Oleh Prapti Leguminosa, (Psikolog, Volunteer Specialist Dompet Dhuafa).
Sejak Covid-19 muncul di Indonesia tidak lama pemerintah mengeluarkan anjuran agar segala aktivitas dilaksanakan di rumah termasuk bekerja dan belajar dari rumah. Nah.. Hari ini kita akan coba bersama-sama sharing bagaimana agar tetap dapat produktif di rumah di tengah krisis kesehatan ini.
Sharing pada kesempatan ini tidak hanya berlaku bagi rekan-rekan yang sedang WFH saja, atau yang sudah berkeluarga saja, tetapi semoga ini juga dapat bermanfaat bagi kita yang mungkin saat ini tinggal sendiri (ngekos/anak rantau), atau rekan-rekan yang memang pada dasarnya bekerja di rumah.
Seperti yang kita ketahui, hal ini dilakukan untuk memutus rantai penyebaran corona virus. Himbauan di rumah aja ini berarti bahwa kita diminta untuk stay di rumah, melakukan segala aktivitas dari rumah dalam kurun waktu yang cukup panjang. Sudah 2 minggu ini kita berupaya tinggal di rumah.
Tentu saja selama 2 pekan terakhir ini ada banyak hal yang berubah. Kita mulai melakukan penyesuaian terhadap berbagai aktivitas di rumah, bagaimana agar pekerjaan tetap jalan, target-target tercapai sesuai deadline, bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak tuntutannya juga pasti berbeda. Bagaimana tetap bisa mendampingi anak belajar di rumah ditengah kesibukan meeting dll.
Di masa sekarang ini kita sedang dihadapkan pada kenyataan bahwa “Kita menjalankan berbagai peran di satu tempat, bisa jadi diwaktu yang sama, dan dalam kurun waktu yang cukup lama”.
Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri yang butuh efort lebih dari biasanya. Bisa dikatakan kondisi ini sebagai stressor. Stressor bisa membuat performa kita makin meningkat bisa juga menurun.
Pertama-tama kita harus menyadari penuh bahwa kita sedang menjalankan berbagai peran tetapi dengan situasi berbeda dan kita perlu menyesuaikan diri. Hal yang sangat manusiawi jika dalam kondisi ini kita mudah stressfull, merasa kuwalahan, dll. Bagimana cara menyesuaikan diri? Manajemen Diri.
Belum lagi ini kita sedang berada dalam kondisi yang bisa dikatakan tidak normal, yang tentu saja sedikit banyak mempengaruhi kondisi emosi kita menjadi khawatir, ada yang bahkan stressfull hingga mengarah pada kecemasan. Kondisi emosi kita tentu memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi fisik. Bayangkan jika kondisi fisik kita saja tidak berdaya bagaimana mau produktif saat tinggal di rumah.
Produktif dalam hal ini tidak hanya berarti kita mampu menyelesaikan tugas dalam satu peran (misalnya tugas di kantor), tetapi bagaimana kita dapat menjalankan berbagai peran tersebut secara utuh, hadir penuh, dan bermakna. Oleh sebab itu, berikut beberapa tips yang bisa kita lakukan selama tinggal di rumah agar tetap produktif.
Pertama-tama kita perlu menentukan tujuan pada masing-masing peran yang sedang kita jalani. Tujuan gak usah yang muluk-muluk dan harus realistis, yang kira-kira dapat dijalankan dan dicapai dalam situasi saat ini. Kemudian buatlah rencana aktivitas. Rencana aktivitas harian harus inline dengan tujuan yang hendak dicapai.

- BUAT TARGET CAPAIAN DAN RENCANAKAN AKTIVITAS MENCAPAI TARGET
Orang tua :
- Melatih kemandirian anak ke 1
- Melatih kemampuan motorik anak ke 2
Karyawan :
- Menyelesaikan laporan mingguan
- Membuat rekap tunjangan karyawan
Volunteer :
- Membuat infografis
- Menyediakan layanan konseling
2. ATUR TEMPAT/RUANGAN YANG BERBEDA UNTUK MENJALANKAN SETIAP PERAN
Saat menjalankan berbagai peran, kita perlu transisi mental agar kita dapat melaksanakan setiap peran kita secara penuh dan tetap fokus
Lingkungan mempengaruhi perilaku sehingga kita perlu mengatur tempat atau ruangan
Saat bekerja, buatlah satu tempat yang didedikasikan untuk bekerja
3. MEMULAI HARI DENGAN AKTIVITAS YANG PRODUKTIF
Godaan terbesar saat berada di Rumah dengan mindset “LIBUR” atau “WFH” adalah melupakan rutinitas yang biasanya kita lakukan (bangun pagi, mandi, olah raga, bersiap berangkat bekerja) tergantikan dengan (banyak rebahan)
Selalu siapkan diri untuk memulai aktivitas yang mendukung berbagai peran
4. TETAPKAN WAKTU DAN KELOMPOKKAN AKTIVITAS YANG RELEVAN
Tetapkan waktu dan durasi untuk setiap peran yang akan dilaksanakan (contoh: kapan dan berapa lama saya akan di depan laptop untuk bekerja, kapan dan berapa lama saya akan melakukan aktivitas bermain melatih keterampilan motorik anak)
Kelompokkan aktivitas yang serupa dan relevan (contoh: sebagai karyawan dan volunteer saya akan banyak berhadapan di layar komputer/laptop dan butuh konsentrasi penuh, maka usahakan untuk melakukan aktivitas tersebut di waktu yang berdekatan)
Caranya adalah setelah kita menetapkan apa saja aktivitas yang akan kita laksanakan pada hari itu, tetapkan pula waktunya/durasinya, sehingga kita lebih mudah mengatur diri kita. Berapa lama saya akan fokus pada peran sebagai karyawan. Kapan waktu saya mendampingi anak belajar, dst.
Kelompokkan aktivitas yang serupa untuk dikerjakan dalam waktu berdekatan. Misalnya, peran sebagai karyawan mirip dengan peran sebagai volunteer karena membutuhkan media laptop dan duduk berkonsentrasi melayani konseling, maka saya akan mengatur kegiatan tersebut diwaktu yang berdekatan, sehingga saya tidak perlu men-set diri saya berkali-kali di situasi yang serupa, dan setelahnya saya bisa fokus menjalankan peran sebagai orangtua.
FOKUS SAAT MENJALANKAN SETIAP PERAN DAN LAKUKAN EVALUASI
- Identifikasi apa saja yang mungkin menjadi “pengganggu” saat menjalankan peran (contoh: saat bekerja fokus saya buyar saat ada chat WA)
- Untuk sementara waktu, beri diri jarak terhadap faktor pengganggu
- Beri diri jeda (refreshing) di sela-sela bekerja
- Patuh pada waktu yang telah ditetapkan/direncanakan
- Di akhir, coba evaluasi apakah target Anda tercapai dalam berbagai peran
Jika faktor pengganggu saat bekerja adalah “anak” maka Anda perlu menyepakati sejak awal dengan ananda kapan waktu bermain bersama, kapan Anda bekerja dan dia main/belajar sendiri.
Jelaskan kepada Anak kondisi saat ini dan peran-peran Anda. Membuat kesepakatan bersama-sama membuat anak merasa dilibatkan dan anak cenderung lebih mudah memahami aktivitas Anda. Dengan demikian anak juga berlatih untuk sabar menunggu, berlatih untuk mengelola perilaku dan aktivitas mereka.





