
SEJUMLAH negara berupaya memediasi guna meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, sementara warga negara asing di Irak siap-siap dievakuasi jika situasi memburuk.
Potensi konflik dan terjadinya gelombang kekerasan mengancam kedua negara pasca tewasnya Panglima Brigade al-Quds, satuan elite Garda Revolusi Iran di Irak, Jenderal Qassem Soleimani, Jumat (3/1) lalu.
Soleimani tewas bersama komandan milisi loyalis Iran di Irak, Hashed al-Shaabi alias al-Mohandis dan wakil komandan milisi Popular Mobilization Force (PMF) pro-Iran Abu Mahdi al-Muhandis dirudal oleh drone-drone AS saat mereka berkendara keluar dari Bandara Bahgdad.
Kematian Soleimani memicu amarah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani yang bertekad melancarkan belas dendam yang lebih keras lagi, begitu pula milisi pro-Iran Hezbollah di Lebanon dan milisi Houthi di Yaman.
Iran mengancam akan menyerang 35 pangkalan AS di seluruh dunia, sebaliknya Presiden AS Donald Trump dalam twitternya sesumbar akan menghancuran 52 target di Iran secara cepat dan dengan kekuatan besar.
Melihat ancaman eskalasi konflik, Uni Eropa bersama Qatar dan Kesultanan Oman yang memiliki hubungan baik dengan AS mau pun Iran mencoba mengambil prakarsa diplomatik guna melakukan mediasi.
Menlu Qatar Sheikh Mohamed bin Abdulrahham al-Thani menemui mitranya, Menlu Menlu Iran Mohammad Zavad Zarif, Ketua Parlemen Ali Larizani dan Presiden Iran Hassan Rouhani (4/1).
Qatar yang diblokade oleh quartet Arab Saudi, Uni Emira Arab dan Mesir sejak Juni 2017 atas tudingan mendukung kelompok teroris, membangun aliansi strategis dengan Iran dan memiliki hubungan baik dengan AS, terbukti dengan kehadiran pangkalan terbesar AS di Timur Tengah, Al Udeid di negara itu.
Sementara Oman yang sukses memediasi AS dan Iran mencapai Traktat Nuklir pada 2015 walau kemudian dibatalkan sepihak oleh Presiden AS Donald Trump pada 2017 akan mengutus Menlu Yusuf bin Alawi bin Abdullah ke Teheran guna mencegah konflik terbuka AS-Iran.
Namun sebaliknya, saling ancam dilontarkan kedua belah pihak. Menlu Iran Abbas Moussavi mengisyaratkan, negaranya bakal melancarkan serangan balasan atas tewasnya Jenderal Soleimani dan bersiaga menghadapi situasi terburuk.
UE Dorong Negosiasi
Sejumlah pemimpin UE juga menyikapi ketegangan antara AS dan Iran akibat kematian Soleimani dengan meminta kedua negara menahan diri dari eskalasi konflik.
PM Inggeris Boris Johnson mengingtakan, perang bukan solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan tersebut, dan ancaman balas dendam hanya akan memicu kekerasan berikutnya.
Sedangkan Menlu Jerman Heik Maas berharap melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Iran dan mengingatkan, dialog melalui UE dan PBB penting dilakukan guna menurunkan ketegangan di kawasan itu.
Potensi konflik juga diantisipasi oleh pemerintah Korea Selatan dan Filipina terkait rencana evakuasi terhadap warga negaranya masing-masing yang yang sedang bekerja di Irak. Tercatat sekitar 1.900 WN Korsel dan 7.000-an WN Filipina di Irak.
Di Teheran, ratusan ribu massa memenuhi jalanan kota, Senin (6/1) untuk mengikuti prosesi pemakaman Soleimani. Lautan manusia juga menyelimuti area di lokasi prosesi, sekitar Universitas Teheran, begitu pula saat ia dimakamkan di kota kelahirannya, Kerman, Selasa (7/1).
Para pelayat yag berdatangan dari Teheran, Qom, Marshad dan Ahvaz berkumpul di Azadi Square di kota kelahiran Soleimani untuk memberikan penghormatan terakhir bagi sang pahlawan.
Mengenai kemungkinan perang terbuka AS dan Iran, agaknya tidak sampai kesana, selain ketimpangan kemampuan militer antara keduanya, kemungkinan juga sulit memobilisasi negara-negara lain yang berbeda kepentingannya.
Yang mungkin terjadi, serangan-serangan sporadis Iran terhadap kepentingan AS untuk memenuhi tuntutan politik dalam negeri yakni menyalurkan kemarahan rakyat terhadap AS, sebaliknya AS akan melakukan gempuran terbatas terhadap target-target asal serangan.
Kematian Solemaini jelas menimbulkan duka mendalam bagi rakyat Iran, tetapi dunia berharap, para pihak yang bertikai menghindari pertumpahan darah berikutnya. (AP/AFP/Reuters/ns)




