Warga Korut makin banyak membelot ke Korsel

P\Perbatasan Korut dan Korsel. sudah puluhan ribu warga Korut membelot ke Korsel dengan berbagai cara akibat tekanan plitik dan kesulitan hidup sejak Perang Korea 1950 - 1953.

SEORANG lagi tersangka pembelot dari Korea Utara seperti dilaporkan oleh AFP, Jumat (11/10)  melintasi perbatasan maritim barat de facto di ara Laut Kuning medio September lalu dan kini ia sudah berada di Korea Selatan.

Pengumuman bersumber darimiliter Korsel itu muncul selang beberapa hari setelah Korut menyatakan akan menutup permanen dan memblokade perbatasan kedua negara dengan memutus jalan dan jalur KA yang terhubung dengan Korsel  dan membangun struktur pertahanan yang kokoh.

Sementara Kastaf Gabungan Korsel Kim Myung-soo mengatakan kepada anggota parlemen, Kamis (10/10) bahwa langkah terbaru Korut bisa jadi dimaksudkan untuk mencegah pembelotan  personel tentaranya ke Korea Selatan.

“Pasukan kami mengamankan seseorang yang dicurigai berasal dari Korut Barat Laut pada pertengahan September dan menyerahkan kepada pihak berwenang terkait,” kata militer Seoul kepada AFP.

Namun militer Korsel menyebutkan, tidak ada pergerakan luar biasa militer Korut, dan kami tidak dapat mengonfirmasi rincian lebih lanjut,” tambah mereka.

Sementara Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, mengatakan, insiden tersebut melibatkan seorang warga Korut yang melarikan diri dengan sebuah kapal kayu.

Kasus terbaru ini menyusul dua pembelotan baru-baru ini, yakni satu melintasi perbatasan darat antar-Korea yang dibentengi dengan ketat dan yang lainnya melalui zona netral di muara Sungai Han.

Kedua kejadian dilaporkan oleh Seoul, Agustus lalu. Negara Kian Pelik Korea Selatan mengatakan pada Juli bahwa Pyongyang telah menanam puluhan ribu ranjau darat baru dan membangun penghalang di daerah perbatasan, yang mengakibatkan “banyak korban jiwa” di antara tentara Korut ketika ranjau meledak.

Puluhan ribu hengkang

Puluhan ribu warga Korut melarikan diri ke Korsel sejak kedua negara di semenanjung itu terbagi oleh perang pada 1950-1953 dan sampai hari ini kedua negara serumpun itu masih berstatus perang.

Sebagian besar pembelot melakukannya melalui jalur darat ke negara tetangga, China, kemudian memasuki negara ketiga seperti Thailand sebelum akhirnya sampai ke wilayah Korsel.

Jumlah pelarian yang berhasil turun secara signifikan sejak 2020 setelah Korut memperketat perbatasannya untuk mencegah penyebaran Covid-19, yang konon dilakukan dengan perintah tembak di tempat di sepanjang perbatasan darat dengan China.

Namun, Otoritas Korsel Januari lalu mengungkapkan, jumlah pembelot yang berhasil mencapai Korea Selatan meningkat hampir tiga kali lipat pada 2023 menjadi 196 orang, dan lebih banyak diplomat, elite dan mahasiswa yang berusaha kabur.

Para ahli menilai para pembelot kemungkinan besar mengalami kondisi kehidupan yang keras, termasuk kekurangan makanan dan tanggapan yang tidak memadai terhadap bencana alam saat tinggal di Utara yang terisolasi.

Militer Korut, Rabu (9/10) mengatakan akan menutup permanen perbatasan dengan Korea Selatan. Pyongyang akan memotong jalan dan rel kereta api yang mungkin suatu hari nanti dapat memfasilitasi rute dari dan ke Korsel.

Meski Korut menyebut rencananya sebagai langkah militer besar, analis menduga hal itu kelanjutan proses yang sudah berlangsung sejak lama.

“Korea Utara menghancurkan beberapa bagian jalur kereta api Donghae Line, tampaknya dengan tujuan memutus sepenuhnya koneksinya dengan Korsel,” kata Yang Moo-jin, Presiden Universitas Studi Korea Utara di Seoul, kepada AFP.

Akan tetapi, militer Korut mengeklaim keputusannya adalah tindakan membela diri sebagai tanggapan latihan perang Korsel dan penempatan aset nuklir strategis Amerika Serikat (AS).

Titik terendah

Hubungan kedua Korea berada di salah satu titik terendah dalam beberapa tahun, bahkan Korut menutup lembaga yang didirikan untuk reunifikasi dan menganggap Korsel sebagai musuh utama.

Korut diperkirakan juga mencabut perjanjian antar-Korea yang ditandatangani pada 1991 saat pertemuan parlemen penting pada Selasa (8/10) lalu.

Namun, dalam laporannya Rabu lalu(9/10) lalu saat penunjukan menteri pertahanan baru, media pemerintah tidak menyinggung berakhirnya pakta tersebut.

Hanya saja, selang beberapa jam kemudian, militer Korut mengungkapkan rencana untuk membentengi area di perbatasannya dengan struktur pertahanan yang  kokoh.

Disebutkan pula, otoritas Korut mengirim pesan telepon kepada pasukan AS, Rabu pagi untuk mencegah kesalahpahaman dan konflik yang tidak disengaja atas proyek benteng tersebut.

Meskipun perbatasan Korut-Korsel adalah salah satu lokasi  militer yang dijaga ketat  di dunia, tidak mengurungkan niat sejumlah warga Korut  menyeberanginya ke Korsel.

Seoul pada Juli menuding Pyongyang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memasang ranjau darat dan mendirikan penghalang, sambil mengubah area tersebut menjadi tanah telantar di sepanjang perbatasan yang dijaga ketat.

Pada Juni 2024, militer Korea Selatan mengatakan, sejumlah tentara Korut yang bertugas memperkuat perbatasan menjadi  korban ledakan ranjau darat.

Tensi situasi di Semenanjung Korea sering tiba-tiba memanas diwarnai latihan-latihan militer dan uji peluncuran rudal atau senjaya nuklir oleh Korut , sebaliknya Korsel dan mitranya, Amerika Serikat melakukan latgab.

Propaganda melalui pelantang suara berukuran raksasa dilakukan pihak Korut dekat perbatasan dengan Korsel, juga aksi menerbangkan balon udara memuat sampah ke wilayah Korsel.

Sebaliknya, Korsel dengan pelantang raksasa memutar musik  K-Pop yang juga digandrungi para remaja Korut yang dilarang mengoleksi rekaman atau mengunggahnya  di gadget mereka.

Entah sampai kapan konflik di Semenanjung Korea bisa berakhir karena terus dipelihara oleh kelompok elite yang menikmati situasi ini . (AFP/Kompas/ns).

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here