GATUTKACA yang terkenal sebagai wayang jujur, bekerja penuh dedikasi dan tak mau mbathi, ditunjuk menjadi senapati Perang Baratayuda dari kubu Ngamarta. SK Prabu Puntadewa sudah diteken beberapa hari lalu, tinggal pelantikannya saja. Sebab ada syarat khusus dari kahyangan, pengemban tugas kesenapatian harus diperkuat oleh kekancing berupa Wahyu Topeng Waja. Tanpa wahyu tersebut, posisi senapati Perang Baratayuda menjadi kurang legitimid.
Perang Baratayuda sebagai hajatan nasional tinggal 10 hari lagi, karena menunggu turunnya dana APBN dari kahyangan. Sebetulnya perang itu merupakan kepentingan Pandawa dan Kurawa semata. Tapi karena kedua negara tersebut sedang dililit utang luar negri yang serius, penguasa kahyangan siap menalangi dana sepenuhnya. Syaratnya hanya satu, penggunaan dana harus efektif, tak boleh bocor ke mana-mana. Senapati perang selaku pengguna anggaran, harus siap diaudit sewaktu-waktu.
Sayangnya, hari H perang Baratayuda semakin mendekat, tapi wahyu Topeng Waja belum juga turun. Terpaksalah Harjuna mengurusnya langsung ke kahyangan Jonggring Salaka, ketemu Sanghyang Betara Guru di Bale Marcakunda.
”Lalu wahyu Topeng Waja kapan turunnya pukulun?” kata Harjuna tidak sabar.
”Ya kira-kira 2-3 harilah. Topengnya baru dipesan langsung ke Krakatau Steel Cilegon. Tapi ada perobahan disain yang lebih aerodinamis, karena katanya mirip kepala jangkrik.” jawab Sanghyang Betara Guru menjanjikan.
Rencana penunjukan dan pelantikan Gatutkaca sebagai senapati sudah diketahui secara persis oleh Prabu Setija dari negri Trajutrisna. Hal ini yang menimbulkan rasa iri untuknya. Sebab kali pertama usulan Gatutkaca sebagai senapati Baratayuda justru datang dari raja Dwarawati yang notabene ayah kandung Setija. Kenapa Prabu Kresna justru pikirkan orang lain, bukan anak sendiri? Padahal Setija juga sangat berminat.
Hal inilah yang menjadi ajang diskusi serius di Warung Daun daerah di kerajaan Trajutrisna. Prabu Setija curhat pada patih Pancatnyana, kenapa ketidak-adilan ini musti terjadi. Kenapa menunjuk Gatutkaca pemuda yang masih lholak-lholok belum berpengalaman? Padahal Setija jelas lebih berbobot karena sudah pernah ikut pendidikan militer dan memperoleh penghargaan Adi Rekayasa.
“Gatutkaca sekarang juga sedang sakit. Bagaimana mungkin, calon senapati kok tidak sehat jasmani dan rokhani,” ujar Prabu Setija muntahkan segala uneg-unegnya.
”Lhok kok tahu? Itu kan rahasia negara Pringgodani?”
”Sst, ponsel Gatutkaca taksadap. Mangkel kok aku,” jawab Setija seenak udelnya.
Patih Pancatnyana dan juga punakawan Togog, sangat terkejut dibuatnya. Kok begitu beraninya Prabu Setija melanggar UU ITE (Informasi & Transaksi Elektronik). Ancaman hukumannya bisa 9 tahun penjara lho. Di samping itu, itu kan termasuk pelanggaran kedaulatan negara lain. Padahal Trajutrisno dan Pringgodani selama ini nampak guyub, bahkan banyak menjalin kerjasama ekonomi dan pertahanan. Kok tega-teganya mengkhianati mitra sendiri.
”Sampeyan ini seperti buah kedondong. Luarnya bagus, tapi atinya bengkong. Kalau penyadapan ini dibentuk Pansus, bagaimana jadinya?.” sindir Togog.
”Diem, jangan crigis kamu.” Prabu Setija masih ngeyel.
Diomeli juragan Togog pun diam cep-klakep. Mau mengritik terus takut kerja PHL (Pekerja Harian Lepas)-nya di Trajutrisna distop. Maka ketika diajak menemani ke Dwarawati ketemu Prabu Sri Batara Kresna (SBK), Togog menurut saja. Sebab kerja di Trajutrisna tidak perlu pintar, yang penting loyal pada atasan dan siap nginjek bawahan.
Prabu SBK pun juga hanya terpaku, ketika tiba-tiba putra sulung ini datang ke istana sambil marah-marah. Setija protes, katanya anak kandung penguasa Dwarawati, tapi tak pernah diberi fasilitas apa-apa. Sekarang menjadi raja di Trajutrisna juga atas jerih payahnya sendiri, tanpa sponsor orangtua. Orangtua cap apa itu, hanya bisa bikin doang tapi tak mau tanggungjawab pembiayaannya.
