
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan benda terbang misterius di atas langit di kawasan Pitara, Deok, Jawa Barat bukan alien atau benda terbang tak dikenal (UFO).
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu menegaskan, bukanlah alien atau makhluk luar angkasa.
“Benda terbang tak teridentifikasi (UFO) dalam makna wahana makhluk luar bumi (alien) tidak ada pada dunia nyata,” ujar Thomas saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (13/8).
Menurut Thomas, istilah UFO atau singkatan dari unidentified flying object atau benda terbang yang belum teridentifikasi mencakup berbagai benda yang tidak dikenal warga, seperti suar (flare), lampion dan balon udara bercahaya.
Berdasarkan analisisnya, fenomena yang terlihat di langit Depok kemungkinan besar adalah suar. “Tampaknya itu suar (flare),” kata Thomas.
Sebelumnya, sebuah video amatir yang merekam kemunculan benda bercahaya tersebut beredar di media sosial Instagram @depokterkini.
Dalam rekaman itu, tampak sebuah benda berwarna biru bergerak di langit sambil memancarkan cahaya putih terang.
“Warnanya biru kayak layangan. Apa ya? Pesawat bukan, jaraknya jauh sih tapi terang banget. Layangan apa apa ini, nggak bunyi sih,” ujar perekam video.
Tak lama kemudian, cahaya benda itu sempat meredup, lalu kembali menyala, dan p
erlahan bergerak ke arah kanan dari sudut pandang kamera.
“Mati, wah nyala lagi. Kalau di-zoom, layangan apa ya? Oh bergerak, mungkin drone, drone sih sepertinya,” tambahnya.
Menurut unggahan tersebut, peristiwa itu terjadi pada Senin (5/8) sekitar pukul 22.10 WIB.
Piring terbang
Dulu istilah yang dikenal untuk UFO adalah “piring terbang” (bahasa Inggeris flying saucer) yang digunakan oleh media berita di seluruh Amerika Serikat yang memberitakan penampakan benda aing itu oleh Kenneth Arnold
Peristiwa tersebut terjadi pada 24 Juni 1947, ketika Arnold mengklaim melihat 9 benda aneh dengan formasi bulan sabit saat melintasi Gunung Rainier di Washinton.
Ia membandingkan gerakan benda tersebut dengan “sebuah piringan jika melewati air”. Deskripsi ini disalahartikan oleh media lokal di sana bahwa Kenneth Arnold telah melihat objek piringan yang terbang.
Setelah cukup populer untuk sementara, istilah ini tidak mencerminkan penampakan yang berbeda-beda yang dikumpulkan oleh Proyek Buku Biru.
Kepala Proyek Buku Biru tersebut Edward James Rupeltala mengatakan,istilah “piring terbang” cukup menyesatkan jika digunakan pada setiap berbagai bentuk dan penampilan yang dilaporkan.
Mulai 1953, AU AS (USAF) secara resmi menggunakan istilah baru, yaitu “Unidentified Flying Object” (disingkat sebagai “UFOB”) dengan menyingkatnya sebagai “UFO” (dibaca yoo-foe).
Pemunculan UFO yang dipersepsikan sebagai wahana terbang milik mahluk lain terjadi di sejumlah tempat di dunia namun keberadaanya tetap misterius hingga hari ini.(Kompas.com/ns)




