ACEH – Penanganan pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh dan Medan masih berlangsung hingga saat ini. Jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh tercatat 1.810 yang tersebar di Langsa 682 jiwa, Aceh Utara 328 jiwa, Aceh Timur 409 jiwa, Aceh Tamiang 48 jiwa, Lhokseumawe 247 jiwa, dan Medan 96. Dari 1.810 jiwa tersebut terdiri dari laki-laki dewasa 1.328 jiwa, perempuan 244 jiwa dan anak-anak 238 jiwa.
Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers-nya mengatakan, Tim Reaksi Cepat BNPB masih mendampingi Kemensos dan BPBD dalam penanganan pengungsi. Kebutuhan dasar bagi semua pengungsi tercukupi hingga saat ini. “Bantuan dari Kemensos, BNPB, BPBD, Dinas Sosial, IOM, pemda, Imigrasi, NGO dan masyarakat masih mencukupi,” ujarnya sebagaimana dikutip dari situs BNPB, Kamis (28/5/2015).
Stok logistik di pos pengungsian mencukupi hingga 7-15 hari ke depan, yaitu:
– pos pengungsi Langsa untuk 15 hari.
– pos pengungsi Aceh Timur untuk 10 hari.
– pos pengungsi Aceh Utara untuk 15 hari.
– pos pengungsi Tamiang untuk 7 hari.
– pos pengungsi Kantor Imigrasi Lhokseumawe dan di Hotel Beraspati Medan sudah terpenuhi IOM dan Kantor Imigrasi.
Sutopo menambahkan, kebutuhan MCK dan air bersih juga sudah terpenuhi. Sejak Senin (25/5) telah dipasang WC knock down, hidran umum, dan tangki air dari Kemen PU Pera untuk 4 pos pengungsian (Langsa, Aceh Timur, Aceh Barat, dan Tamiang).
Selain itu, pelayanan kesehatan dilakukan 24 jam di semua tempat pengungsian dengan petugas jaga bergantian antar puskesmas yang terlibat. Setiap pos pengungsian disediakan rujukan ke rumah sakit daerah. “Stock obat sampai dengan saat ini masih aman. Sampai dengan saat ini seluruh pengungsi belum divaksinasi,” jelasnya.
Namun demikian, masih diperlukan tenda pengungsi di beberapa tempat. Di pos pengungsian di Aceh Utara (Kuala Cangkoi) perlu 8 tenda, Kota Langsa 21 unit, Aceh Timur 11 unit, dan tenda keluarga 100 unit. Pemda Aceh memerlukan bantuan dana dari pemerintah pusat.