spot_img

Tukang Parkir perlukah?

KETERLALUAN! Seorang juru atau tukang parkir di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat  yang ribut gegara menarik uang parkir di tempat parkir Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat ramai divitalkan di medsos baru-baru ini.

Tak tanggung-tanggung,  tega-teganya ia memaksa pengendara mobil yang hanya parkir beberapa jam, uang parkir RP150.000. Tukang parkir liar itu lalu ditahan polisi, karena setelah dicek urin, ia terbukti positif mengosumsi narkoba.

Sedangkan perbuatannya memalak pengendara yang hendak parkir tidak diproses hukum karena ia belum sempat menerima uang karena  polisi keburu tiba di lokasi untuk melerai saat pelaku dan calon korban beradu mulut.

Si juru parkir berdalih, uang parkir sejumlah itu sudah biasa ditariknya dari para pengendara, untuk biaya kebersihan dan keamanan yang disetorkannya pada penanggungjawab, sebaliknya calon korban ngotot, jumlah itu sangat tidak wajar.

Normalnya, di berbagai lokasi parkir resmi di wilayah ibukota, uang parkir dipungut Rp3.000 an per jam, jadi jika sampai menginap 24 jam pun, paling tinggi Rp72.000

Tukang parkir menarik uang semau-maunya, marak terjadi, terutama di saat musim liburan, terutama lebaran di tempat-tempat wisata dan keramaian

Kehadiran tukang parkir kerap menuai pro dan kontra, karena ada warga yang menganggap mereka membantu menjaga kendaraan sekaligus mengatur tempat parkir agar tidak semrawut sehingga mengganggu lalu lintas, sebaliknya, ada juga yang keberatan, kehadiran mereka cuma menambah pengeluaran.

Profesi sebagai juru atau tukang parkir liar di negeri ini cukup menjanjikan. Bayangkan! Tanpa keahlian, tanpa harus menyewa lahan,  bisa mengutip pengendara yang parkir, kadang-kadang dengan nilai semau-maunya.

Di luar negeri, setiap pengemudi pasti sudah mahir memarkir kendaraan dalam situasi apa pun karena persyaratan untuk mendapatkan SIM cukup ketat dan ngak ada yang “nembak”, jadi tak diperlukan panduan dari tukang parkir.

Profesi juru parkir hampir tidak ditemukan di negara-negara jiran Singapura, Malaysia dan lainnya, apalagi di negara-negara  yang perekonomiannya maju.

Selain lahan parkir yang luas, di banyak negara, terutama negara-negara maju, jumlah kendaraana pribadi juga tidak banyak, karena mayoritas warga menggunakan trasportasi massal seperti subway, KRL, LRT atau MRT.

Sebaliknya, di Indonesia, tukang parkir sulit diberantas, karena terkadang di belakangnya ada ormas atau oknum tertentu yang kecipratan rezeki, ikut membackingi usaha  parkir liar.

Di sejumlah usaha swalayan lingkungn hunian, sebenarnya pengelola swalayan juga tidak membebani calon pembeli dengan uang parkir alias gratis, namun faktanya, ada saja orang-orang yang “membantu” parkir kendaran dengan imbalan tentu.

Masalahnya, kemana mereka mecari nafkah jika pemerintah setempat melarang mereka melakukan kegiatan? Ujung-ujungnya bisa malah anarkis. Mereka bisa merusak kendaraan yang diparkir atau melempari swalayan.

 

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles