JAKARTA, KBKNews.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu kontroversi setelah mengunggah foto-foto gelandangan yang ia temui dalam perjalanan menuju lapangan golf miliknya. Dia mengancam gelandangan segera dideportasi.
Mengutip The Guardian, Senin (11/8/2025) waktu setempat, Trump mengunggah empat foto tenda-tenda gelandangan di akun media sosial Truth Social, dengan pesan, “Mereka harus pergi sekarang juga.”

Ia menambahkan akan menyediakan tempat penampungan, namun lokasinya jauh dari ibu kota.
Foto-foto tersebut diambil dari iring-iringan kendaraan presiden saat menuju klub golfnya di Virginia. Pesan itu dianggap sebagai peringatan keras bahwa bila gelandangan tidak pergi secara sukarela, mereka akan diusir paksa.
Trump sebelumnya kerap mengkritik pemerintahan Kota Washington DC yang condong ke Partai Demokrat, bahkan pernah menyiratkan keinginan untuk mencabut otonomi daerah tersebut dan menjadikannya kota federal.
Menurut laporan Reuters dan Washington Post, Gedung Putih telah mengerahkan 450 petugas penegak hukum federal dan 120 agen FBI ke Washington DC akhir pekan lalu untuk menangani kasus perampasan mobil dan kejahatan lainnya. Pemerintahan Trump juga mempertimbangkan mengerahkan ratusan personel Garda Nasional.
Langkah ini memunculkan kekhawatiran publik, mengingat pada Juni lalu pemerintahan Trump menuai kritik tajam setelah mengerahkan Garda Nasional untuk membubarkan demonstrasi menentang penindakan imigrasi ilegal di Los Angeles.
Namun, The Guardian mencatat bahwa klaim Trump soal masalah gelandangan dan kriminalitas di Washington DC tidak sesuai data. Statistik Kepolisian Metropolitan yang dirilis pemerintah federal pada Januari lalu menunjukkan tingkat kejahatan dengan kekerasan di DC turun 35% dibanding tahun sebelumnya, mencapai titik terendah dalam 30 tahun terakhir.
Wali Kota Washington DC, Muriel Bowser, dalam wawancara dengan MSNBC menegaskan pihaknya telah bekerja keras menurunkan angka kriminalitas selama dua tahun terakhir. “Sekarang, tingkat kejahatan dengan kekerasan turun ke level terendah dalam 30 tahun, dan data terbaru menunjukkan penurunan tambahan sebesar 26% tahun ini,” ujarnya.





