
CHINA, raksasa ekonomi dunia kedua terbesar setelah AS sedang bergulat melawan wabah virus korona galur baru (2019 nCoV) yang telah menewaskan 131 orang dan menjangkiti 5.300 orang (sampai Rabu pagi, 29/1).
Virus mematikan yang semula diduga berasal sup kelelawar yang disantap korbannya di Pasar Ikan Huanan, kota Wuhan, Provinsi Hubei kini sudah merambah 16 negara, sampai ke kawasan Eropa dan AS.
Kasus infeksi virus korona terdeteksi di AS, Australia, Hong Kong, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Kamboja, Kanada, Malaysia, Nepal, Perancis, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Taiwan dan Vietnam.
Sejumlah negara seperti AS, Jerman dan Jepang dan Perancis dilaporkan sudah menyiapkan evakuasi warga mereka dari Wuhan akibat begitu cepatnya eskalasi penyebaran virus serupa (virus pernafasan akut –SARS) yang pernah menewaskan sampai 800 korban di China daratan dan Hong Kong pada 2002 – 2003.
Selain anjloknya pertumbuhan sektor konsumsi yang berkontribusi 3,5 persen dari 6,1 persen pertumbuhan ekonomi China menurut catatan Standard and Poor (S&P), merebaknya virus korona terjadi di tengah puncak aktivitas penduduk menjelang Imlek. Nilai PDB China 2019 tercatat sebesar 25,3 triliun dollar AS.
Sementara larangan berpergian bagi penduduk dari dan ke kota Wuhan, juga ikut memukul sektor transportasi terutama KA tercermin dari anjloknya hampir 40 persen penumpang pada hari pertama Imlek (25/1). Sekitar dua ribu jadwal pemberangkatan KA juga dibatalkan sejak beberapa pekan lalu.
Sejumlah industri dilaporkan memperpanjang cuti Imlek bersama bagi karyawannya sampai 10 Februari, sedangkan jaringan rumah makan populer China, Haididilao menutup seluruh gerainya sampai akhir Februari.
Epidemi virus corona juga memukul industri pariwisata Indonesia, mengingat jumlah pelancong China menempati urutan kedua terbesar setelah Malaysia.
Berdasarkan data BPS, sekitar 1,919 juta pelancong asal China atau 12,87 persen dari total 14,915 juta wisman yang berkunjung ke Indonesia selama 2019 atau di urutan kedua setelah Malaysia dengan 2,843 juta pelancong (19,01 persen).
Kerugian juga dialami maskapai penerbangan, misalnya grup Lion Air yang membatalkan penerbangan langsung dari delapan kota di China ke Manado mulai awal Februari, padahal tingkat keterisian kursi rata-rata hampir mencapai 100 persen.
Entah sampai kapan, wabah virus korona yang vaksinnya belum ditemukan hingga kini bisa dihentikan.




