BOGOR – Tinggi muka air (TMA) Sungai Ciliwung di Bendungan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor mencapai 0 sentimeter saat ini karena musim kemarau.
Kondisi sungai yang tidak deras ini dimanfaatkan oleh warga sekitar. Beberapa di antara mereka mengeruk pasir yang ada di sekitar bendungan untuk dijual kembali.
Bahkan, dilansir Republika.co.id, sejumlah anak-anak ada yang bermain layangan di atas badan sungai yang kering dan saluran irigasi Kalibaru juga dimanfaatkan warga setempat untuk wisata ngalun sungai.
Pelaksana Bendung Katulampa, Andi Sudirman, mengatakan saat ini diperkirakan debit air yang masuk dari Sungai Ciliwung menuju Bendungan Katulampa ada 3.000 liter hingga 4.000 liter per detik. Debit air itu kemudian dibagi ke saluran irigasi Kalibaru dan ke aliran Sungai Ciliwunh sendiri.
“Kita atur untuk irigasi 3.000 liter, untuk penggelontoran Ciliwung ke bawah kita alirkan 500 liter. Dalam arti menjelang musim kemarau, air mulai kritis di kawasan Katulampa,” kata Andi ketika ditemui Republika di Pos Jaga Bendung Katulampa, Rabu (26/7/2023).
Andi menjelaskan, TMA Bendungan Katulampa yang menyentuh 0 centimeter memang terjadi berulang setiap tahun ketika menjelang dan memasuki musim kemarau. Yakni antara Juli hingga September.
“Tetapi sekarang ini betul-betul dirasakan cukup drastis turunnya. Sampai biasanya ada debit 5.000 liter sampai di atas 10.000 liter, memasuki bulan Juni hanya ada 3.000-4.000 liter. Bahkan saat ini mungkin berangsur turun terus menerus,” jelas Andi.
Meski demikian, menurut Andi yang sudah berjaga di Bendungan Katulampa sejak 1987, kondisi bendungan masih belum separah pada 1998. Di mana saat itu debit air hanya berada di angka 1.500 liter per detik.
Adapun penyebab dari rendahnya TMA dan debit air Ciliwung di Bendungan Katulampa, yakni belum ada hujan dengan intensitas tinggi di kawasan hulu Sungai Ciliwung. Yakni di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor tepatnya di Telaga Saat, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.





