BOGOR – Mohammad Arman Wiratama, seorang relawan sekaligus tutor di Jampang English Village (JEV) Dompet Dhuafa yang masih berusia 20 tahun bersama relawan-relawan lainnya menjadi salah satu pendamping peserta-peserta Deen Camp.
Diberitakan sebelumnya Deen Camp sendiri merupakan kegiatan yang diadakan di kawasan Wisata Jampang dan Masjid Al-Madinah yang keduanya masih berada di wilayah Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor, dimana pesertanya merupakan anak donatur Dompet Dhuafa Australia yang sedang menjalani masa liburannya untuk memperdalam pemahaman tentang Islam, dan juga mengenal negeri Indonesia.
Kembali ke Arman, dia sebelumnya bukan relawan di JEV. Pertemuan pertamanya di sini ialah untuk belajar berbahasa Inggris. Kala itu ia sudah lulus dari sekolah menengah atas. Namun keingingannya untuk belajar tidak padam ketika lulus sekolah. Langsung saja ia mendaftar di JEV.
Dengan menjadi relawan atau tutor, ia berkewajiban untuk mengajar setiap peserta, terlepas umur juga jenis kelaminnya. Maka tidak jarang, Arman mengajar orang-orang yang umur di atas darinya, begitu juga dengan yang berumur jauh di bawahnya.
“Pernah suatu ketika saya mengajar di Kampus Umar Usman. Saat awal mengajar ditanya berapa umurnya. Relawan lainnya bilang kalau bisa jangan kasih tahu umur. Kalau tahu umur saya lebih muda dari orang-orang yang akan saya ajar, ditakutkan kemampuan mengajar akan diremehkan. Ya, semua karena perbedaan umur,” ujar Arman, dikutip Fajar dari Dompet Dhuafa.
Usulan di atas didapat Arman oleh pengajar lain yang memang sudah berpengalaman dan umurnya terbilang lebih tua darinya. Langkah tersebut, menjadikan Arman sebagai salah satu relawan atau tutor termuda.
Ini merupakan salah satu tantangan dalam menjadi relawan atau tutor. Jika pesertanya tidak berbeda jauh mungkin akan lebih mudah.
Tapi jika umurnya berbeda, maka agak sulit. Sulit dalam hal mengajar, lantaran pengetahuan dan pengalaman dengan para peserta berbeda-beda. Namun hal ini tidak mengurangi komitmennya menjalani profesi tersebut.





