Pemenang perang: Israel atau Iran?

Situs nuklir Iran Fordo. Iran mengeklaim, hanya mengalami kerusakan ringan akibat serangan AS dan Israel. Sebaliknya, Israel mengaku meraih kemenangan dalam perang 12 Hari (13 - 24 Juni lalu) termasuk peghnacuran tiga situs nuklir Iran. (ilustrasi"Maxar)

PERANG 12 Hari antara dua seteru bebuyutan di Timur Tengah : Iran dan Israel sementara berakhir dengan gencatan senjata yang diprakasai Amerika Serikat, 24 Juni.

Kedua belah pihak, Iran dan Israel sama sama mengeklaim kemenangan, sementara penilaian pihak lain tergantung dari pemahaman, apa yang diyakini, persepsi, terkadang juga subyektivitas keberpihakan masing-masing.

PM Israel Benjamin Netanjahu mengeklaim, Israel berhasil menorehkan sejarah dengan menghentikan program nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman nyata bagi negara dan bangsanya.

Sebaliknya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menyebutkan, serangan balasan Iran ke pangkalan AU AS al-Udeid, Qatar (23/6), adalah bentuk peringatan sekaligus tamparan bagi AS. “Setiap serangan terhadap Iran, pasti dibalas, “ ujarnya.

Media Iran juga mengaku, ketiga situs nuklir yang dibombardir AS dan Israel hanya mengalami kerusakan ringan, sedangkan para pekerja dan uranium yang dihasilkan diakui sudah diamankan ke tempat aman.

AS dan Israel sejak lama meyakini, program nuklir (damai) yang dikembangkan Iran di era 1950-an bersama AS saat hubungan AS dan Iran masih mesra dan saat ini sudah mampu mengayakan uranium sampai 60 persen dari 90 persen yang bisa dibutuhkan untuk membuat hulu ledak nuklir.

Presiden AS Donald Trump sehari setelah AU-nya  membombardir situs nuklir Fordow, Natanz dan Isfahan (22/6) mengemukakan, negaranya dan Israel telah bekerjasama dalam satu tim “menghancurkan ancaman mengerikan terhadap negara Yahudi itu”.

“AS dan Israel bekerjasama dalam satu tim. Belum pernah dilakukan tim mana pun sebelumnya. Militer Israel telah melakukan pekerjaan luar biasa. Terima kasih juga pada pilot pilot AS yang menerbangkan pesawat secara luar biasa, “ ujarnya.

Supremasi udara Israel

Perang 12 hari diawali serangan Israel (13/6) dengan memanfaatkan keunggulan udaranya, mengerahkan lebih 100 pesawat tempur dan drone, menyasar puluhan target militer di sejumlah wilayah Iran termasuk tiga reaktor nuklir Iran Fordo, Isfahan dan Natanz.

AS secara tak terduga bahkan ikut menuntaskan  serangan ke situs nuklir Iran itu (21/6) termasuk reaktor Fordo yang tersembunyi di wilayah pegunungan, 80-an meter di bawah permukaan tanah.

Tujuh pengebom siluman B-2 Spirit AU AS menjatuhkan 14 bom GBU-57 penghancur bunker (bunker buster Massive Ordnance Penetrator -MOP) berbobot 13,6 ton dan sejumlah rudal jelajah Tomahawk untuk merusak akses menuju  struktur situs.

Selain kerusakan ketiga situs nuklirnya (versi AS dan Israel), di hari pertama serangan Israel (13/6), akibat  serangan presisi intelijen Mossad, Iran kehilangan 60 elit militer baik  AB mau pun Korps Garda Revolusi (IRGC) serta dua lusinan ilmuwan nuklir

Iran tidak menerbangkan pesawat pesawat  tempur lawas  warisan AS di era-70an seperti F-14 Tomcat, F-4 Phantom, A-14 Skyhawk atau MiG-29 eks Soviet untuk menghadang pesawat pesawat Isarel atau AS.

Supremasi udara praktis di tangan Israel yang mengandalkan pesawat-pesawat tempur buatan AS generasi 5.0 terbaru seperti F-35 Lightning II, dan F-16 Fighting Falcon atau F-15 Eagle.

