
BANJIR dan tanah longsor di tengah cuaca ekstrim akibat siklon tropis Cempaka semakin meluas dan diprakirakan masih akan berlangsung di hari hari mendatang terutama di kawasan selatan Jawa dan barat Sumatera.
Dua belas orang tewas tertimbun tanah longsor di Pacitan, Jawa Timur, tiga orang di Kp. Jlagran, Pringgokusuman, kota Yogyakarta, sementara hujan sepanjang hari menggenangi kawasan kota dan 18 kecamatan di Kab. Gunung Kidul, dan sejumlah pohon tumbang (Selasa, 28/11).
Rabu (29/11) terjadi lagi musibah tanah longsor di Pedukuhan Ngroto, Desa Pendoworejo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulon Progo, yang menimbun empat orang, dua diantaranya berhasil diselamatkan, dua lainnya tewas.
Di Kab. Pacitan, musibah tanah longsor terjadi di Desa Klesem, Kec. Kebonagung dan Desa Sidomulyo, Kec. Ngadiroso, sedangkan banjir setinggi dua meter menerjang Desa Kebonagung, Purwosari dan Padibarong, Kec. Kebonagung.
Selain di selatan Jawa, banjir dilaporkan juga menyambangi Kab. Bolang Mongodow, Sulut, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dan 54 desa di Kab. Nagan Raya dan Pidie di Aceh.
Siklon tropis Cempaka juga muncul di pantai selatan Cilacap, ditandai gelombang setinggi empat meter sehingga membuat nelayan di sekitar Pantai Penyu menghentikan kegiatan mereka melaut.
Siklon Cempaka yang terbentuk dari dua bibit siklon di Samudra Hindia yakni di selatan Jawa dan barat daya Bengkulu diprakirakan akan memicu hujan lebat, angin kencang dan gelombang pasang hingga beberapa hari ke depan.
Menurut Kapus Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan, belum dipastikan titik terjadinya puting beliung karena skalanya sangat mikro sehingga sukar dideteksi oleh satelit atau radar.
Namun menurut dia, berbeda dengan pergerakan siklon tropis yang bisa berlangsung beberapa hari dan lintas negara, puting beliung berlangsung singkat, antara lima sampai 10 menit, kecepatan 60 – 80 Km pada radius sekitar 10 Km2.
Namun menurut catatan BNPB, intensitas puting beliung meningkat dalam kurun 15 tahun terakhir ini dan selama 2017 saja terjadi 624 kali, menyebabkan 30 korban tewas, 166 luka-luka, sekitar 13.700 mengungsi dan 12, 600 rumah rusak.
Menurut Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG, setelah terbentuk, siklon Cempaka bergerak mendekati daratan Jawa, tepatnya 50 Km sebelah timur laut Kab. Pacitan, Jatim dan kemudian menjauhi wilayah Indonesia.
Pusaran angin dinamakan badai tropis jika kecepatan angin dindingnya mencapai 62 Km per jam dan bisa menjadi siklon tropis level I jika menembus 117 km per jam dengan tekanan udara di pusatnya di bawah 1.000 mb. Semakin rendah tekanannya, semakin tinggi pusaran angin di dindingnya.
Sementara itu, embusan abu vulkanik dari kawah Gunung Agung, Bali setinggi 4.000 meter dan lontaran batu panas diiringi tremor terus-menerus selama 30 menit dengan amplitudo melebihi 23cm dari kapasitas seismograph terjadi Selasa, (28/11) pukul 15.00 Wita.
Sejauh ini sudah lebih 29.000 warga dievakuasi ke 217 lokasi pengungsian yang ditunjuk oleh para kepala desa, sedangkan guna menghindari jatuhnya korban, radius 10 km dari kawah juga sudah dikosongkan.
Sebaran abu vulkanik hingga setinggi 25.000 kaki di atas udara Bali membuat ratusan penerbangan dengan 59.000 calon penumpang dari Bandara I Gusti Ngurah Rai dibatalkan sejak Senin lalu.
Kesiapsiagaan warga dan seluruh instansi terkait seperti BNPB, BPBD, lurah sampai gubernur misalnya untuk memperbaiki tanggul atau talud, menyiapkan bantuan dan rencana evakuasi dituntut guna meminimalisir korban jiwa dan harta benda jika bencana tak terhindarkan.
Ayo gotong royong dan kerja keras mengantisipasi dan mewaspadai datangnya bencana!




