Tolak Pabrik Semen, 9 Wanita Asal Kendeng Semen Kaki

JAKARTA (KBK)- Warga Gunung Kendeng, Jawa Tengah menggelar aksi pengecoran kaki di depan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Rabu (13/4/2016). Terdapat sembilan ibu-ubu asal Gunung Kendeng di semen kakinya sejak Senin (11/4/2016).

Aksi pengecoran kaki ini adalah penegasan sikap menolak berdirinya pabrik semen di wilayah pertanian pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Hal tersebut merupakan simbol bahwa pabrik semen dapat memasung dan merusak sumber kehidupan dan lingkungan para petani.

“Jika pabrik semen tidak dihentikan, maka rakyat kecil, para petani, buruh tani dan masyarakat miskim di desa lah yang akan menjadi korban,” Ujar Joko Prianto, Salah seorang petani asal Kendeng yang ikut berorasi di Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Dampak nyata sudah dirasakan warga Kendeng. Setidaknya 61 orang meninggal akibat penyakit pernafasan. Truk pengangkut, lanjutnya, lalu lalang setiap hari hingga menimbulkan debu dan masuk ke pemukiman warga.

Dampak hancurnya lingkungan juga dikhawatirkan warga. Pasalnya pabrik semen akan dibangun seluas 60 Hektare. “Irigasi dan pengairan akan terganggu. Sedangkan tanah dan air adalah sumber kehidupan kami,” ujarnya.

Dikatakannya, Joko dan para petani yang menolak hadirnya pabrik semen tersebut sudah berlangsung sejak 2014. Pihaknya juga membangun tenda didepan pintu masuk pabrik tersebut guna menyatakan penolakan mereka. Intimidasi dan kekerasan kerap mereka rasakan saat menduduki tenda tersebut.

“Sering ada preman yang datangi kami. Makanya sekarang banyak polisi yang berjaga di dekat tenda,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, setidaknya dua kabupaten yaitu kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora yang terdampak oleh hadirnya pabrik semen tersebut.
Pihaknya juga menggelar aksi serupa di Jakarta pada tahun 2014. Namun hingga saat ini belum ada upaya dari pemerintah untuk menangani aspirasi mereka.

“Beberapa bulan lalu kamu juga menggelar aksi di Pemerintah Daerah Jateng. Namun tidak ada tanggapan. Oleh sebab itu kami datang ke Jakarta,” pungkasnya.

Advertisement