JAKARTA – Dr. Pringgodigdo Nugroho, seorang konsultan ginjal dan hipertensi dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis tahap awal seringkali tidak menimbulkan gejala apapun.
Meskipun fungsi ginjal menurun sedikit, pasien tidak akan merasakan gejala dan bahkan ketika fungsi ginjal menurun hingga 25 persen, masih tidak ada gejala yang dirasakan.
Hal ini karena daya cadang ginjal manusia dalam melakukan ekskresi atau penyaringan racun adalah empat kali kebutuhan tubuh dalam keadaan normal.
Banyak pasien baru menyadari bahwa mereka menderita gagal ginjal ketika sudah terlambat karena tidak merasakan keluhan apapun sebelumnya.
“Mereka banyak yang bilang kalau selama ini merasa sehat-sehat saja, tapi, kenapa tiba-tiba gagal ginjal? Padahal, kalau gangguan kecil itu memang tidak ada keluhan. Ketika masuk gagal ginjal, baru muncul keluhan-keluhan yang membahayakan,” kata Pringgo dalam acara temu media di Jakarta, Jumat (10/3/2024).
Oleh karena itu, perlu dilakukan deteksi dini dan pemahaman terhadap faktor risiko gangguan ginjal seperti diabetes, hipertensi, peradangan ginjal, riwayat keluarga, dan gaya hidup yang tidak sehat.
Menurut Ringgo, faktor risiko utama gangguan ginjal adalah diabetes, hipertensi, peradangan ginjal, riwayat keluarga, dan gaya hidup yang tidak sehat.
Gangguan metabolisme karbohidrat pada diabetes, kata dia, dapat menyebabkan gula darah tinggi yang dapat mengganggu organ tubuh lainnya, termasuk ginjal.
Ringgo menambahkan, salah satu ciri gangguan ginjal adalah keberadaan albumin di urine yang pada kondisi normal tidak ada, yang dapat ditandai dengan urine berbusa.
Oleh karena itu, deteksi dini gangguan ginjal sangat penting dilakukan, terutama jika memiliki salah satu atau lebih faktor risiko. Upaya lain untuk mencegah gangguan ginjal adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat dengan diet seimbang dan memerhatikan konsumsi air putih yang cukup.
“Memang, minum merupakan salah satu komponen utama dalam menjaga kesehatan ginjal. Kata kuncinya adalah cukup. Kalau kurang minum, meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan batu ginjal, begitu juga kalau terlalu banyak akan berbahaya,” tuturnya.





