YAMADIPATI GUGAT

Bethara Yamadipati keluarkan termometer laser untuk mendeteksi suhu tubuh Koronawati dan Bethara Surya.

DALAM dunia perwayangan sudah menjadi rahasia umum bahwa Betara Surya merupakan dewa bermata keranjang. Setiap melihat wayang perempuan yang cantik, ukuran celana dalamnya mendadak berubah dari M jadi XL. Tapi anehnya, meski kahyangan Jonggring Salaka gudangnya bidadari cantik, dia tak berselera. Dia baru nafsu pada para perempuan ngarcapada. Maka setiap ada pemilihan Putri Indonesia, dia pasti menyelinap di antara para dewan juri, agar bisa melihat lenggang lenggok para peserta.

Dalam urusan perempuan, dia tak pernah ada kapoknya. Dulu skandalnya pada Dewi Kunthi dari Mandura terkuak gara-gara putri Prabu Kuntiboja itu tiba-tiba hamil. Meski Bethara Surya tanggungjawab, tapi Sang Prabu tak mau putrinya melahirkan secara konvensional. Anak tetap lahir, tapi emaknya harus tetap perawan. Jika tidak bisa skandal ini akan dilaporkan ke kahyangan, pada Bethara Guru. Resikonya, Bethara Surya harus dihukum masuk kawah Candradimuka, nerakanya kaum perwayangan.

“Oke kalau begitu, Prabu Kunthiboja. Nanti putrimu tetap perawan, bayi itu nanti lahir lewat telinga.” Kata Bethara Surya enteng saja.

“Bagaimana mungkin? Memangnya lobang telinga seperti pralon 4 inc?” protes Prabu Kuntiboja.

“Tenang saja, bagi kalangan dewa itu hal mudah. Otak ente belum nyampe teknologi begituan.”

Skandal di Mandura berhasil diselesaikan, anak Dewi Kunthi lahir lelaki benar-benar lewat telinga dan diberi nama Karno aliat Suryatmaja. Mestinya setelah kesandung kasus demikian, Bethara Surya bertindak hati-hati. Tapi ternyata tidak, dia terus berburu cewek. Gangguin anak raja takut jadi masalah, kini sasarannya artis-artis termasuk peserta Putri Indonesia.

Hanya beberapa minggu pasca nonton pemilihan Putri Indonesia, di mana ada peserta yang gagap menyebut teks Pancasila, terjadi bala bencana di kahyangan. Para dewa banyak yang terkena penyakit misterius. Ciri-cirinya batuk-batuk berkepanjangan disertai panas badan 40 drajat dan sesak napas. Tidak bikin mati, karena dewa memang bebas dari kematian. Tapi sekujur badan jadi gatal-gatal seperti habis kena krawe. Diobati minyak tawon juga tak kunjung sembuh, bahkan kalau digaruk jadi merah dengan bentuk seperti Kepulauan Sunda Kecil NTT dan NTB.

“Kakang Narada, sidang paripurna di Bale Marcakunda terpaksa dibatalkan, karena semua dewa jadi krik-krikan nggak keruan.” Titah Bethara Guru.

“Baguslah adhi Guru, ulun juga mau cari bubuk dari bata merah.” Jawab Bethara Narada, dia pikir penyakit gatal-gatal itu semacam gabagen saja.

Tim medis Jonggring Salaka yang diketuai Bethara Sambu segera mengadakan penyelidikan, apa gerangan penyebab para dewa terkena penyakit misterius itu.  Ternyata, penyakit itu juga berimbas ke ngercapada, karena banyak juga dewa yang suka keluyuran ke wilayah dunia manusia biasa. Dan karena manusia tak bebas dari kematian, begitu terkena gatal-gatal, beberapa jam kemudian langsung wasalam. Di ngercapada penyakit itu dinamakan Gabag-19. Banyak sudah yang mati karena gatal-gatal itu, dan ngercapada dinyatakan pageblug.

Untuk mengatasi wabah tersebut, kahyangan Jonggring Salaka kemudian memberlakukan lockdown. Pintu gapura Sela Matangkep dipasang plang besar-besar. Plang di dalam berbunyi: kalangan dewa dilarang ke ngercapada, sedangkan di pintu luas kalimatnya berbunyi: wayang ngercapada dilarang masuk kahyangan. Di kalangan ngercapada setiap negara juga memberlakukan lockdown lokal.

“Dewa-dewa berani nyolong-nyolong ke ngercapada, langsung diceburkan ke kawah Candradimuka.” Kata Bethara Guru berdasarkan keputusan omnibus law.

“Itu sekedar melindungi titah di ngercapada, adhi Guru. Tapi di kahyangan sendiri hingga kini belum ditemukan sumber penyakit dan penangkalnya. Bagaimana itu Tim Medis Bethara Sambu, kerjanya lelet amat.” Gerutu Bethara Narada lagi.

