
BADAN Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lonjakan kasus penyakit influenza type A akibat paparan virus H3N2 di sejumlah negara di Asia seperti Indonesia, Jepang, Malaysia dan Thailand.
Di DKI Jakarta sendiri, antara Juli sampai medio Oktober 2025 tercatat hampir dua juta kasus kasus Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) mirip Covid-19, diduga influenza type A akibat paparan virus H3N2.
Semula , H3N2 adalah virus influenza yang menular pada hewan ternak babi yang terdeteksi pada 2010, dan pertama kali terdeteksi pada manusa setahuan kemudian.
H3N2 sendiri separah H1N1, tetapi mungkin lebih parah daripada beberapa jenis flu lainnya, sementara antara 2003 dan 1013 terjadi tiga musim flu yang didominasi oleh virus H3N2 dengan tingkat kematian tertinggi.
Ahli Epidemiologi dan Peneliti Kebijakan Kesehatan Dicky Budiman mengonfirmasi fenomena tersebut. “Secara regional Asia Tenggara, bahkan global tahun ini, influenza A khususnya subtipe H3N2 dilaporkan dominan di beberapa zona dan berkontribusi besar pada kenaikan kasus,” ujarnya kepada Tribunnews, Minggu(19/10).
Virus H3N2 telah menyebabkan infeksi pada manusia setiap tahun di seluruh AS. Diketahui, WHO mencatat, Thailand mengalami lonjakan besar penyakit flu dengan lebih dari 700 ribu kasus flu dan 61 kematian hingga awal Oktober 2025.
Lonjakan ini menjadi alarm bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, yang kini juga mulai melaporkan peningkatan pasien dengan gejala batuk, pilek, dan demam berkepanjangan. Di DKI Jakarta sendiri, menurut dinkes setempat, sejak Juli sampai medio Oktober lalu tercatat hampir dua juta kasus Infeksi Saluran Pernafasan Atas ((SPA) dengan gejala flu
Cepat bermutasi
Menurut Dicky, virus H3N2 memang dikenal lebih cepat bermutasi dan sering memicu gejala yang lebih berat.
“Influenza A itu menjadi penyebab dominan orang dirawat karena infeksi pernapasan dan memiliki rata-rata lama rawat inap terpanjang, rata-rata 9 sampai 10 hari,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat rumah sakit di beberapa negara mengalami beban layanan tinggi, mirip dengan fenomena yang kini mulai terasa di sejumlah kota besar Indonesia.
Lonjakan pasien dengan gejala flu yang tak kunjung sembuh juga diperparah oleh imunitas populasi yang menurun pasca pandemi serta kosirkulasi virus lain seperti RSV dan COVID-19.
Dicky menambahkan, dominasi subtipe virus influenza tidak selalu seragam antar wilayah. Tidak hanya di Indonesia dan Thailand, meningkatnya kasus batuk dan pilek juga terjadi di Malaysia dan Jepang.
Di Jepang, lonjakan kasus batuk dan pilek atau yang disebut sebagai “nasal cold” meningkat tajam sejak akhir September 2025.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan Jepang, banyak sekolah dasar dan taman kanak-kanak terpaksa meniadakan kegiatan belajar tatap muka karena banyaknya siswa dan guru yang sakit.
Penyakit ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus musiman, yang diperparah oleh perubahan cuaca ekstrem dan tingkat kelembapan udara yang tinggi.
Di Malaysia juga menlonjak
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) melaporkan bahwa jumlah pasien dengan gejala batuk, pilek, dan demam ringan meningkat hampir 40 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Virus Influenza A H3N2 mnyerang saluran pernafasan atas dan mudah menular, dan gejalanya perlu dikenali agar bisa ditangani dengan cepat dn tepat walau bisa sembuh sendiri.
Namun jka tidak ditangani dengan baika, virus influenza A dapat menyebabkan kaompalikasi terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia serta penderit penyakit kronis.
Gejalanya, nyeri otot, deam tinggi, bauk, sakit tenggorokan, sakiat kepala dan lemas dan selain dengan vaksinasi virus flu setiap tahun, untuk mencegahnya, perlu diterapkan pola hidup bersih, sering mencuci tangan, mengenakan masker di ruang publik mengosumsi makanan bergizi serta tidur cukup.




