spot_img

TO BUILD THE WORLD A NEW WITH ZAKAT

New York, sebagian orang menyebutnya sebagai pusat dunia, karena hampir semuanya yang dianggap top sedunia ada di kota itu. Sebagian lagi menyebutnya pusat kapitalisme, karena pusat perdagangan saham dan mata uang dunia, WallStreet, ada di situ. Juga sebagai pusat teater dunia, karena gedung teater Broadway yang melegenda itu ada di sana.

Tak sedikit pula yang menyebut New York sebagai pusat harapan  bagi umat manusia, karena  Markas Besar PBB terletak di kota ini. Suka tidak suka, mau tidak mau, nasib dunia ditentukan di gedung pencakar langit  di kawasan Manhattan itu.

Para wakil bangsa-bangsa sedunia memperjuangkan apa yang dianggap hak-hak azasi manusia atas kemerdekaan, keadilan, kesejahteraan dan perdamaian sejak PBB berdiri tahun 1945. Gedung utama PBB di New York yang berlantai 39 itu dibangun pada tahun 1949 dan selesai tahun 1951. Sebelumnya kantor PBB di London.

Dengan ingatan sejarah tentang perjuangan umat manusia demi peradaban yang lebih tinggi itu, saya tiba di New York tanggal 27 Mei lalu untuk menghadiri Konferensi World Zakat Forum (WZF) selama dua hari, mulai 28 Mei. Ini adalah kunjungan saya yang kesekian kalinya di New York, setelah yang pertama kali pada akhir 1978. Tiba-tiba saya tersentak oleh sebuah kesadaran bahwa hari kedatangan dan tujuan kunjungan kali ini berkaitan erat dan sangat penuh makna.  

Tanggal 27 Mei lalu bertepatan dengan 27 Rajab, menurut penanggalan Islam. Hari itu kaum Muslim sedunia, termasuk di Indonesia, memperingati “Isra Mikraj” Nabi Besar Muhammad Saw. Pada malam 27 Rajab Allah memperjalankan Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Arasy untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah. Pada kesempatan itu, seperti dikisahkan dalam Surat Al Israa (17:78), Muhammad mendapat perintah untuk mendirikan shalat  di waktu tergelincir matahari sampai gelap malam dan shalat Subuh. Ini yang kemudian dikenal dengan shalat lima waktu: Dhuhur, Ashar, Magrib, Isya dan Subuh.

Dalam Al Quran, perintah mendirikan shalat diikuti langsung oleh perintah menunaikan zakat. Ada 27 ayat dalam Al Quran yang menyebut ini. Dalam Surat Al Baqarah saja, kedua perintah yang berurutan itu disebut lima kali. Bagi saya, seorang pembelajar Islam, kedua perintah yang berurutan itu seperti “two in one”. Artinya, tidak sempurna shalat seseorang yang tidak membayar zakat.

Lho, lha kok, konferensi WZF yang bertema “Zakat for Global Welfare”  atau “Zakat untuk Kesejahteraan Dunia” ini berlangsung  sehari setelah peringatan “Isra Mikraj” dan di New York lagi, tempat Markas Besar PBB, pusat harapan bagi perbaikan nasib umat manusia?

Sekitar 60 orang pakar, pengamat dan pengurus organisasi zakat sedunia dari sepuluh negara diundang untuk hadir dan bicara dalam konferensi ini. Mereka dari Afrika Selatan, Sudan, Albania, Bosnia, Yaman, Pakistan, India, Malaysia, Indonesia dan Amerika Serikat.  Konferensi ini diprakarsai BAZNAS dan Dompet Dhuafa (DD) bekerjasama dengan The Nusantara Foundation, New York, di bawah pimpinan Ustadz Shamsi Ali, asal Sulawesi Selatan, yang sudah bermukim dan berdakwah di AS selama 16 tahun. Nuantara Foundation ini didirikan oleh DD dan Ustadz Shamsi Ali, yang juga pimpinan Masjid Indonesia, Al Hikmah, New York.

Terungkap dalam konferensi itu bahwa potensi zakat umat Islam sedunia sangat besar.  Dan, jika dikelola secara amanah atau profesional, zakat bisa menjadi sarana ampuh bagi kesejahteraan umat manusia sedunia.   Sebagai contoh, menurut data BAZNAS, potensi zakat Indonesia per tahun kini adalah Rp 270 trilyun.  Sampai sekarang yang sudah terkumpul dan dikelola oleh sejumlah lembaga amil zakat Indonesia, termasuk DD, barulah satu persen saja.

Konferensi itu menjadi ajang pertukaran informasi dan pengalaman, saling belajar  dan memupuk kerjasama persaudaraan Muslim sedunia lintas bangsa. Semuanya sepakat perlunya penetapan standard profesionalisme dalam pengelolaan zakat dalam rangka penerapan sistem ekonomi syariah.  Secara aklamasi,  Ahmad Juwaini, Dirut DD Filantrofi,  dipilih menjadi Sekjen World Zakat Forum untuk periode 2014-2017, menggantikan Ustadz Prof. Didin Hafifuddin, dengan kantor sektretariat  tetap di Jakarta.

Mengharukan mendengar cerita dua tokoh Muslim Afrika-Amerika,  Imam Talib A. Rashid dan Sheik T. Bashir, mereka keturunan Afrika Hitam, yang mengatakan kaum Muslim di AS sebagai: “A visible, but hidden minority”. Artinya: nampak, tapi minoritas yang tersembunyi. Jelasnya, mereka belum menikmati hak-hak seperti warga Negara AS umumnya.

Mendengar  itu, saya langsung teringat pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum ke 15 PBB pada Jumat, 30 September 1960 di Markas Besar PBB yang berjudul : “To Build the World Anew” (Membangun Dunia Baru). Pidato itu memperjuangkan persamaan hak bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika, menyusul Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

“Sejarah berulang, di sini kini kita memprakasai Pembangunan Dunia Baru dengan Zakat”, demikian  saya tutup konferensi itu di sebuah gedung di 42nd Street, di Manhattan, tempat kantor Nusantara Foundation, tak jauh dari Markas Besar PBB. – Parni Hadi, Pemimpin Umum KBK

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles