ADAGIUM lawas “tidak ada teman sejati, yang ada hanyalah kepentingan abadi” agaknya berlaku dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Turki terkait persoalan etnis Kurdi di Suriah.
Selain sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), AS dan Turki berada satu kubu bersama pasukan rezim Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad dan milisi etnis Kurdi memerangi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
Pasca takluknya NIIS, Turki berniat menyerang milisi Kurdi (YPG) yang berbasis di wilayah Afrin, Suriah, sebaliknya AS yang selama ini di belakang YPG tentu saja membela mitranya itu yang juga berjasa dalam penumbangan rezim Saddam Hussein.
Bagi Turki, separatis Kurdi yang wilayahnya membentang di tapal batas dengan Suriah bagaikan “duri dalam daging” karena sering terjadi kontak senjata dan aksi-aksi unjukrasa di sejumlah kota di Turki yang menganggu stabilitas politik.
Wilayah Kurdistan berada di perbatasan dengan Irak, Iran, Turki dan Suriah, sehingga jutaan etnis Kurdi juga tersebar di negara-negara tersebut.
Lawatan Panglima AB Turki Jenderal Hulusi Akar ke Moskow (18/1) lalu selain dinilai pengamat sebagai upaya untuk mendapat “restu” dari Rusia, juga membuka babak baru konflik Suriah dan konfrontasi terbuka antara AS dan Turki.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahkan mengeluarkan ancaman akan melancarkan operasi serangan udara ke sejumlah kota-kota di Suriah yang dikuasai milisi YPG.
Sebaliknya, AS meminta agar Turki tetap fokus memerangi sisa-sisa kelompok NIIS, dan tidak meneruskan rencananya untuk melibatkan diri dalam konflik antara militer rezim al-Assad dan milisi YPG di Suriah.
AS sebelumnya juga berencana menempatkan sekitar 30.000 anggota pasukannya untuk “mengamankan” wilayah yang dikuasai YPG terutama di sekitar Afrin, wilayah terluas di timur laut Suriah.
Konflik Suriah bermula antara rezim al-Assad melawan kelompok perlawanan (FSA), kemudian bergeser ke perang antara koalisi internasional (AS, Iran, Rusia, Turki dan Kurdi) melawan NIIS, dan kini cakar-cakaran antara anggota koalisi.
Lebih 300.000 orang tewas – sekitar sejuta mengungsi, menyeberangi laut Mediteranea atau melalui jalan darat menuju Eropah , ribuan diantaranya menemui ajal, kandas di lautan – selama lebih lima tahun konflik antara pasukan rezim al-Assad dan FSA.
Pertanyaannya, apakah para elite pihak-pihak yang bertikai belum bosan untuk menebar maut lagi di Suriah?
Turki sendiri bergeming terhadap sikap AS tersebut dan sejauh ini sudah menggelar satuan tentara didukung tank-tank dan artileri berat ke wilayah perbatasan Suriah dengan alasan untuk mengamankan kedaulatannya.
Selain terkait isu Afrin, hubungan AS dan Turki yang sesama anggota NATO sudah dingin karena penolakan AS untuk mengekstradisi pimpinan kudeta yang gagal di Turki pada 2015 Fethullah Gulen yang saat ini bermukim di negeri itu.
Jika terjadi eskalasi konflik antara AS dan Turki, tentu selanjutnya akan melibatkan Rusia dan Iran yang selama ini berseberangan dengan AS, kecuali dalam perang melawan NIIS.