Akibat ketidakberdayaan pesawat pesawat dan sistem  pertahanan udara Iran yang mengandalkan rudal-rudal darat ke udara S-300 Rusia, membuat Israel tampak leluasa mendominasi langit Iran.

Presiden Trump pun  gusar atas  pernyataan Khamenei yang menyebutkan perang 12 hari tersebut telah menampar wajah AS, sebaliknya kemenangan diraih Iran.

Trump menganggap Khamenei tidak berterima kasih karena dialah  yang menyelamatkan nyawa pemimpin Iran itu  dengan meminta Israel untuk tidak membunuhnya seperti yang dilakukan pada puluhan petinggi AB Iran dan  IRGC serta puluhan ilmuwan nuklirnya.

Sebaliknya, Iran mengandalkan sekitar 3.000 rudal balistik yang tersebar di ruang ruang ruang bawah tanah di mana  sebagian besar diklaim bisa menjangkau seluruh wilayah Israel.

Sekitar 500-an rudal yang digunakan Iran untuk menyerang balik Israel pada hari yang sama serangan Israel (sejak 13 Juni) dilaporkan berhasil menimbulkan kerusakan cukup parah termasuk kota Tel Aviv dan Haifa.

Yang meyakini, menilai, dengan ribuan sisa stok rudal balistik yang masih dimilikinya, Iran mampu  membumi-hanguskan seluruh wilayah Israel, dan keluar sebagai pemenang perang.

Rudal rudal Iran kali ini berbeda dengan yang diluncurkan  saat  membalas kematian pemimpin Hizbullah Hassan Nasarallah awal Oktober 2024 yang mengakibatkan kerusakan tak berarti.

Klaim kemenangan Iran juga didasarkan fakta sebelumnya di mana ribuan rudal dan roket yang ditembakkan oleh Hamas ke wilayah Israel beberapa tahun terakhir ini nyaris tidak ada yag lolos dari sergapan sistem pertahanan udara berlapis Iron Drone, David’s Sling dan Arrow (1,2 dan 3).

Iron Dome berfungsi mencegat serangan mortir, artileri dan roket jarak dekat (4 – 70 km), Davis’s Sling (roket/rudal jarak sedang antara 70  – 300 km dan Sistem Arrow berjangkauan dari 300 – 2.400 km dan ketinggian 160 km.

Iran dalam konflik militer sebelumnya (Oktober 2024) juga meluncurkan 200-an rudal balistik ke wilayah Israel yang nyaris menimbulkan kerusakan tak berarti bagi Israel.

Mobilisasi Informasi

Di sisi lain, disamping hitung hitungan capaian atau kegagalan militer,  menang kalah di era now, juga dinarasikan oleh keandalan memobilisasi informasi yang membentuk  persepsi publik.

Informasi tentang kemenangan masing-masing, diglorifikasi,  dilebih lebihkan, kalau perlu diimbuhi narasi hoaks dan rekayasa AI, sebaliknya kekalahan direduksi, dieliminiasi  atau ditutup tutupi, kalau perlu juga memanaatkan hoaks dan AI.

Di Indonesia, misalnya mayoritas publik menganggap Iran pemenangnya, karena persepi yang dibangun mayoritas warganet di medsos dan media arus utama serta para pengamat Timur Tengah.

Penilaian sebagian pengamat lokal, terkadang tidak didasarkan atas pengetahuan mereka tentang persenjataan, taktik dan strategi militer,  tetapi lebih dari sisi politis, keberpihakan, bahkan terkesan “takut berbeda dengan persepsi publik”.

Padahal, penilaian yang fair, menelisik dari kedua sisi (cover both side), menyampaikan apa adanya walau bebeda dengan opini atau persepsi publik, merupakan pencerahan dan edukasi amat berharga.

Jadi, siapakah “real champion” Perang 12 Hari Iran-Israel? Time will tell. Waktu akan menguaknya nanti. (AFP/Reuters/berbagai sumber).

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here