Titik Balik Aksi NIIS di Mosul dan Raqqa

Kaum perempuan anak-anak meninggalkan chekpoint Qayara, 50 Km selatan Mosul yang dilanda pertempuran antara pasukan Irak dan NIIS (Indian Express)

AKSI-AKSI kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) diperkirakan akan mengalami titik balik jika basis utama perlawanan mereka di kota Mosul, Irak dan Raqqa, Suriah jatuh ke tangan musuh-musuhnya.

Didukung tank-tank tempur utama T-72 , pasukan reguler Irak dimotori oleh satuan elite kontra teror CTS mulai bergerak ke bagian kota tua di Mosul barat, Irak, Minggu (18/6) setelah wilayah itu sebelumnya dibombardir dari udara oleh pesawat-pesawat tempur koalisi pimpinan AS.

Di mesjid Agung al-Nuri, Mosul barat, pentolan NIIS Abu Bakar al-Baghdadi memproklamasikan negara khilafah pada Juni 2014. Mosul dan Raqqa juga ditetapkan sebagai ibukota kekhilafahan di kedua negara itu.

Setelah itu pasukan NIIS yang didukung kombatan asing berhasil menduduki sejumlah kota di Irak dan Suriah, sampai kemudian kelompok koalisi internasional pimpinan AS, pasukan pemerintah petahana di Irak dan Suriah, juga Rusia berhasil menghentikan gerak mereka.

Pasukan pemerintah Irak berhasil merebut kembali wilayah timur kota Mosul dari tangan NIIS menjelang akhir Januari 2016 dan hampir 90 persen wilayah kota termasuk Mosul barat setelah sejumlah jembatan vital menuju kota dan bandara Mosul direbut kembali.

Namun di bagian kota tua Mosul barat, pasukan Irak mengalami kesulitan untuk menaklukkan kombatan NIIS yang berlindung di balik rapatnya bangunan dan padatnya permukiman penduduk dan memanfaatkan lorong-lorong  sempit di kawasan itu untuk mengintai dan menyergap musuh.

Perwakilan PBB bagi Pengungsi Irak Bruno Geddo memperkirakan, milisi NIIS menyandera lebih 100.000 warga sipil termasuk kaum perempuan dan anak-anak untuk dijadikan perisai hidup. “Mereka bahkan menggiring warga ke tengah pertempuran, “ tutur Geddo.

Sejumlah kombatan NIIS juga mengubah tampilan mereka,  misalnya dengan mencukur jenggot, menjadi kelimis seperti wajah-wajah penduduk biasa dan berbaur dengan warga sipil sehingga menyulitkan pihak lawan untuk  mengindentifikasi mereka.

Pasukan Irak menargetkan, seluruh bagian kota Mosul bisa dikuasai sebelum Idul Fitri pekan depan, walau nampaknya hal itu sulit diwujudkan, mengingat kombatan NIIS pasti akan mati-matian mempertahankannya.

Jatuhnya kota Mosul selain merupakan pukulan telak bagi  NIIS, juga menandai terkuburnya pembentukan kekhilafahan yang mereka cita-citakan.

Sementara itu di kota Raqqa, ibukota NIIS di Suriah, suasananya juga tidak jauh berbeda. Satuan koalisi pimpinan AS, milisi Kurdi dan Arab sedang bersiap-siap melancarkan serangan pamungkas untuk mengakhiri perlawanan kombatan NIIS.

Hampir seluruh apartemen yang berada di jalan utama kota Raqqa luluh lantak akibat serangan udara koalisi, sementara sejumlah penduduk sipil masih terperangkap di lokasi pertempuran, sebagian yang mujur berhasil lolos.

Kekalahan NIIS di basis utama di Mosul dan Raqqa agaknya mendorong mereka mengalihkan kegiatan dengan melancarkan serangan teror ke negara-negara Eropa dan menduduki kota  Marawi, Pulau Mindanao, Filipina.

Jadi sangat beralasan, jika kelompok Maute di kota Marawi yang berafiliasi dengan NIIS berhasil dilumpuhkan oleh pasukan pemerintah Filipina, mereka akan menyeberang ke wilayah Indonesia yang berbatasan. (AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                   

S

Advertisement