Varian Virus Covid Muncul Lagi Walau Bergejala Ringan

Walau bergejala ringan, sejumlah varian virus baru SARS-CoV-2 pemicu Covid-19 terdetekasi sehingga masyarakat perlu mentantisipasinya dengan menerapan pola hidup sehat (foto: dok.ist)

WALAU tidak seganas saat terjadi pandemi global penyakit Covid-19 akibat SARS-CoV-2 bebrapa tahun lalu, sejumlah varian virus tersebut yakni XFG, LF7 dan XFG3.4.3 masih terdeteksi.

Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan Covid-19 Kemenkes RI yang dilaporkan Detikhealth (23/10) menyebutkan, pada pekan ke-42 tahun 2025 (12 – 18 Oktober) tercatat kasus paparan varian XFG (57 pesen), LF.7 (29 persen) dan XFG 3.4.3 (14 persen).

Dari 258 hasil pemeriksaan, terdapat 11 kasus positif dengan positivity rate sebesar 4.26 persen,” kata laporan Kemenkes, dikutip pada 23/10.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman mengatakan varian dominan di RI seperti LF.7 memiliki gejala serupa dengan varian COVID-19 lainnya, bahkan mirip seperti flu biasa.

“Yang jelas lebih ringan dibanding varian delta, omicron dan lainnya” kata Aji saat dihubungi detikcom, Rabu (22/10).

Aji menjelaskan varian LF.7 merupakan subvarian Omicron yang awalnya terdeteksi di India, khususnya di Gujarat. Adapun varian ini, lanjutnya, diklasifikasikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai Variant Under Monitoring.

Meski ringan, masyarakat terutama untuk kelompok rentan untuk  tetap perlu hati-hati dan waspada. “Mirip flu biasa tapi perlu waspada untuk kelompok rentan,” ucapnya lagi.

Begitu juga dengan varian XFG atau stratus yang saat ini mendominasi di RI, termasuk ke dalam VUM oleh WHO sejak 25 Juni 2025. Varian ini juga tergolong risiko rendah atau low risk, artinya tak lebih berbahaya dari varian lainnya.

“Tidak perlu panik, namun tetap penting menjaga protokol kesehatan,’ ucap Kemenkes dalam laporannya.

Cegah dan hindari
Sebagai kewaspadaan, Kemenkes mengimbau untuk menerapkan pencegahan untuk menghindari kemungkinan terpapar:

Menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS).
Menerapkan etika batuk/bersin untuk menghindari penularan kepada orang lain.

Cuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun (CTPS) atau menggunakan hand sanitizer.

Mengenakan masker bagi masyarakat jika jika berada di kerumunan atau sedang sakit seperti batuk, pilek, atau demam dan segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan dan ada riwayat kontak dengan faktor risiko.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here