
Jakarta, KBKNews.id – Komando Pusat AS (Centcom) secara resmi mengonfirmasi seluruh kru yang berjumlah enam orang di dalam pesawat pengisi bahan bakar udara, KC-135 Stratotanker, dinyatakan tewas. Pesawat itu jatuh di wilayah Irak Barat pada Kamis (12/32026) lalu.
Kepastian ini didapat setelah tim pencari berhasil menemukan jasad dua kru terakhir melalui operasi pencarian dan penyelamatan yang intensif. Sebelumnya, otoritas militer hanya berhasil menemukan empat jenazah di lokasi jatuhnya pesawat.
Misi Tempur dan Investigasi Penyebab Kecelakaan
Pesawat nahas produksi Boeing tersebut terjatuh sekitar pukul 19.00 GMT saat sedang menjalankan misi tempur udara. Meskipun Iran melalui televisi pemerintah mengklaim sekutunya telah merudal pesawat tersebut, Centcom bersikeras, jatuhnya KC-135 ini tidak disebabkan oleh serangan musuh maupun kesalahan tembak dari pihak kawan (friendly fire).
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers pada Jumat (13/3/2026), menegaskan dedikasi para kru tersebut.
“Pesawat itu jatuh saat para kru sedang menjalankan misi pertempuran,” ujar Jenderal Dan Caine.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, turut memberikan penghormatan terakhir bagi para korban dengan menyebut mereka sebagai sosok yang akan selalu dikenang.
“Mereka adalah pahlawan Amerika. Pengorbanan mereka justru akan memperkuat tekad kami dalam menuntaskan misi ini,” tegas Hegseth.
Para korban di antaranya:
- Mayor John A. Klinner (33 tahun) dari Auburn, Alabama
- Kapten Ariana G. Savino (31 tahun) dari Covington, Washington
- Sersan Teknik Ashley B. Pruitt (34 tahun) dari Bardstown, Kentucky
- Kapten Seth R. Koval (38 tahun) dari Mooresville, Indiana
- Kapten Curtis J. Angst (30 tahun) dari Wilmington, Ohio
- Sersan Teknik Tyler H. Simmons (28 tahun) dari Columbus, Ohio.
Klinner, Savino, dan Pruitt ditugaskan ke Sayap Pengisian Bahan Bakar Udara ke-6 di Pangkalan Angkatan Udara MacDill di Tampa, Florida. Sementara Koval, Angst, dan Simmons ditugaskan ke Sayap Pengisian Bahan Bakar Udara ke-121 di Pangkalan Garda Nasional Udara Rickenbacker di Columbus.
Tulang Punggung Udara yang Kini Rentan
Pesawat KC-135 Stratotanker merupakan tulang punggung logistik udara AS sejak era 1950-an. Fungsinya sangat vital: mengisi bahan bakar jet tempur dan pembom di tengah udara agar misi dapat berlangsung lebih lama tanpa perlu mendarat. Biasanya, pesawat ini dioperasikan oleh minimal tiga orang, yakni pilot, kopilot, dan operator boom pengisi bahan bakar.
Tragedi ini menambah panjang daftar kerugian alutsista udara AS dalam perang melawan Iran yang baru berjalan dua pekan. Hingga kini, AS tercatat telah kehilangan setidaknya empat pesawat, termasuk insiden jatuhnya tiga jet tempur F-15 di wilayah Kuwait akibat dugaan friendly fire beberapa waktu lalu.
Eskalasi Global dan Dampak Ekonomi
Gugurnya enam awak pesawat ini membawa total angka kematian militer AS dalam konflik AS-Israel melawan Iran menjadi 13 jiwa. Di saat yang sama, ketegangan kian memuncak setelah Israel meluncurkan gelombang serangan besar-besaran ke infrastruktur Iran di Teheran.
Dunia internasional kini mulai merasakan dampak nyata dari perang ini:
- Harga Minyak Dunia: Kembali melambung di atas 100 USD per barel setelah tiga kapal kargo kembali dihantam di Teluk.
- Pasar Saham: Mengalami koreksi tajam akibat ancaman penutupan Selat Hormuz oleh pemimpin baru Iran.
- Gejolak Global: Prancis juga melaporkan gugurnya satu prajuritnya, Sersan Staf Arnaud Frion, akibat serangan drone di pangkalan militer Kurdi, Irak Utara.
Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal, perang ini bisa berakhir “sangat segera”. Ini lantaran dampak ekonomi yang mulai terasa lewat lonjakan harga minyak. Namun ia juga membuka opsi untuk mengambil tindakan militer yang lebih jauh lagi.




