Waspadai Banjir dan Longsor !

bencana tahun 2016
ilustrasi/DMCDD

Warga di sejumlah wilayah di Indonesia harus tetap waspada, mengingat curah hujan  tinggi  hari-hari terakhir ini baru menandai awal musim hujan yang puncaknya diprakirakan baru akan terjadi Desember sampai Februari 2017.

BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini mengenai wilayah-wilayah  yang diperkirakan akan dilanda cuaca ekstrim sampai November . Dari Pulau Sumatera, curah hujan tinggi diperkirakan akan terjadi di Riau, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung, kemudian seluruh wilayah di Pulau Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara serta Papua.

Selain sekitar kawasan Pasteur di pusat kota Bandung yang tergenang air sampai setinggi satu meter atau yang terparah selama 20 tahun terakhir  akibat  hujan deras selama dua jam (24/10), sejumlah wilayah lainnya juga terendam air. Genangan air akibat tingginya curah hujan terjadi di Tangerang pekan lalu, bahkan banjir di Palopo (22/10)  merendam lebih 1.000 rumah dan ratusan Ha tambak dan sawah siap panen.

Banjir bandang di Kab. Bandung mirip seperti yang terjadi di kawasan Pateur terulang kembali di kawasan Gedebage padaJumat lalu (28/10), dan bahkan limpasan air sampai di atas dua meter merendam ratusan rumah dan jalan raya di kawasan  langganan banjir di Kec. Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot, Minggu  (29/10).

Antisipasi terhadap kemungkinan bencana yang diakibatkannya harus terus dilakukan mengingat pada November ini musim hujan juga diperkirakan akan tiba.Selain tingginya curah hujan, cuaca ekstrim juga akan memicu angin kencang dan gelombang pasang laut.

Menurut Peneliti Cuaca dan Iklim BMKG Siswanto, cuaca ekstrim kali ini terjadi akibat penguapan di perairan Samudera Hindia tengah dan Australia barat laut yang berpengaruh terhadap cuaca di wilayah pesisir barat Sumatera dan Sumatera bagian selatan.  Anomali suhu di permukaan laut ikut mendorong massa uap air mengarah ke Indonesia bagian barat.

Perubahan pola hujan di lingkungan perkotaan, menurut Siswanto, terjadi akibat faktor perubahan iklim global dan juga di lingkungan setempat, seperti banyaknya bangunan-bangunan pencakar langit yang mempengaruhi sirkulasi udara dan juga iklim mikro di kawasan tersebut.

Memang selain kondisi alam, bencana di Indonesia sering bersumber dari ulah manusia yang tidak memiliki wawasan atau kesadaran lingkungan ,diperparah oleh lemahnya penegakan hukum dan praktik pembiaran yang sudah berlangsung sejak lama.

Banjir bandang di kawasan Pasteur , begitu pula yang melanda kawasan Gedebage baru-baru ini tidak lepas dari kerusakan yang terjadi area hulu Sungai Citarum dan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat pengalihan hutan menjadi lahan pertanian secara tidak terkendali, pembalakan liar maupun resmi serta  proyek pembangunan jalan dan pemukiman.

Menurut Ketua Ahli Bencana Indonesia (IABI) Sudibyakto, selain akibat ulah manusia yang mengubah  tatagauna dan tata ruang lahan dan curah hujan ekstrim dalam waktu  singkat, banjirdi Bandung juga dipicu oleh kontur kota Bandung yang berupa cekungan dikelilingi pegunungan. Air yang mengalir ke sistem drainase kota yang bertopografi miring, melimpah ke jalan raya dan pemukiman.

Di Gorontalo, sekitar 200 pasien RS Dunda Limboto terpaksa diungsikan karena pagar tembok rumah sakit tersebut jebol setelah diterjang luapan air sungai.  Kec. Bilato dan Talangtahola yang terendam banjir sempat terisolasi beberapa hari.

Upaya penanggulangan banjir, tanah longsor dan bencana alam lainnya di negeri ini memang harus berpacu dengan pertambahan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Jika tidak diimbangi dengan pengaturan dan peraturan yang ketat mengenai tataguna dan tata ruang, mustahil rasanya warga, terutama yang tinggal  di kawasan langganan banjir terbebas dari musibah.

Advertisement