JAUH sebelum Gubernur Ahok di Jakarta, Prabu Kresna dari Dwarawati setiap pukul 08.00 pagi, juga melayani pengaduan rakyat di pagelaran danapratapa. Tapi 8 perempuan yang datang kepadanya pagi itu sangat berbeda. Mereka tak membawa map atau berkas surat menyurat, melainkan bawa tisu dan menangis. Prabu Kresna tambah kagetĀ karena salah satu di antara mereka sangat dikenalnya, yakni Dewi Sumbadra, adik kandung sendiri.
Ternyata mereka juga istri-istri Harjuna. Raja Dwarawati itu pun geleng-geleng kepala. Ternyata Harjuna memang tukang kawin tiada bandingan. Yang datang ke Dwarawati saja 8 orang, belum yang lain. Untung saja Harjuna bukan PNS yang dibatasi PP-10 untuk bisa berkoleksi istri.
āAda apa dinda Sembadra, kenapa pagi-pagi sudah rame-rame potong padi. Gerangan apa yang terjadi?ā Prabu Kresna menyapa adik tercinta.
āKangmas Harjuna menghilang dengan membawa anak-anak kami. Pamitnya sih umroh, tapi sudah lebih 2 minggu nggak pulang.ā jawab Wara Sembadra yang menjadi juru bicara tujuh wanita itu.
Seperti paduan suara, kesemua istri Harjuna tersebut kemudian menangis serentak nyaris kejang-kejang. Soal kepergian Harjuna berlama-lama, bagi mereka sudah biasa, karena memang begitu karakter Harjuna. Datang hanya untuk ātune upā sebentar, terus kabur. Tapi kenapa kali ini juga membawa sekalian para anak mereka? Berulangkali dikontak HP-nya, tapi mesin penjawab menjelaskan: di luar area.
āApakah suami kalian sedang jadi urusan polisi, gara-gara chating sex misalnya?ā selidik Prabu Kresna.
āTidak pernah, kaka prabu. Sekali urusan hanya sama polantas, karena nrobos lampu merah. Tapi semuanya sudah selesai dilapan-anem.ā Jawab para istri Harjuna.
Ke-8 wanita tersebut selain Sembadra ibu Abimanyu, adalah: Dewi Supraba ibu Prabakesuma, Dewi Manohara ibu Pregiwa-Pregiwati, Dewi Lasasati ibu Bratalaras, Dewi Jimambang ibu Kumaladewa, Dewi Antrakawulan ibu Antakadewa, Dewi Ulupi ibu Bambang Irawan, dan Juwitaningrat ibu Bambang Sumbada. Hanya ibu Bambang Susatyo yang tidak ikut, karena dia memang bukan istri Harjuna.
āSoal kangmas Harjuna, sebodo amat. Tapi anak-anak kami, itu adalah sibiran jantung dan belahan hati kami,ā kembali para istri Harjuna lantunkan tangis-tangis pilu.
āSabar, sabar. Coba nanti saya lapor polisi, karena Kaca Paesanku eror gara-gara belum kubelikan paket pulsa.ā Jawab Kresna lagi mencoba menghibur.
Prabu Kresna sebetulnya tak begitu tergantung dengan Kaca Paesan. Pusaka andalan ngadat, toh ada Mbah Geogle di internet. Dia pun segera nyalakan komputer, dan kemudian ketik sana ketik sini. Dan hasilnya, ini dia……, informasi terbaru mengatakan: ada sejumlah anak-anak terlantar ditampung di pertapan Wukir Retawu milik Begawan Abiyasa. Mereka adalah: Abimanyu dan ke tujuh adiknya: Wisanggeni, Irawan, Prabakesuma, Sumbada, Pregiwa-Pregiwati, Antakadewa dan Kumaladewa.
Prabu Kresna pun lega, karena mereka berada di tempat yang tepat, dalam asuhan Eyang Abiyasa. Yang bikin Prabu Kresna terharu, Abimanyu kecil meski baru berusia 13 tahun sudah nampak begitu dewasa. Dia tanpa malu-malu jadi buruh tani, mencari upah untuk menghidupi ke-7 adiknya. Mengandalkan Eyang Abiyasa, mana mungkin? Sebab sebagai pensiunan dan perguruannya kurang laku, dia tak punya penghasilan lebih untuk ngingoni (kasih makan) 8 cucu sekaligus yang masih semega (doyan makan).
āIni sangat menggores hatiku dan siapa saja yang cinta kemanusiaan,ā kata Prabu Kresna dalam akun twitternya @padmanaba.
āJangan hanya simpati, bantu dong kek!ā komentar twitter lainnya lewat akun @baladewa.
