WAHYU BUDI JATMIKA

Harjuna kaget, ternyata Adipati Karno juga beramnbisi dapat wahyu Budi Jatmika.

BAGI dunia wayang, wahyu adalah sumber keberuntungan dan peningkatan status sosial bagi pemiliknya. Dengan wahyu yang tak ada bukti hitam di atas putihnya itu, seorang wayang manjadi mudah mencari pekerjaan, lancar dalam meraih karier politik. Jadi Sekjen partai misalnya, itu menjadi demikian mudah, meski ngomong saja tidak becus. Atau kalau terpaksa ngomong pun sangat standar dan normatif.

Siapa produsen wahyu yang selalu diburu kawula ngercapada? Jelas para lembaga dewa di kahyangan sana. Mereka yang menyusun dan menetapkan nama wahyu. Sebelum sebuah wahyu ditetapkan, ada tim perumus yang harus studi banding dulu ke ngarcapada untuk menyerap aspirasi kawula sebagai user (pemakai) wahyu itu sendiri nantinya. Dan karena setiap studi banding itu anggarannya luar biasa besar, banyak dewa yang berlomba studi banding ke ngercapada.

“Kakang Narada, kenapa produktivitas wahyu tahun anggaran 2012 ini sangat menurun? Kita punya target 25 wahyu, kok baru terselesaikan 10 wahyu. Ini bagaimana?”

“Maklum saja, Adi Guru. Setiap pembahasan  di rapat paripurna, jarang memenuhi kuorum karena banyak yang mbolos?” jawab Betara Narada malu-malu.

Betara Guru geleng-geleng kepala. Mental anggota Dewa Pembela Rakyat (DPR) kok semakin tergradasi bin njelehi (memuakkan). Sudah disiapkan absen sistem finger print segala, masih juga diakali. Datang sebentar untuk isi sidik jari, habis itu ngilang entah ke mana. Nanti sore baru balik dan cap jempol lagi. Ini dewa cap apa, kok mentalnya macam anak SD.

Di kahyangan itu ada dua jenis produk wahyu. Versi Betara Guru atau Sanghyang Wenang. Yang sangat bergengsi dan berkwalitas adalah buatan Sanghyang Wenang, semisal Makutha Rama, Purbasejati dan Cakraningrat. Sedangkan produk Betara Guru (maksudnya disahkan – Red) hanya kelas ecek-ecek saja, yang bisa diperoleh dengan imbalan uang. Maka sering kali wahyu Jonggring Salaka macam: Tejamaya, Tohjali dan Slagaima; dibatalkan Sanghyang Tunggal karena banyak bertentangan dengan konstitusi.

“Kita harus disiplin waktu. Hanya dengan disiplin itu wahyu produk kita bermutu dan diakui Sanghyang Tunggal.” Tegur Betara Guru sengit.

“DPR kita kan hanya ngejar setoran, bukan ngejar mutu.” Narada masih ngeyel.

Demikianlah, seperti apapun kwalitas wahyu itu kalangan kawula ngarcapada sangat senang memburunya. Begitu pula para dewa di kahyangan, juga demikian gemar memproduksinya. Karena saat mereka mencari rujukan dan masukan untuk membuatnya, dibenarkan melakukan kunjungan kerja ke mana saja dengan anggaran kahyangan. Padahal dewa ini suka menyelewengkan tugas. Betara Surya misalnya, saat diminta studi banding ke Mandura, malah menghamili Dewi Kunthi. Sebelumnya, Betara Kamajaya saat kunker ke Ngalengka, eh malah menghamili Dewi Sukesi putri Prabu Sumali dengan pinjam badan wadag (tubuh) Begawan Wisrawa.

Sementara itu di Ngamarta dan Ngastina, dewasa ini soal bakal turunnya wahyu Budi Jatmiko ramai jadi topik pembicaraan orang. Konon, wahyu itu bikin penerimanya menjadi orang yang begitu berbudi dan kalem (jatmika = kalem) pembawaannya. Jadi politisi oposisi pun takkan nyinyir, seperti Tumenggung Kasan Julkeple. Dia sangat cocok menjadi raja di masa depan. Barang siapa kasinungan (kemasukan) wahyu Budi Jatmiko, dia akan menjadi raja yang berpihak pada rakyat.

“Dimas Werkudara, tolong dinasihati Harjuna, kenapa dia masih berburu wahyu baru juga. Bukankah stok wahyunya sudah demikian banyak?” titah Prabu Puntadewa.

“Aku nggak bisa melarangnya, itu kan hak azasi wayang. Kalau mau, harus dewa yang bikin payung hukumnya. Misalnya, satu wayang maksimal hanya boleh memiliki dua wahyu.” Saran Werkudara dalam sidang terbatas di negeri Ngamarta.

