Toilet, Cermin Wajah Bangsa

Contoh jamban "helikopter" (diatas kali). Belum seluruhnya penduduk Indonesia melakukan BAB dengan baik (BABB), selebihnya masih BAB Sembarangan (BABS) hingga mengakibatkan terpapar berbagai penyakit. Satu dari empat penduduk juga belum memiliki jamnan sendiri.

KITA sering menganggap sepele urusan kebersihan toilet atau jamban, di rumah-rumah, perkantoran maupun tempat-tempat umum, padahal hal itu menunjukkan salah satu indikator peradaban dan kemajuan suatu bangsa atau negara.

Lihat saja di negara-negara maju. Betapa nyamannya orang menunaikan hajat paling penting tersebut, selain tersedia dimana-mana dengan sebaran lokasi yang mudah dijangkau, kebersihan dan higienitas toilet-toilet umum juga selalu terjaga.

Tingginya kesadaran akan pentingnya toilet yang bersih dan higienis, tampak sudah merata, di lingkungan hunian apartemen, kantor-kantor, pusat-pusat keramaian atau perbelanjaan, bandara, stasiun KA atau pelabuhan, begitu pula di instalasi militer seperti kapal perang atau barak militer.

Sebut saja Jepang, negara-negara di Eropa, Amerika Serikat dan Australia, bahkan tidak usah jauh-jauh, Singapura, Malaysia dan di sejumlah negara ASEAN lainnya, kondisi higienitas termsuk toilet-toilet umum jauh lebih baik dari negeri ini.

Indonesia memang masih jauh tertinggal berdasarkan daftar peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) termasuk pengelolaan sanitasi yakni pada posisi ke-116 dari 189 negara, di bawah Malaysia pada peringkat ke-57 dan Filipina pada peringkat ke-113.

Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 juga menunjukkan bahwa penduduk usia 10 tahun ke atas yang sudah melakukan BAB yang baik (BABB), bukan BAB Sembarangan (BABS) baru mencapai 88,2 persen walau lumayan membaik dibandingkan pada 2013 (82,6 persen).

Menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Imran Agus Nurali, masih banyak penduduk di lokasi-lokasi sulit termasuk di wilayah pesisir atau tepian kali yang tidak memiliki uang untuk membangun jamban sendiri. Untuk itu, diharapkan agar program IPAL dan WC komunal dijadikan solusi terbaik dan tercepat untuk mengatasinya.

Di seputar ibukota saja, di wilayah Jabodetabek, sekitar separuh jamban warga tidak memenuhi persyaratan teknis dan konsep lingkungan, bahkan di pinggiran ibukota, masih ada warga yang BABS di kebun-kebun atau di jamban “helikopter” (di atas kali).

Bau menyengat urinoir atau jamban masih mudah dijumpai di mesjid-mesjid dan mushala, sehingga ungkapan “kebersihan adalah sebagian dari iman” menjadi tanpa makna, begitu pula di gedung sekolah-sekolah negeri yang seharusnya menjadi kawah candradimuka pendidikan kebersihan bagi anak-anak penerus bangsa.

Memprihatinkan, toilet-tolet dan Kantor Instansi Daerah
Yang lebih memprihatinkan, kondisi toilet-toilet di sejumlah kantor gubernuran, kabupaten atau walikota, dinas-dinas serta institusi lainnya, sehingga ke depannya, salah satu keberhasilan para pemimpin daerah perlu diukur dari pengelolaan kebersihan lingkungan.

Fakta mengungkap, BABS mengakibatkan 150.000 anak Indonesia meninggal setiap tahun dan satu dari empt atau lebih 84 juta penduduk tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Orang sering menduga, penyebab stunting (tubuh kecil) adalah kurang gizi atau nutrisi, padahal 70 persen terkena diare berasal dari infeksi parasit akibat BABS.

Studi Program Air dan Sanitasi Bank Dunia (WSP) juga mengungkapkan, Indonesia kehilangan sekitar 6,3 milyar dollar AS atau setara 2,3 persen Produk Domestic Bruto (PDB) akibat kondisi sanitasi dan higienitas yang buruk.

Yang menggembirakan, membaiknya kondisi kebersihan toilet-toilet umum secara signifikan di stasiun-stasiun KA dalam beberapa tahun terakhir ini, juga di bandara-bandara, mal-mal dan pusat perbelanjaan besar di ibukota dan kota-kota besar di Indonesia.

Gerakan toilet bersih agaknya perlu digaungkan sebagai salah satu bagian Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Selain mengorbankan kesehatan, bahkan nyawa manusia , juga kerugian ekonomi, misalnya membuat enggan turis datang, perilaku BABS dan buruknya sanitasi termasuk toilet-toilet umum, bisa menstigmakan Indonesia sebagai bangsa yang jorok.

Advertisement