”Sekali ini saja, rama. Dukung aku menjadi senapati perang Baratayuda, dan batalkan pengangkatan Gatutkaca anak kemarin sore itu. Mestinya posisi itu kan dilelang, jangan main tunjuk saja.” kata Prabu Setija berapi-api.
”Ya nggak bisa, anakku. Itu domain negri Ngamarta, dan SK-nya pun sudah diteken,” Prabu Kresna mencoba memberi pengertian.
Ternyata Setija memang anak paling badung di seluruh negeri perwayangan. Susah diberi pengertian, bahkan mengancam akan bunuh diri jika Prabu Kresna tak bisa membantu Setija menjadi senapati Perang Baratayuda. Akhirnya, dalam kondisi kepepet raja Dwarawati itu berusaha untuk memperjuangkannya. Tapi nggak janji lho!
Berkat penyadapan ponsel yang dilakukan oleh Setija, Prabu Kresna baru tahu bahwa Gatutkaca sekarang dalam kondisi sakit parah. Justru kondisi ini akan dijadikan alasan Prabu Kresna ke Jonggringsalaka untuk PK (peninjaun kembali) penunjukan Gatutkaca sebagai senapati. Dengan alasan sakitnya Gatutkaca pula, Prabu Kresna berniat memindahkan alokasi wahyu Topeng Waja kepada Setija.
”Jika rama berhasil memperjuangkan putranda tercinta. Nanti gambar rama akan dipasang di uang baru Trajutrisna.” kata Setija mengobral janji.
”Nggah usah. Nanti dituduh logonya ada gambar palu arit kan repot.” jawab Prabu SBK sekenanya.
Dengan ditemani Hyang Antaboga kakek Setija, Prabu Kresna langsung sowan Bethara Guru di Jonggringsalaka. Mereka menuntut agar wahyu Topeng Waja dimutasi, dari Gatutkaca kepada Setija. Alasannya, Gatutkaca stroke parah, tak mungkin bisa jadi senapati. Hanya Gus Dur sajalah, habis kena stroke malah berhasil menjadi presiden.
”Senapati Baratayuda harus sehat jasmani dan rokhani, siap bekerja penuh waktu. Senopati kok kena stroke, ya nggak bisa.” kata Prabu SBK tunjukkan senjata pamungkasnya ketika ketemu Betara Guru.
”Tapi nggak adil dong, stroke dijadikan alasan untuk pembatalan. Harus diuji, siapa tahu Gatutkaca juga tahan banting macam Gus Dur?” bela Patih Narada.
”Boleh. Siapa takut….” jawab Hyang Antaboga.
Betara Narada segera membawa Setija dan kedua pepundennya ke Ngamarta. Di depan Prabu Puntadewa patih kahyangan itu memberitahukan bahwa pelantikan Gatutkaca sebagai senapati Baratayuda dibatalkan. Namun demi keadilan, Gatutkaca yang sakit itu akan diadu dengan Setija calon pengganti senapati. Bila bisa menang, tetap dia yang jadi. Tapi bila kalah, terpaksa kedudukannya sebagai senopati dieleminir.
”Ini pendzoliman atas nama anak saya. Akan saya laporkan ke Ombudsman nanti.” ancam Brataseno, yang sedang ada masalah dengan proyek cetak sawah senilai Rp 1,9 M.
”Putusan dewan juri kahyangan tak bisa diganggu gugat.” tangkis Narada.
”Memangnya TTS di majalah.” Brataseno alias Werkudara terus ngeyel.
Putusan kahyangan ternyata memang tak bisa diamandemen. Gatutkaca yang sedang kena stroke kemudian diberi senjata topeng perunggu, bolehnya beli obralan di Pasar Senen yang baru terbakar, sedang Setija mengenakan topeng asli yakni Topeng Waja. Aneh bin ajaib, meski dalam kondisi sakit dan pakai topeng abal-abal, dia bisa mendesak Setija berkat aji Narantaka miliknya. Panasnya topeng waja bisa ditangkal dengan ajian tersebut. Akhirnya Setija dinyatakan KO dan Gatutkaca malah sembuh sama sekali dari serangan stroke-nya.
”Sudah jelas ya, Gatutkaca tetap senapati Baratayuda. Tak boleh ada gugatan lagi.” kata Patih Narada sebagai pengadil.
Setija pulang diantar sang ayah Prabu SBK dan kakeknya. Malah nantinya dia bakal kena tuntutan hukum, karena terbukti menyadap ponsel Gatutkaca penguasa Pringgodani. Begitulah resikonya punya bapak yang sedang blunder. (Ki Guna Watoncarita)