Sebetulnya tim Bethara Sambu sudah menemukan sumber penyakitnya. Ternyata itu sejenis virus yang bentuknya mirip bakwan, atau kembang petai cina bila dilihat pakai microskop. Dalam dunia kesehatan dinamakan Corona atau Covid-19. Merujuk informasi dari Mbah Google, penyakit itu adanya hanya di ngercapada. Padahal faktanya sekarang, virus yang bikin gatel-gatel para dewa itu telah berjangkit di kahyangan. Siapa biang keroknya?

Sementara itu Bethara Yamadipati sebagai dewa pencabut nyawa, sejak berjangkit virus Corona dia sibuknya luar biasa. Dalam kondisi normal, artinya sebelum ngercapada kena pandemic Corona, sehari paling-paling cabut nyawa wayang sehari 500. Tapi sekarang bisa seribu, sampai dia tak kenal istirahat. Padahal banyak juga wayang yang nyawanya alot, misalnya pemegang aji Pancasona, atau mereka yang punya ajian tapi belum dilepas. Paling keki menghadapi wayang yang demen silaturahmi, asal mau dicabut nyawanya, si wayang tak ada di rumah karena pergi silaturahmi melulu. Pantesan wayang yang hobinya silaturahmi jadi panjang umur.

“Pukulun Bethara Guru, mohon penyakit virus Corona dicabut. Capek nih gue  seharian njabut nyawa manusia terus, padahal nggak ada uang lemburnya.” Keluh dan protes Betara Yamadipati.

“Jenis penyakitnya sudah ditemukan, tapi penangkalnya belum. Kalau jeneng kita (kamu)  ada waktu, sekalian cari siapa pembawa virus Corona ke Jonggring Salaka.” Ujar Bethara Guru.

Bethara Yamadipati tepuk jidat. Tadinya gugat ke Jonggring Salaka untuk bisa memperoleh keringanan, kok sekarang malah dapat pekerjaan tambahan. Meski istilahnya “kalau ada waktu”, itu kan sekedar politik mau gratisan. Artinya pekerjaan sukarela tanpa honorarium. Tapi ketimbang makin berat pekerjaannya, mau tak mau Bethara Yamadipati harus melaksanakannya juga.

Iseng-iseng dia mampir ke kahyangan Ekacakra tempat tinggal Bethara Surya. Dia kaget karena tak disambut bersama istrinya, Dewi Ngruni. Justru yang ada perempuan lain yang ternyata bukan kelas bidadari. Jika bidadari selalu pakai sepatu, putri ngercapada nyokor alias bertelanjang kaki.

“Ini istrimu yang sekarang, lalu ke mana Dewi Ngruni?” selidik Yamadipati.

“Sudah kukembalikan ke orangtuanya, sesuai saran penyany Betaria Sonatha, wo… uwo!” jawab Betara Surya, yang rupanya penggemar lagu “Hati yang luka”.

Lalu ditanyakanlah siapa nama perempuan itu. Betara Surya tidak menjawab, kecuali menyerahkan KTP elektronik atas nama Dewi Koronawati. Tentu saja Bethara Yamadipati terkaget-kaget. Buru-buru dia keluarkan Termometer Laser-nya untuk mendeteksi siapa sesungguhnya perempuan ngercapada yang menyelundup ke kahyangan itu. Jangan, jangan….

Begitu ditempeli alat pendeteksi suhu tersebut, ternyata bukan saja suhu Dewi Koronawati yang melonjak drastis. Justru dari tubuhnya bermunculan virus Corona pating mbrubul banyak sekali. Saking ngeri dan takutnya, Yamadipati langsung kabur dari Ekacakra untuk melapor ke Bethara Guru.

“Pukulun Bethara Guru, alhamdulillah sudah ditemukan biangkeroknya. Pembawa virus itu ternyata Dewi Koronawati istri baru Bethara Surya. Dia telah berani menyelundupkan perempuan ngercapada tanpa izin.” Lapor Yamadipati.

“Tangkap mereka dan bawa ke sini,” perintah raja di Jonggring Salaka itu.

Bethara Yamadipati segera menyeret Betara Surya dan WIL-nya yang eks finalis Putri Indonesia. Disaksikan para petinggi di kahyangan, Betara Surya mulai diadili. Dia punya kesalahan ganda. Di samping melanggar kode etik dewa, yakni main perempuan di ngercapada, juga telah berani menyelundupkan wanita ke kahyangan. Maka hukumannya diusir dari kahyangan, sebab dihukum mati juga tidak bisa. Sedangkan Dewi Koronawati divonis hukuman mati dengan cara diceburkan ke kawah Candradimuka.

“Ini pengadilan yang tidak adil, karena saya tidak didampingi pengacara.” Protes Dewi Koronawati.

“Maaf ya, kondisi begini tak ada pengacara buka praktek. Semua takut sama virus produksimu.” Jawab Bethara Guru.

Demikianlah, meski meronta-ronta Dewi Koronawati langsung diceburkan ke kawah Candradimuka, hancur jadi abu. Tapi aneh bin ajaib, hari itu juga virus Coroba tak ada lagi di kahyangan maupun ngercapada, meski tanpa lockdown total. Kini kawula ngercapada kembali hidup normal, dan tak ada lagi dewa ke mana-mana bawa Kalpanax untuk mengobati gatal kulit. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement