Update Terbaru Kabar Bocah Kelas 5 SD yang Rawat 3 Adiknya di Sumedang

boah
Foto Dok BAZNAS Kab Sumedang

JAKARTA, (KBK) – Viralnya kabar mengenai bocah kelas 5 SD yang mengurus 3 adiknya dibenarkan oleh BAZNAS Kabupaten Sumedang. Saat di konformasi via telepon oleh KBK, kabar tersebut memang benar adanya namun berbeda dengan pemberitaan yang banyak berededar di media sosial.

Dadan, seksi dokumentasi BAZNAS Kabupaten Sumedangan mengatakan sebenarnya Yuyun Bayuningrum (41) warga Kecamatan Tanjungmedar, Dusun Babakan Kananga tidak menelantarkan ke empat anaknya dengan dalih mencari uang ke luar kota.

Namun Dadan tak menampik bahwa jika dilihat dari sisi kemanusiaan perbuatan Yuyun sangat tak terpuji lantaran meninggalkan keempat anaknya yang masih dibawah umur.

“Iya kejadian itu benar ada. Sebenarnya Yuyun tidak menelantarkan karena anaknya diberi uang Rp 200 ribu untuk makan setiap ibunya pergi. Kebetulan kemarin Yuyun yang merupakan pengusaha kayu lebih dari 10 hari tidak ada kabar setelah pergi ke Surabaya dan tiba-tiba tersiar berita ini,” ucap Dadan saat di konfirmasi, Senin (13/3).

Dadan pun juga membenarkan bahwa sejak viralnya kabar tersebut di media sosial tak sedikit bantuan yang datang. Dadan menuturkan dari BAZNAS Kabupaten Sumedang sendiri pada hari sabtu lalu (11/3) memberikan bantuan 2 paket sembako dan uang tunai sebesar Rp 1 juta yang digunakan untuk melunasi kontrakan yang sudah menunggak 4 bulan.

Namun saat Yuyun kembali kerumah pada sabtu sore seluruh bantuan yang datang ditolak dengan alasan tak ingin merepotkan pihak luar.Selagi Yuyun lost contac Dadan mengatakan bawa anak Yuyun yang masih bayi diurus oleh ibu-ibu PKK setempat.

“Sabtu sore juga ada bantuan dari BAZNAS pusat berupa sembako, bantuan pendidikan dan uang Rp 10 juta, tapi ditolak. Kemarin juga ada bantaun dari Kalimantan Rp 50 juta dan lagi-lagi ditolak. Terakhir ada bantuan masuk lewat rekening tapi saya belum lihat jumlahnya berapa,” ujar Dadan.

Dadan mengungkapkan setelah kematian suaminya, Yuyun praktis menjadi tulang punggung keluarga. Semasa hidup sang suami merupakan seorang pemborong dan meninggal dunia pada bulan Desember lalu akibat stroke.

Sejak kejadian itu Ahmad Revan yang msih duduk di bangku kelas 5 SD putus sekolah karena mesti merawat adik-adiknya.

“Anak yang kelas 5 SD sudah tidak sekolah, ini masih kami bicarakan oleh pihak kecamatan, aparat desa dan Dandim 0610 Sumedang tapi masalahnya Yuyun beserta keluarga bukan orang asli daerah situ, mereka pendatang. oleh karena itu masih dirembukan supaya si anak bisa sekolah,” jelas Dadan

Advertisement