Prabu Kresna terus berselancar di dunia maya. Di situ ada pula berita baru bahwa kahyangan akan menurunkan wahyu generasi baru, namanya: Wahyu Makutadewa. Penerima wahyu itu kelak bakal menjadi raja nusantara. Jika bukan diri sang penerima, juga bisa jatuh pada anak keturunannya. Yang menimbulkan kecemburuan publik, ada isyu berkembang bahwa wahyu tersebut diprioritaskan pada anak dan keturunan Harjuna. Yang lain bolah boleh saja ikut, tapi hanya masuk Daftar Calon Sementara, itu pun di nomer sepatu.
Prabu Kresna segera berangkat ke Wukir Retawu. Mau nyumbang? Mana mau. Dia sih terkenal raja paling pelit di jagad perwayangan. Idenya sih banyak sekali, tapi untuk menjadi sponsor ide-ide bernasnya, diserahkan ke pengembang. Paling-paling nanti Prabu Kresna bagi-bagi sepeda, setelah main tebak-tebakan dengan para bocah tersebut.
Baru saja Prabu Kresna meninggalkan Dwarawati, tiba-tiba terjadi keributan. Sejumlah pasukan dari negeri Magada menyerbu. Apakah mereka Tim Sinkronisasi atau Tim Transisi? Bukan! Mereka anak buah Prabu Jarasonda, dalam rangka mencari-cari para anak Harjuna, karena beredar kabar mereka tengah dikarantina di sini.
āDi mana Abimanyu Cs? Mereka harus kami binasakan, jangan halangi kami memburu Wahyu Makutadewa.ā Kata Patih Bintangsamodra, yang biasa kerokan pakai balsem bintang tuju.
āNgapain kami ngurusi anak-anak kecil? Memangnya Kak Seto, apa?ā sergah sapukawat Dwarawati, Haryo Setyaki.
Meski sudah dijelaskan tak tahu menahu keberadaan Abimanyu Cs, prajurit Magada yang rupanya kurang piknik itu justru menuduh bahwa Setyaki sengaja melindungi anak-anak tersebut. Kalau iya memangnya kenapa? Pertempuran segera terjadi. Sapukawat Dwarawati dibantu Patih Udawa berhasil memukul mundur para penyerbu.
Sementara itu di pertapan Wukir Retawu Begawan Abiyasa sangat terharu, karena sejak Abimanyu dan adik-adiknya diberitakan internet, banyak yang iba dan simpati. Mereka banyak yang mengirim bantuan, sehingga para-anak Harjuna itu tak lagi terlantar, sementara ayahnya yang mustinya bertanggungjawab, justru tak kunjung kembali.
āHe Harjuna ke mana saja selama ini kamu, kok baru muncul sekarang?ā omel Begawan Abiyasa saat melihat kehadiran Harjuna.
āMaafkan Eyang, saya baru pulang berburu Wahyu Makutadewa.ā
āLho, katanya umroh, mana yang bener?ā ujar Begawan Abiyasa heran.
āDuit dari mana? Itu mah hoax.ā
Bersamaan dengan itu Prabu Kresna pun hadir. Seperti Begawan Abiyasa, dia juga nimbrung ikut mengomeli Harjuna sebagai lelaki tak bertanggungjawab. Harjuna pun menjelaskan bahwa bocah-bocah itu dititipkan ke Wukir Retawu justru demi keselamatannya. Sebab Prabu Jarasanda yang juga tengah berburu Wahyu Makutadewa, merasa misinya akan gagal jika anak-anak Harjuna tak dibinasakan.
Prabu Kresna kini baru ngeh, apa hubungan antara Wahyu Makutadewa dengan anak-anak Harjuna. Untung saja Prabu Jarasanda gaptek internet, sehingga tak tahu keberadaan bocah-bocah itu sesungguhnya. Ternyata dugaan Prabu Kresna meleset, sebab tak lama kemudian Prabu Jarasonda bersama pasukannya telah menyerbu Wukir Retawu.
āMana Harjuna, serahkan anak-anakmu? Mereka harus jadi tumbal Wahyu Makutadewa, ha ha ha….ā tantang Prabu Jarasonda.
āItu pelanggaran hak azasi anak-anak. Gua bilangin ke Arist Merdeka Sirait, luh.ā Ancam Harjuna.
Prabu Jarasonda memang sakti luar biasa, hampir saja Harjuna binasa di tangannya. Beruntung Prabu Kresna segera membantu. Melihat raja Dwarawati itu merentang busur senjata Cakra, Prabu Jarasonda langsung kabur menyelamatkan diri. Itu memang tokoh naas bagi dia, sebab sebagaimana skenario dewa, Prabu Jarasonda akan tewas di tangan Prabu Kresna dalam lakon āSesaji Raja Suyaā. (Ki Guna Watoncarita)
Ā



