KUPANG – Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, melaporkan bahwa dari pukul 06.00 WITA hingga 12.00 WITA terjadi sebelas kali erupsi di puncak Gunung Ile Lewotolok.
“Tercatat 11 kali letusan di puncak gunung dengan ketinggian paling tinggi 800 meter,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, dalam laporannya, Selasa (14/5/2024), siang.
Ia menyatakan bahwa letusan tersebut mengeluarkan asap berwarna putih, kelabu, dan hitam. Visual gunung terlihat jelas hingga kabut 0-I.
Selain itu, asap kawah bertekanan lemah hingga sedang terlihat berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal dan mencapai ketinggian 50-500 meter di atas puncak kawah.
Yeremias menjelaskan bahwa dari sebelas letusan tersebut, amplitudo tercatat berkisar antara 20,8 hingga 34,5 milimeter, dengan durasi 58 hingga 137 detik.
Selain letusan, gunung tersebut juga mengalami hembusan sebanyak 76 kali, dengan amplitudo 11,7 hingga 27,2 milimeter dan durasi hembusan 29 hingga 197 detik.
Pantauan Tremor Menerus (Microtremor) juga menunjukkan amplitudo 6,6-23 mm, dengan yang paling dominan adalah 6,6 mm.
Ia menambahkan bahwa status gunung tersebut masih berada pada level III atau siaga. Berdasarkan laporan mingguan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas vulkanik di gunung ini masih cukup tinggi.
Karena itu, Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat di Desa Lamatokan dan Jontona mewaspadai potensi ancaman guguran atau longsoran lava dan awan panas dari bagian timur puncak atau kawah gunung.
Masyarakat Desa Jontona dan Todanara direkomendasikan untuk tidak memasuki wilayah sektoral selatan dan tenggara sejauh tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.





