JAKARTA, KBKNews.id – Perayaan Iduladha identik dengan pembagian daging kurban, seperti kambing, sapi, atau unta. Umumnya, daging yang diterima masih mentah, sehingga penting bagi masyarakat untuk mengetahui cara penyimpanan yang tepat agar daging tetap segar dan tidak cepat rusak. Penyimpanan yang benar akan mencegah daging terbuang sia-sia dan menjaga kandungan gizinya.
Pakar gizi dari Universitas Jember (Unej), Dr. Farida Wahyu Ningtyas, menjelaskan bahwa suhu penyimpanan memainkan peran penting dalam menjaga kualitas gizi daging. Ia menyarankan jika daging tidak segera diolah, sebaiknya disimpan di lemari es (chiller) dengan suhu antara 0 hingga 4 derajat Celsius.
“Menyimpan daging kurban di lemari es dapat menjadi solusi jika tidak langsung diolah. Untuk lemari es (chiller), suhu optimal adalah 0 derajat Celsius hingga 4 derajat Celsius,” katanya, dilansir dari Antara.
Dalam kondisi ini, daging potongan bisa bertahan 3–5 hari, sedangkan daging cincang hanya 1–2 hari.
Farida menambahkan, suhu di bawah 4 derajat Celsius sangat efektif dalam memperlambat pertumbuhan bakteri berbahaya seperti Salmonella dan E.coli yang dapat berkembang di suhu di atas 5 derajat Celsius.
Untuk penyimpanan dalam jangka panjang, penggunaan freezer dengan suhu −18 derajat Celsius atau lebih rendah sangat disarankan. Dalam suhu beku ini, daging potongan bisa disimpan hingga 12 bulan, dan daging cincang hingga 4 bulan.
Pembekuan pada suhu tersebut menghentikan aktivitas mikroorganisme dan memperlambat penurunan kualitas gizi, termasuk kandungan protein, zat besi, vitamin B12, dan zinc.
“Pada suhu −18 derajat Celsius, pertumbuhan mikroorganisme dihentikan sepenuhnya, dan proses degradasi gizi berjalan sangat lambat. Kandungan protein, zat besi, vitamin B12, dan zinc dapat dipertahankan dengan baik,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa beberapa vitamin seperti B1 (tiamin) bisa sedikit berkurang jika disimpan terlalu lama.
Selain penyimpanan, cara mencairkan daging beku juga perlu diperhatikan. Farida menyarankan dua metode aman, yaitu:
- Pencairan di lemari es dengan suhu sekitar 4 derajat Celsius. Metode ini dianggap paling aman untuk menjaga gizi dan mencegah bakteri.
- Pencairan dengan air dingin menggunakan wadah tertutup rapat. Suhu air sebaiknya sekitar 15 derajat Celsius dan diganti setiap 30 menit. Durasi pencairan sekitar 2–3 jam.
“Meskipun sedikit lebih tinggi dalam kehilangan cairan dibanding pencairan di kulkas, metode ini tetap aman jika daging dibungkus rapat untuk mencegah kontaminasi.” tuturnya.
Farida tidak menyarankan mencairkan daging di suhu ruang karena bisa memicu pertumbuhan bakteri dengan cepat.
“Begitu pula dengan pencairan menggunakan microwave yang dapat menyebabkan pemanasan tidak merata dan berisiko pertumbuhan bakteri jika tidak segera dimasak.” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda daging yang mulai rusak, seperti perubahan warna (menjadi abu-abu, kehijauan, atau coklat tua), bau tak sedap (asam atau tengik), serta tekstur berlendir.
Farida juga menyinggung fenomena freezer burn, yaitu kondisi di mana permukaan daging menjadi kering dan warnanya berubah akibat penyimpanan terlalu lama atau pembungkus yang tidak rapat.
“Kondisi itu dapat menyebabkan kehilangan protein larut dan vitamin, serta menurunkan kualitas sensori daging,” pungkasnya.




