
PRESIDEN Nicolas Maduro tetap bergeming untuk menggelar referendum bagi pembentukan Majelis Konstitusi (MK) di tengah semakin meluasnya aksi-aksi unjukrasa oleh massa penentangnya.
Paling tidak dilaporkan dua orang tewas – seorang pria berusia 24 tahun di kawasan pinggiran kota Caracas dan seorang lagi korban pri berusia 23 tahun di kota Valencia – serta 370 orang ditangkap pasca aksi mogok nasional yang digelar Kamis lalu (20/7).
Diperkirakan sudah lebih 100 orang tewas di tengah aksi-aksi demo menentang rezim Madoro diwarnai bentrokan antara aparat keamanan dan pendemo yang berlangsung hampir setiap hari sejak empat bulan lalu.
Selain stabilitas nasional terganggu akibat gelombang unjukrasa, perekonomian Venezuela dikhawatirkan semakin terpuruk akibat tekanan dari para tetangganya di Amerika Selatan, bahkan AS dan Uni Eropa mengancam akan mengenakan sanksi ekonomi jika Maduro tetap ngotot membentuk MK.
Dalam referendum tandingan yang digelar kelompok oposisi Minggu lalu Paling tidak 7,2 juta dari 7,9 juta pemegang hak suara di Venezuela, menentang rencana pembentukan MK bertujuan mengubah konstitusi 1999 memuat pasal-pasal yang menguntungkan rezim petahana.
Referendum memuat tiga pertanyaan yang harus dijawab “ya” atau “tidak” yakni apakah setuju dengan MK bentukan Maduro, apakah setuju militer kembali ke kongres dan apakah mendukung pemerintahan berisi “orang-orang” Maduro?
Bagi Maduro, pembentukan MK adalah keniscayaan, karena menurut keyakinannya merupakan satu-satunya wahana unuk memulihkan negara itu dari keterpurukan ekonomi.
Sebaliknya, oposisi khawatir, majelis konstitusi akan diisi “orang-orang” pemerintah yang akan melanggengkan kekuasaan rezim Maduro dan membuat Venezuela menjadi negeri tertutup seperti Kuba.
Akibat terisolasi dari dunia luar dan tetangga-tetangganya dan semakin terpuruknya perekonomian serta bertumpuk-tumpuknya persoalan, agaknya kejatuhan rezim Maduro tinggal menghitung hari.
Dengan tingkat inflasi mencapai 700 persen, dalam kondisi terisolasi, kelangkaan barang terutama sembako dan obat-obatan serta cekaknya cadangan devisa, diperkirakan akan sulit bagi rezim pemerintah Maduro bertahan. Ekonomi Venezuela “terjun bebas” saat harga minyak bumi di pasaran global anjlok pada awal 2016 ampai ke level 25 dollar AS per barrel.
Satu demi satu pejabat pemerintahan Maduro lengser seperti Jaksa Agung Luisa Ortega yang menentang dan menilai pembentukan MK inkonstitusional dan diplomat negara itu di PBB Isaias Medina yang mendesak Maduro mundur karena dinilai telah melakukan sejumlah pelanggaran HAM.
Walau mahkamah agung, militer dan polisi sejauh ini berada di belakang Maduro, sampai kapan kah ia bisa bertahan, jika harus terus berhadapan dengan rakyat?
(AP/AFP/Reuters/NS)




