Trump ancam Rusia stop perang di Ukraina

Presiden AS Donald menggertak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan perangnya di UKraina atau mendapat sanksi ekonomi lebih berat dari AS dan sekutunya (ilustrasi you tube)

SUKSES dengan gaya cowboynya memaksa Iran dan Israel melakukan gencatan senjata setelah terlibat konflik militer masif selama 12 hari (13 – 24 Juni), Presiden AS Donald Trump mengancam Rusia untuk menghentikan perang di Ukraina.

AFP melaporkan, Presiden Trump mengeluarkan ultimatum tegas kepada Presiden Rusia Vladimir Putin agar menghentikan perang di Ukraina dalam waktu 50 hari, jika tidak, ia mengancam akan memberlakukan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Moskwa.

“Kami akan memberlakukan tarif sangat tinggi, sampai 100 persen jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari, “ ujar  Trump saat pertemuan di Ruang Oval bersama Sekjen NATO, Mark Rutte, seperti yang dilansir dari AFP pada Selasa (15/7).

Trump juga mengancam memberlakukan “tarif sekunder”, yang akan ditargetkan kepada mitra dagang utama Rusia, seperti China, India, Turkiye, dan Belarus guna memperlemah kemampuan Moskwa bertahan dari sanksi Barat yang sudah berjalan.

Bersamaan dengan ancaman sanksi ekonomi tersebut, Trump dan Rutte mengumumkan kesepakatan NATO untuk membeli senjata bernilai miliaran dollar AS dari AS termasuk sistem pertahanan udara Patriot yang akan dikirimkan ke Ukraina.

“Ini benar-benar besar,” kata Rutte. Menurutnya, rencana sanksi ekonomi tersebut akan menjadi solusi AS yang selama ini menanggung beban lebih besar ketimbang sekutu Eropa dalam membantu Ukraina perang melawan Rusia.

Dalam wawancara dengan BBC, Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap Putin. “Saya kecewa padanya (Putin), tapi saya belum selesai dengannya,” ujar Trump.

Saat ditanya apakah ia mempercayai Putin, Trump menjawab: “Saya hampir tidak mempercayai siapa pun.” Trump bahkan menyebut istrinya, Melania, sebagai sosok yang membantunya membuka mata terhadap situasi nyata di Ukraina.

“Saya pulang, saya berkata kepada Ibu Negara, ‘Kamu tahu, saya berbicara dengan Vladimir hari ini, kami punya percakapan yang indah.’ Dan dia berkata, ‘Oh benar? Kota lain baru saja diserang,’” cerita Trump mengutip informasi dari isterinya.

Respons positif

Respons dunia terhadap langkah sanksi ekonomi AS kepada Rusia Langkah Trump untuk memberikan sanksi ekonomi kepada Rusia mendapatkan dukungan dari bipartisan di AS.

Senator Lindsey Graham dan Richard Blumenthal memuji ultimatum Trump untuk Rusia, namun, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menilai 50 hari terlalu lama mengingat warga sipil Ukraina terus menjadi korban setiap hari.

Sementara, Pemerintah China menentang langkah Trump ini dan menganggapnya sebagai sanksi sepihak yang ilegal. “Paksaan dan tekanan tidak akan menyelesaikan masalah,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Selasa (15/7/2025).

Di lapangan, pasukan Rusia mengeklaim telah merebut beberapa desa baru di wilayah Donetsk dan Zaporizhzhia, serta menewaskan sedikitnya tiga warga sipil di Kharkiv dan Sumy.

Sementara itu, Zelensky di Kyiv mengusulkan perombakan politik besar-besaran. Ia merekomendasikan Menteri Ekonomi Yulia Svyrydenko untuk menjadi perdana menteri, dan menunjuk perdana menteri saat ini Denys Shmygal sebagai menteri pertahanan.

Apakah kali ini, gaya cowboy Trump juga mampu menaklukkan Pemimpin negara Beruang Meah ke meja perundingan, minimal gencatan senjata? Time will tell! (AP/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here