh perasaan sedih dan duka atas kehilangn pemimpin besar kami dengan saudara-saudara terkasih dalam gerakan Hamas , ” tambahnya.
Hamas, Hizbullah, dan Houthi, merupakan aliansi yang bergabung dalam poros perlawanan terhadap Israel yang terus mencaplok tanah Palestina.
Rusia juga buka suara dan mengecam pembunuhan politik terhadap Ismail Haniyeh yang bakal memicu berlanjutnya eskalasi ketegangan di kawasan.
“Ini adalah pembunuhan politik yang sama sekali tidak dapat diterima,” kata Wamenlu Mikhail Bogdanov, dikutip AFP bersumber dari kantor berita milik pemerintah, RIA Novosti.
Sementra Beijing dalam pernyataan resminya meenyebutkan, pembunuhan Haniyeh harus dikutuk. Alasannya, hal ini dapat mendorng eskalasi lebih lanjut di wilayah Timur Tengah yang saat ini membara akibat perang Israel-Hamas.
“China dengan tegas menentang dan mengutuk pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh. Insiden ini bisa memicu ketidakstabilan regional lebih lanjut,” tulis pernyataan resmi itu yang dikutip Reuters.
Situasi di Timur Tengah menjadi tak menentu pasca kematian Haniyeh yang bisa menyeret negara-negara lain dalam konflik antara kubu pendukung Palestina melawan Israel dan konco-konconya.
Sebaliknya, kematian Haniyeh bisa jadi malah membuka peluang perdamaian, karena balas-membalas jika diteruskan, hanya menciptakan musibah demi musibah, memakan biaya dan korban, tanpa penyelesian. (berbagai sumber/ns)