Di negeri Ngastina begitu juga. Seakan bersaing, Adipati Karno ternyata juga berambisi memiliki wahyu Budi Jatmiko. Katanya untuk meningkatkan karier. Masak dari dulu hanya menjadi adipati di Ngawangga, yang PAD (Pendapatan Asli Daerah)-nya kecil sekali. Kalau menjadi raja, entah di negeri entah berentah manapun, pasti memiliki kekuasaan yang lebih luas dan terjamin!

Harjuna yang sudah terkenal jadi kolektor wahyu, kini justru sedang minta restu dan petunjuk Ki Lurah Semar. Bukan cari koneksi ke kahyangan, –mengingat Semar adalah wayang yang punya banyak jaringan di Jonggring Salaka– melainkan sekedar mau cari info, kira-kira wahyu Budi Jatmiko itu produksi mana. Soalnya, selama ini selalu dirahasiakan asal muasal wahyu tersebut. Asal disebut dapat wahyu, di mana ditengarai dengan hadirnya Betara Narada di waktu titi sonya madya ratri  (tengah malam buta), yang bersangkutan sudah senang bukan main.

Celakanya, Narada sendiri selaku penyampai wahyu, selalu mengelak untuk menjelaskan. Sepertinya, para dewa justru merasa bahagia bila paket kebijakannya menimbulkan teka teki tanpa berhadiah sepeda,  di ngercapada.

“Pukulun Betara Narada, ini wahyu dari Jonggring Salaka, atau Alang-alang Kumitir (domisili Sanghyang Wenang – Red)” demikian Harjuna pernah menanyakan.

“Maaf kaki Harjuna, ulun tidak dalam posisi yang berhak menjelaskan.” Kata Narada sambil ngeloyor pergi.

Ternyata sama seperti Narada, Ki Lurah Semar juga menolak memberikan analisa dan  ramalan status wahyu itu. Bahkan yang terjadi kemudian, Harjuna dinasihati panjang lebar, untuk tidak terus hobi mengejar wahyu, mentang-mentang pemilik wahyu selama ini belum kena pajak dan punya NPWP.

“Bendara Harjuna sudah koleksi bini demikian banyak, kok masih juga jadi kolektor wahyu. Buat apa?” sindir Ki Lurah Semar.

“Kan biar saling menunjang, kakang Semar. Bukankah tahta dan wanita adalah kebutuhan primer banyak wayang?” tangkis Harjuna.

“Lebih seru lagi jika ditambah harta. Tapi, punya tahta dan banyak wanita tapi kurang harta, lalu mulai deh, istikomah alias istri tiga kontrak rumah…..” potong Semar sinis.

Dengan menafikan nasihat Ki Lurah Semar, Harjuna berangkat ke kahyangan dengan pesawat terakhir. Tiba di Bale Marcakunda, ternyata Adipati Karno juga sudah ada di sana. Tujuannya sama, berambisi untuk mendapatkan paket wahyu Budi Jatmiko. Betara Penyarikan selaku penerima pendaftaran, bingung jadinya. Bagaimana nggak bingung, biasanya wahyu diantar ke rumah, kok kini malah wayangnya sendiri yang jemput bola.

Tradisi lawas untuk mencari keadilan, biasanya kedua peminat wahyu diminta berkelahi.  Tapi karena berdasarkan skenario dewa keduanya hanya bisa bertemu perang dalam Baratayuda, maka kini dicari solusi lain yang lebih kekinian. Di ruang Bale Marcakunda, Harjuna – Adipati Karno diharuskan debat terbuka, adu visi dan program jika saatnya kelak menjadi raja entah di negeri mana.

“Apa bukti keberpihakanmu pada pedagang kecil mengingat konglomerat terus berlomba bikin mal?” kata panelis Sanghyang Betara Kuwera kepada Adipati Karno.

“Mal boleh terus dibangun, tapi satu lantai menjadi hak saya pribadi. Itu nanti saya berikan kepada pedagang kecil dengan sewa kios terjangkau,” jawab Adipati Karno yang berkumis.

Tepuk tangan suporter Adipati Karno membahana, lebih-lebih saat kena sorot kamera TV swasta. Lalu pertanyaan serupa ditujukan kepada Harjuna, yang malam itu pakai baju surjan metaraman.

“Kalau saya lain. Dengan alasan apapun, mal tak boleh lagi dibangun. Justru pasar tradisional yang diberdayakan, padagang kecil disubsidi 50 persen dari APBN.” Jawab Harjuna dengan yakin.

Tapi di kala tepuk tangan membahana, mendadak Betara Kuwera dapat instruksi harus menghentikan debat terbuka itu, sebelum diketahui siapa pemenangnya. Ini semua merupakan dampak radiogram dari Alang-lang Kumitir yang memerintahkan, semua kunker para dewa harus dimoratarium. Itu artinya, karena kunker ditunda, wahyu Budi Jatmiko juga batal dibahas dan diterbitkan. Tinggal yang ada  Budi Gunawan dan Budiman Sujatmiko di Indonesia.  (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

Advertisement